Apa itu Sindrom Guillain-Barré?

Sindrom Guillain-Barré (GBS) adalah salah satu kelainan langka yang dapat menjadi masalah kesehatan serius. Kelainan ini terjadi ketika sistem kekebalan tubuh menyerang bagian-bagian dari sistem saraf perifer yang berfungsi mengirimkan sinyal dari otak ke otot. Akibatnya, otot menjadi lemah. Selain itu, pasien dengan kelainan ini juga merasakan sensasi kesemutan di sekujur tubuh mereka. Gejalanya memengaruhi kaki terlebih dahulu, kemudian menyebar ke bagian tubuh yang lain. Kelainan ini dapat memperburuk dengan cepat dan menyebabkan kelumpuhan hanya dalam beberapa hari atau minggu setelah pertama kali terjadi.

GBS bisa memengaruhi saraf manapun di dalam tubuh. Dengan demikian, kondisi ini dapat mengganggu denyut jantung, tekanan darah, dan bahkan pernapasan. Akhirnya, masalah kesehatan serius pun muncul seperti detak jantung abnormal dan terbentuknya bekuan darah. Bekuan darah sendiri bisa meningkatkan risiko serangan jantung atau stroke. Ada juga masalah kesehatan lain yang dapat dipicu kelainan ini, di antaranya infeksi dan tekanan darah yang abnormal. Oleh karena itu, GBS diperlakukan sebagai kondisi darurat medis.

Saat ini belum ada obat untuk kelainan ini. Tapi, terapi yang mengobati gejala dan membantu pasien pulih lebih cepat sudah tersedia.

GBS dapat memengaruhi siapa saja dari segala usia atau jenis kelamin. Namun, sangat jarang terjadi. Kelainan ini hanya dialami oleh satu dari setiap 100.000 orang. Para peneliti belum menemukan penyebab pasti sindrom ini. Namun, dalam banyak kasus ditemukan bahwa GBS terjadi setelah infeksi virus tertentu.

Penyebab Sindrom Guillain-Barré

GBS terjadi bila sistem kekebalan tubuh mengalami malfungsi dan menyerang saraf di tubuh. Akan tetapi, apa yang menyebabkan sistem kekebalan tubuh berlaku demikian belum tidak diketahui.

Biasanya, sistem kekebalan tubuh menyerang organisme asing. Sistem ini membantu melindungi tubuh dari banyak penyakit. Namun, pada penderita GBS, sistem kekebalan tubuh menyerang selubung myelin dan juga akson. Akson adalah perpanjangan sel saraf yang membawa sinyal ke otak. Sementara, selubung myelin membantu mentransmisikan sinyal saraf ke otak lebih cepat. Ini juga membantu mentransmisikan sinyal dari jarak jauh. Jika selubung myelin rusak, sinyal syaraf yang datang dari kaki dan lengan akan memakan waktu lebih lama untuk mencapai otak. Inilah alasan mengapa gejala, seperti kesemutan, memengaruhi anggota gerak terlebih dahulu.

Dalam banyak kasus, GBS berkembang pada orang-orang yang memiliki beberapa jenis infeksi. Ini termasuk HIV (virus yang menyebabkan AIDS) serta virus Epstein-Barr dan influenza. Beberapa peneliti percaya bahwa infeksi tersebut mengubah sifat sel tertentu sehingga sistem kekebalan tubuh tidak dapat lagi mengenalinya. Faktor risiko lainnya adalah operasi dan mycoplasma pneumonia serta vaksinasi tertentu.

Gejala Utama Sindrom Guillain-Barré

Pada sindrom GBS, saraf yang mentransmisikan sinyal ke otot dan menghubungkan otak ke bagian tubuh lainnya mengalami kerusakan. Hal ini mencegah sinyal dari otak mencapai otot, sehingga otot melemah. Pada kasus yang parah, hal ini dapat menyebabkan kelumpuhan.

Seringkali, GBS tidak memiliki tanda peringatan. Gejalanya bisa berkembang sangat cepat dan cenderung memburuk hanya dalam beberapa hari. Dalam beberapa kasus, gejala memburuk dalam hitungan jam. Gejala awalnya adalah sensasi kesemutan di kaki. Hal ini terjadi karena saraf gagal mentransmisikan sinyal dari otak ke bagian tubuh yang paling jauh. Kemudian, gejalanya dengan cepat menyebar ke anggota gerak bagian atas atas. Bisa dirasakan di tangan dan lengan. Gejala awal akan diikuti oleh lima masalah berikut:

  • Masalah dengan pernapasan

  • Masalah dengan menelan, mengunyah, dan berbicara. Penderita juga mengalami gerakan mata dan wajah yang tidak normal.

  • Nyeri seluruh tubuh - Rasa sakit sering memburuk di malam hari.

  • Kaki lemas /lemah - Hal ini bisa menyebabkan pasien lemas. Bila kondisinya memburuk, pasien tidak akan bisa berjalan atau menaiki tangga sendiri.

  • Masalah dengan pengendalian kandung kemih - Hal ini dapat menyebabkan buang air kecil tanpa disengaja. Pasien mungkin tidak bisa sampai ke kamar mandi pada saat mereka merasakan dorongan untuk buang air kecil.

  • Denyut jantung meningkat - Pasien mungkin merasa jantung mereka berdegup kencang.

  • Sakit punggung bagian bawah yang parah

  • Kelumpuhan - Hal ini terjadi pada kasus yang parah.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

GBS memiliki banyak kesamaan gejala dengan gangguan lain yang memengaruhi sistem saraf. Hal ini dapat menyulitkan dokter untuk mendiagnosisnya pada tahap awal.

Selama pemeriksaan, pasien akan ditanya mengenai:

  • Gejala - Dokter akan memerlukan daftar lengkap gejala yang dialami pasien. Ini termasuk gejala yang mungkin tidak tampak terkait dengan gangguan tersebut. Pasien juga harus memberitahukan kapan saat pertama kali gejala muncul.

  • Riwayat medis - Penting bagi dokter untuk mengetahui apakah ada riwayat infeksi virus atau bakteri tertentu. Pasien juga akan ditanya apakah mereka baru saja menjalani operasi.

Dokter akan menduga pasien terkena GBS jika gejalanya memengaruhi kedua sisi tubuh dan jika gejalanya berkembang terlalu cepat.

Spinal tap adalah sebuah prosedur tes yang dilaksanakan untuk mengonfirmasi diagnosis. Tes ini mendeteksi perubahan jumlah zat yang ditemukan pada cairan serebrospinal (CSF). Untuk tes ini, jarum jenis khusus dimasukkan ke bagian bawah punggung. Kemudian, sejumlah kecil CSF akan diambil untuk diteliti. Selain itu, studi lain yang mengukur aktivitas saraf pada otot (elektromiografi dan studi konduksi saraf) juga dapat dilaksanakan.

Tidak ada obat yang tepat untuk mengobati GBS. Pengobatan yang tersedia lebih digunakan untuk mengurangi intensitas gejala serta membantu pasien pulih lebih cepat. Perawatan ini termasuk terapi imunoglobulin dosis tinggi dan pertukaran plasma.

Dalam terapi pertukaran plasma, darah yang diambil dari pasien akan diproses sehingga porsi cairannya bisa dikeluarkan. Sel darah merah dan putih kemudian kembali ke tubuh. Proses yang sama digunakan dalam terapi imunoglobulin. Satu-satunya perbedaan adalah bahwa darah diambil dari donor bukan tubuh pasien. Kedua terapi diyakini bisa memblokir antibodi yang menyebabkan kerusakan pada saraf perifer.

Gejala GBS dapat diobati dengan:

  • Penghilang rasa sakit - Ini berguna karena kebanyakan pasien menderita rasa sakit yang hebat.

  • Antikoagulan - Pasien lumpuh memiliki risiko pembekuan darah lebih tinggi daripada rata-rata. Mereka diberi obat untuk mencegah terjadinya penggumpalan darah. Ini membantu mengurangi risiko serangan jantung dan stroke.

  • Terapi fisik (PT) - Ini membantu pasien mendapatkan kembali kekuatan otot lebih cepat.

Dengan pengobatan dini, sebanyak 80% pasien GBS dapat sembuh total enam bulan setelah diagnosis pertama mereka. Ini berarti mereka mendapatkan kembali kekuatan otot mereka dan mampu bergerak normal tanpa bantuan. Namun, sekitar 10% pasien butuh waktu lama untuk pulih atau tidak dapat pulih sepenuhnya.

Rujukan:

  • Salmon DA, et al. Association between Guillain-Barre syndrome and influenza A (H1N1) 2009 monovalent inactivated vaccines in the USA: A meta-analysis. The Lancet. 2013;381:1461. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. (2011). Guillain-Barré syndrome fact sheet [Fact sheet]. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Guillain-Barré-Syndrome-Fact-Sheet

  • Guillain-Barré syndrome. (2017). https://ghr.nlm.nih.gov/condition/guillain-barre-syndrome

Bagikan informasi ini: