Apa itu Gangguan Tidur?

Gangguan tidur adalah berbagai penyakit yang mengganggu pola tidur seseorang, juga dikenal sebagai somnipathy. Gangguan tidur memiliki berbagai jenis, mulai dari ringan sampai parah. Gangguan tidur yang lebih parah dapat menganggu aspek jiwa, fisik, emosional, dan sosial dari kehidupan seseorang. Insomnia merupakan jenis gangguan tidur yang paling dikenal, namun gangguan tidur juga dapat berupa teror malam yang sering terjadi dan menggertakkan gigi saat tidur.

Untuk memastikan adanya dan tingkat keparahan gangguan tidur, dokter dapat meminta pasien untuk menjalani polysomnography atau actigraphy. Polysomnography, atau PSG, adalah tes standar untuk mencatat berbagai perubahan biofisiologi pada tubuh seseorang ketika ia tertidur. Tes ini biasanya dilakukan pada malam hari ketika pasien tertidur, namun ada banyak rumah sakit atau klinik yang dapat membantu pasien yang menderita gangguan tidur ritme sirkadian (waktu tidur yang tidak normal) dan melakukan tes ini kapan saja pasien tertidur. Tes PSG dapat mengawasi mata, otak, aktivitas otot tulang, detak jantung, dan pergerakan otot ketika pasien tertidur secara akurat.

Actigraphy dapat mengawasi siklus aktivitas pasien saat tidur. Saat tidur, pasien harus memakai sensor actimetry yang bentuknya kecil dan seperti jam tangan. Sensor actimetry akan merekam pergerakan pasien selama tidur. Informasi yang dikumpulkan akan dipindahkan ke komputer untuk dianalisis.

Gangguan tidur dapat dibedakan menjadi tiga kategori utama, yaitu:

  • Disomnia. Pasien yang menderita penyakit ini akan mengalami kesulitan tidur atau tetap tertidur. Penyakit yang termasuk dalam kategori ini biasanya ditandai dengan kesulitan memulai atau tetap tertidur, tidur berlebih, atau gangguan apapun yang dapat mempengaruhi saat, kualitas, dan jumlah waktu istirahat pasien. Insomnia dan narkolepsi adalah jenis disomnia yang paling umum.

  • Parasomnia. Penyakit di kategori ini meliputi mimpi, perilaku, emosi, pergerakan, dan persepsi yang tidak normal ketika pasien tertidur. Kebanyakan penyakit di kategori parasomnia adalah gangguan berupa “rangsangan” atau terbangun yang terjadi di antara tidur NREM atau REM dan kondisi sadar. Beberapa contoh parasomnia yang paling umum adalah berjalan saat tidur, teror malam, menggertakkan gigi atau bruxism, gangguan makan akibat tidur dan sindrom kaki gelisah.

  • Gangguan tidur ritme sirkadian. Penyakit yang termasuk dalam kategori ini adalah penyakit yang mempengaruhi kapan pasien tertidur. Pasien yang menderita jenis gangguan tidur ini memiliki kesulitan tidur serta terbangun pada waktu yang “normal” dan sesuai dengan kebutuhan sosial, pribadi, dan profesional mereka. Singkatnya, tubuh mereka memiliki waktu tidur yang tidak normal. Ada dua subkategori gangguan tidur ritme sirkadian, yaitu intrinsik dan ekstrinsik.

Penyebab Gangguan Tidur

Ada berbagai faktor yang memengaruhi pola tidur seseorang. Penyakit ini tidak hanya mengganggu saat istirahat pasien namun juga berpengaruh terhadap tubuh, pikiran, fungsi, serta hubungan pasien dengan orang lain.

Penyebab sesungguhnya dari gangguan tidur mungkin sulit ditemukan, namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi pola tidur, yaitu:

  • Rasa sakit dan gangguan pada tubuh (mis. nyeri pada organ dalam dapat membangunkan pasien dan menyebabkan pasien sulit tidur kembali)
  • Berbagai penyakit dan gangguan kesehatan (mis. gangguan pernapasan akibat asma dapat mengganggu tidur)
  • Faktor psikologis (depresi atau kegelisahan akan mempengaruhi pola tidur)
  • Faktor lingkungan lainnya (mis. konsumsi obat terlarang dan alkohol)

Gangguan tidur juga dapat disebabkan oleh emosi pasien, seperti kecemasan seseorang akan pekerjaan, hubungan dengan orang lain, dan status sosial. Kepekaan yang ringan atau tinggi terhadap cahaya, bunyi, dan perubahan suhu juga dapat menyebabkan gangguan tidur.

Gangguan tidur kronis dapat disebabkan oleh tekanan berat, penyakit yang menyebabkan depresi, atau rasa ketidaknyamanan yang dialami ketika pasien tertidur. Faktor genetik juga dapat sangat mempengaruji risiko seseorang memiliki gangguan tidur. Orang yang bekerja pada malam hari juga lebih berisiko mengalami gangguan tidur dan perubahan jam tidur karena pekerjaan mereka memaksa mereka untuk tetap terbangun ketika tubuh mereka membutuhkan tidur.

Proses penuaan yang alami juga dapat menyebabkan gangguan tidur, walaupun para ahli belum sepenuhnya yakin apakah meningkatnya risiko gangguan tidur disebabkan oleh pertambahan usia atau obat-obatan yang dikonsumsi untuk menjaga kesehatan.

Gejala Utama Gangguan Tidur

Gangguan tidur dapat menyebabkan berbagai gejala, bahkan gejala yang tidak terlalu terlihat. Berikut ini adalah beberapa gejala umum dari gangguan tidur:

  • Sangat mengantuk pada siang hari
  • Sering marah tanpa alasan yang jelas pada siang hari
  • Tiba-tiba tertidur saat duduk dan melakukan aktivitas lain, seperti membaca atau menonton TV
  • Sulit berkonsentrasi dalam melakukan kegiatan tertentu di rumah, tempat kerja, atau sekolah
  • Sangat mengantuk dan tertidur ketika menyetir
  • Sering terlihat mengantuk
  • Sulit mengingat atau menyimpan informasi
  • Berkurangnya reaksi atau respon terhadap rangsangan
  • Emosi yang tidak stabil
  • Membutuhkan rangsangan kimia (dalam bentuk kafein) untuk tetap terbangun
  • Mendengkur
  • Kesulitan bernapas saat tidur
  • Sulit tidur
  • Teror malam atau sering mimpi buruk
  • Mengompol
  • Sering terbangun pada malam hari

Apabila Anda sering mengalami gejala-gejala di atas, sebaiknya Anda menemui dokter Anda.

Siapa yang Harus Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang mengalami gangguan tidur atau merasa memiliki pola tidur yang tidak normal harus menemui dokter ahli penanganan gangguan tidur. Dokter-dokter ini telah mendapatkan sertifikasi dan pelatihan untuk menangani berbagai gangguan tidur. Dokter yang ahli dalam bidang ini harus sudah mendapatkan sertifikat dari American Board of Sleep Medicine atau organisasi sejenis.

Dokter ahli gangguan tidur dapat menyarankan berbagai jenis pengobatan dan penanganan gangguan tidur, seperti terapi, operasi, atau obat-obatan. Mereka juga dapat merujuk pasien pada psikiater atau dokter ahli lainnya untuk menangani penyebab utama dari gangguan tidur. Pengubahan gaya hidup pasien juga dapat digunakan sebagai pengobatan atau penanganan gangguan tidur; pasien kemungkinan dapat tidur dengan baik dan teratur setelah mengubah gaya hidup mereka.

Rujukan:

  • Ancoli-Israel S, Shochat T. Insomnia in older adults. In: Kryger MH, Roth T, Dement WC, eds. Principles and Practice of Sleep Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 135.
  • Juergens TM, Barczi SR. Sleep. In: Duthie EH, Katz PR, Malone ML, eds. Practice of Geriatrics. 4th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2007:chap 22.
  • National Heart, Lung, and Blood Institute. How Much Sleep is Enough? Available at: www.nhlbi.nih.gov. Updated February 22, 2012. Accessed October 22, 2014.
Bagikan informasi ini: