Apa itu Kerusakan Gigi Anak?

Kerusakan gigi anak adalah kondisi di mana gigi anak mengalami masalah seperti retak, patah, rompal, atau belah. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh trauma akibat kecelakaan; seperti jatuh atau tersandung. Kerusakan pada gigi bisa saja ringan atau parah, dan luas kerusakannya akan menjadi pertimbangan utama saat memutuskan metode perawatan yang harus digunakan.

Anak-anak mengalami dua jenis pertumbuhan gigi pada usia yang berbeda: gigi susu dan permanen. Gigi susu biasanya menunjukkan tanda kerusakan akibat penggunaan seperti rompalan-rompalan kecil, terutama pada tepi-tepi gigi. Walaupun tidak mengkhawatirkan, gigi susu dengan rompalan dan patahan yang lebih besar akan membuat anak merasa tidak nyaman, sehingga perawatan pun diperlukan. Sebaliknya, segala bentuk kerusakan pada gigi permanen harus diatasi secepat mungkin.

Penyebab Kerusakan Gigi Anak

Kerusakan gigi anak dapat disebabkan oleh beberapa faktor, tetapi paling sering disebabkan oleh benturan akibat jatuh atau tersandung. Terkadang, rompalan kecil pada gigi karena penggunaan normal (yang sangat biasa terjadi pada gigi susu) dapat membuat gigi rapuh dan lebih mudah patah hanya dengan sedikit tekanan.

Perawatan gigi yang tidak tepat juga menyebabkan gigi menjadi rusak. Anak-anak belum dapat merawat gigi dengan benar. Mereka masih belajar untuk menyikat dan merawat gigi mereka, sehingga kasus di mana gigi menjadi rapuh tidak dapat terhindarkan. Kemungkinan gigi menjadi rusak pun akan lebih besar.

Apabila gigi anak patah atau rompal, orang tua dianjurkan untuk menyuruh anak berkumur dengan air hangat. Jika terdapat cedera akibat benturan, gunakanlah kompres dingin untuk membantu meredakan peradangan. Simpanlah serpihan gigi yang patah dan bawalah ke dokter gigi saat pemeriksaan.

Gejala Utama Kerusakan Gigi Anak

Pada umumnya gigi dapat menahan benturan atau tekanan, namun benturan yang sangat kuat dan hanya terfokus pada satu bagian saja akan dapat membuat gigi patah.

Kerusakan pada gigi dikelompokkan ke dalam empat tingkatan, berdasarkan luas atau tingkat keparahannya:

  • Tingkat 1 – Pada tingkat ini adalah bentuk kerusakan gigi yang paling ringan, dan hanya berdampak pada lapisan email paling luar. Hal ini berarti kerusakan hanya berupa rompalan kecil atau retakan dangkal. Beberapa kasus kerusakan pada tingkat ini mungkin tetap terlihat buruk, tetapi biasanya tidak terlalu menyakitkan dan tidak membuat gigi menjadi sensitif. Terutama, bila sempalan atau retakan sangat kecil. Akan tetapi, tetap ada risiko bahwa kerusakan kecil tersebut dapat menjadi besar, bahkan mengakibatkan masalah gigi yang lebih kompleks. Oleh karena itu, akan lebih baik untuk tetap mencari perawatan untuk kondisi ini.

  • Tingkat 2 – Kerusakan pada tingkat ini ditandai oleh retakan yang lebih besar. Biasanya terjadi pada lapisan dentin yang dapat menyebabkan rasa sensitif terhadap suhu dingin dan panas. Akan tetapi, rasa sensitif akan berlalu dengan sendirinya atau mereda dengan seiring waktu.

  • Tingkat 3 – Pada tingkat ini bentuk kerusakannya lebih serius, yaitu ketika retakan mencapai pulpa gigi. Bahaya utama pada kasus ini adalah pulpa gigi yang rentan terhadap bakteri. Akan tetapi, bila pulpa menerima cukup banyak pasokan darah, umumnya gigi akan sembuh dengan baik tanpa perlu melakukan perawatan saluran akar gigi. Selain itu, semakin muda usia gigi dan semakin cepat kerusakannnya diatasi, semakin besar pula kesempatan gigi sembuh tanpa hambatan. Apabila sebagian besar mahkota gigi patah, terapi saluran akar diperlukan agar mahkota gigi tiruan dapat dipasang. Perawatan pun akan tergantung pada seberapa besar pulpa gigi terbuka.

  • Tingkat 4 – Walaupun jarang terjadi, kerusakan gigi anak pada tingkat ini adalah yang paling parah. Kerusakannya berupa retakan-retakan vertikal yang mencapai akar gigi, sehingga sulit diperbaiki. Kenyataannya, pada banyak kasus seperti ini, perawatan yang hanya mungkin dilakukan adalah mencabut gigi yang rusak tersebut.

Siapa yang Perlu Ditemui & Jenis Perawatan yang Tersedia

Gigi anak yang rusak dapat diberi perawatan oleh dokter gigi yang telah melalui pelatihan dan memiliki ketertarikan khusus dalam mengatasi kasus pediatri (anak). Orang tua dapat memilih pergi ke spesialis anak untuk mendapat rujukan atau langsung mendatangi dokter gigi.

Ada beberapa teknik yang dapat digunakan untuk mengatasi gigi yang rompal atau patah, tetapi spesialis anak selalu memilih teknik yang paling aman untuk pasien anak-anak. Selain itu, metode perawatan tertentu akan dipilih berdasarkan jenis gigi yang mengalami kerusakan. Bila yang rusak adalah gigi susu, keluhan utamanya hanyalah penampilannya yang buruk, karena gigi tersebut pada akhirnya akan lepas dan digantikan oleh gigi permanen. Oleh karena itu, perawatan yang lebih bersifat konservatif (mempertahankan gigi) harus digunakan. Apabila sang anak masih sangat kecil, misalnya baru berusia 2 tahun, disarankan untuk mencari bentuk perawatan konservatif, terutama untuk meredakan gejala yang dirasakan; seperti rasa sensitif dan tidak nyaman. Tetapi, apabila usia anak sudah mendekati usia pertumbuhan gigi permanen, sebagian dokter gigi akan menyarakan pencabutan gigi yang rusak dan membantu orang tua untuk melindungi gigi permanen yang nantinya akan tumbuh.

Akan tetapi, bila gigi yang rusak adalah gigi permanen, metode yang lebih agresif dapat digunakan demi mempertahankan gigi. Metode agresif yang digunakan adalah: * Tambalan komposit atau bonding (perekatan) gigi – Sangat efektif untuk rompalan besar, tindakan ini dilakukan dengan memberikan bahan pengisi pada gigi yang rusak. * Restorasi komposit – Tindakan ini dilakukan untuk melapisi dentin dan meredakan rasa sensitif, sekaligus memperbaiki penampilan gigi yang rusak. * Ekstrusi ortodontik – Tindakan ini merupakan perawatan untuk kerusakan gigi tingkat 4. * Perawatan saluran akar gigi – Tindakan ini hanya dibutuhkan bila pulpa gigi terbuka. * Mahkota gigi – Mahkota gigi tiruan digunakan untuk gigi dengan rompalan besar. * Veneer – Veneer adalah lapisan tipis berbahan porselen dan komposit yang dapat melapisi gigi.


Mengatasi gigi yang rusak tidak hanya sebatas pada perawatan saja. Trauma yang menyebabkan kerusakan mungkin masih menimbulkan masalah, seperti membuat gigi menjadi bernanah atau masalah lainnya. Oleh sebab itu, penting bagi anak-anak atau orang dewasa untuk melakukan skrining (pemeriksaan) di mana gigi yang sebelumnya rusak akan dapat dipantau.

Rujukan:

  • Bader JD, Rozier G, Harris R, et al. Dental caries prevention: The physician's role in child oral health systematic evidence review [internet]. Rockville, Md. Agency for Healthcare Research and Quality (US); 2004 Apr.

  • Chou R, Cantor A, Zakher B, et al. Preventing dental caries in children <5 years: systematic review updating USPSTF recommendation. Pediatrics. 2013:132(2); 332-50.

Bagikan informasi ini: