Apa itu Gingivostomatitis?

Gingivostomatitis adalah permasalahan pada mulut yang umum terjadi. Penyakit ini biasanya ditandai dengan pembengkakan dan luka di mulut serta gusi. Gingivostomatitis seringkali disebabkan oleh bakteri dan beberapa jenis virus. Selain itu, penyakit ini lebih sering terjadi pada anak-anak dan juga pada orang yang tidak menjaga kebersihan mulut. Sebagian besar infeksi gingivostomatitis merupakan kasus yang ringan, namun ada juga beberapa kasus berat yang terjadi dan bisa terasa sangat menyakitkan.

Gingivostomatitis tidak menyebabkan kondisi yang mengancam jiwa, tapi penyakit ini bisa membuat penderitanya merasa tidak nyaman. Ada beberapa gejala yang mungkin timbul pada anak yang menderita gingivostomatitis, seperti merasa gelisah atau tidak mau makan minum.

Gingivostomatitis biasanya akan menghilang sendiri setelah satu atau dua minggu, baik diobati maupun tidak. Pengobatan yang dilakukan untuk mengobati gingivostomatitis berfokus pada penanganan gejalanya, bukan pada infeksinya. Gingivostomatitis bisa dicegah dengan menjaga kebersihan mulut, serta sebaiknya menghindari kontak fisik dengan orang yang terkena atau menunjukan gejala gingivostoatitis. Karena seperti halnya dengan infeksi virus atau bakteri lainnya, tindakan mencegah selalu lebih baik daripada mengobati.

Penyebab Gingivostomatitis

Virus herpes simpleks tipe 1 atau juga biasa disebut HSV-1, merupakan virus yang telah menyebabkan lebih dari 90% kasus gingivostomatitis. Penyakit ini juga bisa dikarenakan oleh virus coxsackie. Banyak pasien yang terkena infeksi ini karena tidak menjaga kebersihan mulut atau bisa juga karena melakukan kontak fisik dengan seseorang yang memiliki gingivostomatitis. Kontak fisik yang biasanya terjadi adalah ketika sedang berciuman. Namun, seseorang juga bisa terinfeksi jika mereka menggunakan barang-barang pribadi dari pasien gingivostomatitis. Penting untuk dicatat bahwa penyakit ini sangat menular. Gingivostomatitis bisa menyebar dengan cepat dalam sebuah rumah tangga. Namun, seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa gingivostomatitis akan menghilang dengan sendirinya setelah 7 sampai 14 hari. Maka sebaiknya pasien gingivostomatitis tidak melakukan segala bentuk kontak fisik dengan orang lain sampai mereka benar-benar pulih.

Gejala Utama Gingivostomatitis

Penyakit gingivostomatitis bisa terjadi pada siapa saja dari segala usia. Namun yang perlu diperhatikan ialah jika kasus ini terjadi pada bayi, karena sering kali keliru dengan gejala baru tumbuh gigi. Kekeliruan ini bisa terjadi karena ketika gigi bayi baru tumbuh biasanya akan menampilkan gejala yang mirip dengan gingivostomatitis. Gejala yang dimaksud di antaranya ialah mudah tersinggung, sulit tidur, dan sulit makan. Oleh karena itu, penting bagi para orang tua untuk tidak segera mengasumsikan atau menyimpulkan sendiri kondisi anak ketika menunjukan gejala-gejala tersebut. Sebaiknya para orang tua segera berkonsultasi dengan dokter gigi anak atau dokter anak.

Gejala utama dari gingivostomatitis ialah tidak mau makan atau minum air putih. Hal ini bisa terjadi karena luka yang terjadi di mulut mereka sehingga menyebabkan pasien sulit untuk menelan. Gejala tidak mau makan serta minum patut menjadi perhatian karena dapat dengan mudah menyebabkan pasien mengalami dehidrasi. Dehidrasi sendiri bisa menjadi kondisi yang sangat serius dan bisa berujung pada kematian terutama pada anak kecil. Selain itu, pasien gingivostomatitis juga sering mengalami demam yang menyebabkan perasaan tidak nyaman dan mudah tersinggung.

Gejala lain dari gingivostomatitis adalah mudah merasa lelah disertai dengan penurunan napsu makan yang buruk, maka akhirnya pasien akan merasa sulit untuk bergerak karena tidak memiliki energi. Bau mulut juga menjadi gejala yang umum terjadi, karena selain sukit makan adanya adanya luka di mulut pasien membuat mereka kesulitan untuk menyikat gigi secara teratur.

Mulut dan kulit kering, pusing, mual, dan konstipasi adalah beberapa gejala yang juga sangat umum terjadi. Namun, ada juga beberapa kasus di mana pasien tidak menunjukkan gejala apapun selain munculnya luka di mulut dan gusi. Jika kasus seperti itu terjadi, maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter. Dokter akan menilai kondisi yang terjadi dan memberikan resep obat jika diperlukan. Tindakan pengobatan ini dapat mencegah agar infeksi tidak menyebar atau meningkat.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Sebagian besar kasus gingivostomatitis tidak membutuhkan pengobatan untuk mengatasinya. Karena banyak pasien yang merasa menjadi lebih baik dengan sendirinya dalam satu atau dua minggu tanpa pengobatan. Namun, tidak ada salahnya berkonsultasi dengan dokter karena bisa membantu mencegah terjadinya komplikasi, dan yang paling serius adalah mencegah dehidrasi (terutama bagi anak kecil).

Obat yang sering digunakan untuk mengatasi gingivostomatitis ialah obat penghilang rasa sakit dan agen antivirus yang disebut asiklovir. Anti virus ini diketahui bisa mengurangi demam dalam tiga hari dan juga dapat memperbaiki luka dalam seminggu. Namun, penting untuk diketahui bahwa pengobatan dengan mengunakan Acyclovir mungkin memiliki beberapa efek samping. Termasuk diantaranya rasa mual, sakit kepala, dan perasaan tidak nyaman dan kesakitan.

Sama halnya dengan semua bentuk penyakit, ada beberapa cara untuk mengurangi risiko terkena gingivostomatits. Metode yang paling dianjurkan ialah pencegahan, terutama di dalam rumah tangga dengan anak-anak ataupun orang dewasa yang terkena penyakit ini. Untuk mencegah terjaadinya infeksi, seseorang harus mempraktikkan kebersihan mulut setidaknya dua kali sehari. Menyikat gigi setiap habis makan dan sebelum tidur sangatlah penting untuk menjaga kebersihan mulut.Selain itu permasalahan gigi, seperti gigi rusak dan plak sebisa mungkin harus dicegah atau jika memang sudah terkena maka harus segera ditangani juga.

Upaya pencegahan yang paling penting dan harus diingat ialah untuk menghindari kontak fisik dengan pasien gingivostimatitis. Karena penyakit ini sangat menular dan bisa berpindah dari satu orang ke orang lain dengan sangat cepat. Selain kontak fisik secara langsung, penting juga untuk menghindari penggunaan barang pribadi pasien gingivostomatitis seperti alat makeup, pisau cukur, dan bahkan perak dan gelas.

Rujukan:

  • US National Library of Medicine; Gingivostomatitis; https://medlineplus.gov/ency/article/001052.htm

  • Ran D. Goldman MD FRCPC; “Acyclovir for herpetic gingivostomatitis in children”; https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4865337/

  • Amir H. Ajar BSc, DDS, Peter J. Chauvin DDS MSc FRCDC; “Acute Herpetic Gingivostomatitis in Adults: A Review of 13 Cases, Including Diagnosis and Management”; https://www.cda-adc.ca/jcda/vol-68/issue-4/247.pdf

Bagikan informasi ini: