Apa itu Central Sleep Apnea?

Wajar bila seseorang mengalami jeda pendek dalam bernapas ketika sedang tidur, dan hal ini disebut sebagai sleep apnea atau [apnea tidur] (https://www.docdoc.com/info/condition/apnea-tidur). Akan tetapi, apabila jeda dalam bernapas semakin lama, yang kondisinya disebut Central Sleep Apnea, akan menjadi berbahaya dan bahkan mengancam nyawa.

Dalam Central Sleep Apnea, faktor yang memperburuk adalah otak. Ketika otak gagal mengirim sinyal ke otot yang mengatur pernapasan, jeda bernapas menjadi lebih lama, sehingga akan membahayakan. Pada kasus parah, pasien tidak akan dapat bernapas sama sekali atau pernapasannya menjadi sangat pendek, sehingga tubuh tidak mendapatkan cukup oksigen.

Ada dua jenis apnea tidur: Central Sleep Apnea (CSA) dan Apnea Tidur Obstruktif atau Obstructive Sleep Apnea (OSA). Kebanyakan orang yang menderita apnea tidur, mengalami OSA. Walaupun tidak banyak terjadi, CSA lebih berbahaya. Selain tidak dapat bernapas saat sedang tidur, kondisi ini bisa mengakibatkan berbagai komplikasi, seperti stroke dan gagal jantung.

Tidak seperti CSA di mana pernapasan terhenti disebabkan oleh otak, OSA disebabkan oleh jaringan yang menutupi saluran udara, dan mencegah udara melewatinya. Oleh sebab itu, CSA lebih sulit diobati.

Penelitian telah menunjukkan bahwa kebanyakan pasien OSA juga terjangkit oleh CSA. Namun, hal itu menjadi jelas ketika OSA telah berhasil diobati.

Penyebab Sleep apnea central

Otak mengatur otot yang digunakan dalam pernapasan. Ketika kita menghirup napas, otak mengirim sinyal kepada otot pernapasan untuk memaksa udara memasuki paru-paru. Pada kasus CSA, otak gagal mengirim sinyal tersebut. Oleh sebab itu, otot pernapasan tidak bekerja.

Untungnya, ketika otak mengetahui tubuh kekurangan oksigen, otak memaksa tubuh untuk bangun, dan hal ini efektif untuk mengulang kembali irama pernapasan. Tetapi, ketika orang tersebut kembali tertidur, hal yang sama akan terjadi kembali hingga 5 kali dalam satu jam. Akibatnya, penderita CSA dan OSA sangat merasakan kelelahan karena kekurangan tidur.

Ada enam Jenis Central Sleep Apnea:

  • CSA akibat Pengaruh Obat – Dipicu oleh obat-obatan seperti Morfin, Oksikodon, dan Kodein.

  • CSA dengan Pernapasan Cheyne-Stokes – CSA jenis ini adalah akibat dari masalah kesehatan lain, seperti stroke dan gagal jantung kongestif.

  • CSA tanpa Pernapasan Cheyne-Stokes -- CSA yang diakibatkan dari masalah kesehatan selain gagal jantung atau stroke.

  • CSA Ketinggian – Orang yang berada di ketinggian di atas 15.000 kaki (4,5 km) dapat mengalami CSA.

  • CSA Primer – Penyebab pasti dari kondisi ini tidak diketahui.

  • CSA Kompleks – CSA yang terbentuk saat dalam masa pengobatan OSA.

CSA lebih lazim terjadi pada pria, terutama yang berumur diatas 65 tahun. Orang-orang dengan kelainan jantung, tumor otak, atau pernah mengalami [stroke] (https://www.docdoc.com/info/condition/stroke) juga memiliki resiko yang lebih tinggi terkena CSA. Obat opium (opioid), ketinggian, dan alat Continuous Positive Airway Pressure (CPAP) juga menjadi faktor yang memicu resiko terkena CSA. Akan tetapi, alat CPAP juga memungkinkan untuk mengobati CSA dengan efektif.

Penting sekali bahwa gejala CSA disadari secepat mungkin. Bila tidak diobati, kondisi tersebut dapat mengakibatkan berbagai komplikasi serius seperti masalah kardiovaskular (jantung dan pembuluh darah), kelelahan akut, dan sulit berkonsentrasi.

Gejala Utama Central Sleep Apnea

Terbangun karena dengkuran Anda sendiri adalah salah satu cara terbaik untuk mengenali tanda CSA. Terbangun secara tiba-tiba merupakan hasil dari otak yang memaksa tubuh untuk bangun kerena kekurangan oksigen. Penderita CSA mengalami hal ini beberapa kali dalam satu jam. Kemungkinan mengakibatkan kelelahan akut, perasaan yang berubah-ubah, sulit berkonsentrasi, hipersomnia (rasa kantuk berlebih), insomnia (sulit tidur), dan mendengkur.

Namun, gejala-gejala tersebut tidak hanya khusus dialami penderita CSA; penderita OSA juga mengalaminya. Dokter dapat mendiagnosa apnea tidur, dengan melakukan berbagai pengujian untuk menentukan jenisnya dengan tepat.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Apabila Anda mengalami gejala yang disebutkan diatas, atau pasangan Anda menyadari bahwa Anda sering mendengkur dengan keras, Anda harus menemui dokter berkualitas yang mampu mendiagnosa dan mengobati kelainan tidur. Tetapi, jika dokter menentukan bahwa kondisi tersebut merupakan akibat dari penyakit seperti jantung, Anda dapat dirujuk ke spesialis seperti kardiolog.

Diagnosa utama yang dilakukan oleh dokter spesialis tidur ketika menentukan jenis apnea tidur disebut polisomnografi. Prosesnya melibatkan analisa kinerja jantung, paru-paru, dan otak selama sedang tidur. Pengujian ini bisa berlangsung semalaman. Bila Anda didiagnosa menderita OSA selama separuh malam awal, maka Anda harus menghabiskan separuh malam selanjutnya menggunakan alat CPAP.

Dokter juga akan menyarankan pengujian dengan alat pencitraan pada otak dan jantung saat mendiagnosa kondisi Anda. Pada kasus seperti itu, Anda juga disarankan menemui neurolog (ahli saraf) atau kardiolog (ahli jantung), khususnya bila terdapat masalah pada kedua daerah tersebut.

Ketika mengobati CSA yang disebabkan kelainan, kelainan tersebut harus diobati terlebih dahulu. Ada kesempatan bahwa mengobati kelainan tersebut, juga akan mengobati CSA. Apabila CSA disebabkan oleh obat-obatan, mengurangi penggunaan obat atau menggantinya dengan obat yang lain, akan menyembuhkan CSA.

Selain mengobati penyakit dan mengurangi obat-obatan, pasien juga harus menggunakan alat CPAP untuk mengurangi gejala CSA. Pada beberapa kasus, alat CPAP sendiri dapat mengobati CSA.

Selain CPAP, kemungkinan dokter menyarankan penggunaan alat Adaptive servo-ventilation (ASV) atau Bi-level positive airway pressure (BPAP), terutama bila CPAP tidak dapat memberikan hasil yang diharapkan. ASV mirip dengan CPAP, tetapi mampu membantu pasien yang tidak dapat bernapas selama beberapa detik yang telah ditentukan. BPAP juga bekerja dengan cara yang sama, namun tekanan yang diberikan dapat diatur sesuai dengan kebutuhan pasien.

Pengobatan lainnya termasuk mengirimkan oksigen tambahan ketika pasien sedang tidur, dan meresepkan obat-obatan tertentu seperti asetazolamid dan teofilin.

Rujukan:

  • Aurora RN, Chowdhuri S, Ramar K, et al. The treatment of central sleep apnea syndromes in adults: practice parameters with an evidence-based literature review and meta-analyses. SLEEP. 2012;35:17-40.

  • Pien GW, Pack AI. Sleep disordered breathing. In: Mason RJ, Broaddus VC, Martin TR, et al, eds. Murray and Nadel’s Textbook of Respiratory Medicine. 5th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2010:chap 79.

Bagikan informasi ini: