Apa itu Ketulian?

Seseorang yang tuli tidak dapat mendengar dengan baik. Kondisi ini dapat bersifat ringan, sedang, atau berat. Pada kondisi ringan, penderita memiliki masalah untuk memahami pembicaraan. Sering kali, mereka perlu meminta orang untuk berbicara secara perlahan atau lebih kencang. Mereka pun kesulitan untuk menangkap suatu percakapan saat di sekitar kebisingan. Orang dengan kondisi tuli sedang memerlukan alat bantu dengar. Sedangkan orang dengan tuli berat tidak dapat mendengar apa pun. Untuk berkomunikasi dengan orang lain, mereka mengandalkan membaca gerak bibir atau memakai bahasa isyarat.

Ketulian dapat terjadi pada anak-anak dan orang dewasa. Kondisi ini dapat berkembang pasca terjadinya infeksi telinga, faktor penuaan, dan pada orang yang terbiasa berada di tempat yang bising. Beberapa orang terlahir dengan kondisi tuli. Beberapa jenis kondisi ini dapat disembuhkan dengan obat-obatan dan prosedur sederhana. Di sisi lain, ada kondisi yang tidak dapat disembuhkan. Namun, pasien tetap bisa mendapatkan kembali kemampuan mendengarnya dengan menggunakan alat bantu dengar atau implan koklea.

Penyebab Ketulian

Ketulian dapat disebabkan oleh:

  • Genetik - Tuli merupakan kondisi turun-temurun. Seseorang dapat mewarisi gen abnormal dari salah satu orang tua dan terlahir dengan kondisi tuli. Banyak bayi terlahir dengan kondisi tuli yang disertai dengan abnormalitas lain. Ini termasuk masalah keseimbangan dan penglihatan, serta gangguan jantung.

  • Kebisingan - Terpapar suara yang sangat kencang dapat merusak struktur telinga di dalam telinga yang sensitif. Beberapa kegaduhan atau kebisingan yang membahayakan adalah ledakan, konser musik yang gaduh, dan suara tembakan.

  • Infeksi - Infeksi telinga yang menyebabkan telinga dalam membengkak membuat seseorang tidak mampu mendengar dengan baik. Pendengarannya akan membaik seiring dengan infeksi yang sembuh.

  • Cedera telinga - Pukulan kuat pada telinga dan kepala dapat membuat tulang di dalam telinga tengah tergelincir. Hal ini dapat menyebabkan tuli. Kondisi ini dapat menjadi permanen, kecuali cedera segera diobati.

  • Penuaan - Kemampuan mendengar perlahan menurun seiring dengan usia yang bertambah tua. Ini terjadi saat sel-sel rambut yang kecil di dalam telinga mulai rusak atau mati. Dua dari tiga orang berusia 75 tahun atau lebih mengidap gangguan pendengaran dengan tingkat tertentu.

  • Penyakit tertentu - Penyakit dapat memicu demam tinggi yang menyebabkan telinga dalam rusak. Kerusakan juga dapat disebabkan oleh sejumlah antibiotik dan kemoterapi drugs.

  • Tersumbat - Benda asing atau kotoran telinga yang menumpuk pada saluran telinga dapat mengganggu pendengaran seseorang.

Gejala Ketulian

Banyak orang tidak menyadari saat mereka perlahan mulai kehilangan kemampuan mendengar. Mereka berpikir masalahnya ada pada orang yang berbicara kurang keras atau telepon mereka Selama mereka masih dapat mendengar suara, mereka berasumsi pendengaran mereka baik-baik saja.

Orang-orang dengan kondisi tuli ringan masih dapat menangkap percakapan. Mereka dapat memahami yang dikatakan lawan bicara. Namun, mereka akan kesulitan mendengar saat terdapat kebisingan. Ketika kondisi memburuk, mereka akan meminta lawan bicara untuk berbicara secara perlahan dan lebih kencang. Mereka juga kemungkinan perlu mengenakan alat bantu dengan.

Tanda-tanda lainnya adalah:

  • Tidak dapat menangkap percakapan saat orang lain berbicara bersamaan. Ini membuat mereka menghindari percakapan kelompok.

  • Salah memahami perkataan orang lain. Ini dapat membuat pasien memberi respons yang tidak pantas.

  • Sering kali diperingatkan bahwa suara televisi atau radio mereka terlalu keras.

  • Kesulitan memahami perkataan orang di telepon.

  • Sering kali melewatkan suara bel pintu yang berbunyi.

  • Mendengar suara bising, dering, atau desisan.

  • Kesulitan mendengarkan suara di bioskop.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Sebagian besar pasien dengan gangguan pendengaran pergi ke dokter umum untuk menjalani pemeriksaan awal. Dokter akan bertanya mengenai gejala yang mereka rasakan, kapan gejala tersebut muncul, dan memburuk atau tidak. Pasien juga akan ditanyai tentang riwayat kesehatan dan jika mereka memiliki anggota keluarga yang menderita gangguan pendengaran.

Kemudian dokter akan melalnjutkan dengan pemeriksaan fisik. Telinga pasien akan diperiksa dengan menggunakan otoskop. Tes ini dapat mengonfirmasi jika telinga dalam membengkak atau saluran telinga terinfeksi. Ini juga dapat menegaskan jika gendang telinga telah kempis atau terdapat kotoran telinga atau benda asing yang menyumbat telinga. Lalu dokter akan meminta pasien untuk menutupi telinga satu per satu. Dia akan berbicara dengan volume suara yang berbeda, lalu meminta pasien untuk mengulanginya.

Jika dokter menduga pasien menderita ketulian, pasien akan dirujuk kepada spesialis audiologi atau telinga, hidung, dan tenggorokan spesialis THT.

Kemudian pasien akan menjalani beberapa tes lagi, yaitu:

  • Tes garpu tala - Garpu tala adalah alat yang menghasilkan getaran saat kedua gigi garpu saling berbenturan. Ini digunakan untuk menguji pendengaran, serta konduksi tulang. Garpu tala diletakkan berlawanan dengan tulang di belakang telinga dan sekitar dua sentimeter dari saluran telinga. Kemudian alat ini digetarkan dan pasien ditanya jika mereka mendengar getaran tersebut.

  • Pemeriksaan audiometer - Untuk tes ini, pasien diminta mengenakan earphone yang terhubung pada sebuah audiometer. Lalu dokter akan memberi nada murni dengan intensitas yang terkontrol kepada satu per satu telinga. Pasien diminta untuk menekan tombol atau mengangkat tangan saat mereka mendengar suara.

Pengobatan untuk kondisi tuli tergantung kepada penyebab dan keparahannya. Pilihan yang tersedia meliputi:

  • Operasi - Operasi dianjurkan jika tuli disebabkan oleh cacat lahir, infeksi, trauma, atau benda asing.

  • Obat-obatan - Obat-obatan tertentu dapat digunakan, jika sel rambut pada koklea membangkak. Obat pun dapat digunakan jika penderita mengalami tuli akibat penyakit Meniere.

  • Terapi radiasi - Jika tuli diakibatkan oleh tumor.

  • Alat bantu dengar dan implan koklea - Jika penyebab tuli tidak bisa disembuhkan, pasien dapat memanfaatkan alat bantu dengar atau implan koklea.

Rujukan:

  • U.S. Department of Health & Human Services. Quick guide to health literacy and older adults: Hearing impairment. Health.gov website. www.health.gov/communication/literacy/olderadults/hearing.htm.

  • Nash, S. D., Cruickshanks, K. J., Klein, R., Klein, B. E., Nieto, F. J., Huang, G. H& Tweed, T. S. (2011). The prevalence of hearing impairment and associated risk factors: the Beaver Dam Offspring Study. Archives of Otolaryngology–Head & Neck Surgery, 137(5), 432-439.

  • Longo DL, et al. Disorders of hearing. In: Harrison’s Principles of Internal Medicine. 19th ed. New York, N.Y.: The McGraw-Hill Companies; 2015. http://www.accessmedicine.com.

Bagikan informasi ini: