Apa itu Hematuria?

Hematuria adalah penyakit yang ditandai dengan adanya darah di urin. Penyakit ini dibedakan menjadi gross hematuria (adanya darah berwarna merah muda atau merah tua yang disertai penyumbatan darah) atau hematuria makroskopis, yang hanya dapat dideteksi melalui mikroskop atau uji urin.

Gross hematuria dapat dideteksi dengan mudah karena sebagian besar pasien langsung mencari pertolongan medis setelah menyadari warna urin yang tidak normal, namun pasien yang menderita hematuria mikroskopis biasanya tidak menyadari adanya hematuria sampai penyakit ini dideteksi dalam pemeriksaan kesehatan rutin atau pemeriksaan untuk keluhan kesehatan lainnya.

Hematuria umumnya terjadi sebagai gejala dari penyakit lainnya. Oleh karena itu, pengobatan untuk hematuria biasanya akan dilakukan bersamaan dengan pengobatan untuk penyakit penyebabnya. Ketika memeriksa penyebab dari hematuria, saluran kemih akan diperiksa secara menyeluruh untuk mengeliminasi kemungkinan penyebab satu persatu, sampai penyebab hematuria ditemukan.

Pada sebagian besar kasus, penyebab dari hematuria adalah penyakit yang tidak membahayakan hidup pasien. Akan tetapi, hematuria juga dapat disebabkan oleh penyakit yang ganas.

Penyebab Hematuria

Hematuria dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Beberapa faktor penyebab hematuria yang paling umum adalah:

  • Menstruasi
  • Trauma
  • Infeksi
  • Penyakit akibat virus
  • [Infeksi saluran kemih] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/infeksi-saluran-kemih)
  • Berolahraga secara berlebihan
  • Kanker ginjal atau kandung kemih
  • Peradangan pada ginjal, kandung kemih, uretra, atau prostat
  • Penyumbatan darah di saluran kemih
  • Penyakit yang menyebabkan penyumbatan darah
  • Penyakit ginjal poliklistik (pertumbuhan kista di ginjal)
  • Anemia sel sabit

Walaupun hematuria dapat mengenai pasien dari berbagai usia, penyakit ini lebih umum mengenai pasien berusia 50 tahun ke atas, memiliki penyakit batu ginjal, belum lama terkena infeksi virus atau bakteri, mengalami pembesaran prostat, memiliki riwayat keluarga penderita penyakit ginjal, atau pasien yang sedang mengonsumsi obat-obatan tertentu.

Apabila Anda menyadari ada darah di urin Anda, Anda harus segera menemui dokter untuk mendiagnosis penyebabnya. Beberapa pasien dapat mengalami gejala lain, namun ada juga pasien yang tidak mengalami gejala lain. Bagaimanapun juga, pasien harus menemui dokter untuk mengetahui secara pasti penyebab dari hematuria dan mendapatkan pengobatan yang tepat.

Gejala Utama Hematuria

Hematuria merupakan gejala yang timbul akibat penyakit lain, namun penyakit ini dapat disertai oleh gejala lain. Hematuria dapat disertai oleh gejala yang ringan atau parah, tergantung pada penyebab utama penyakit.

  • Apabila hematuria disebabkan oleh infeksi ginjal, gejala yang lain dapat meliputi demam, nyeri pinggang, atau nyeri pada bagian bawah punggung.
  • Apabial hematuria disebabkan oleh batu ginjal, pasien biasanya akan mengalami gejala seperti nyeri yang parah pada perut atau panggul.
  • Apabila pasien memiliki infeksi saluran kemih, gejala yang umum terjadi adalah rasa perih saat buang air kecil, demam, nyeri pada bagian bawah perut, dan iritasi.

Pada beberapa kasus, terjadinya hematuria tidak disertai oleh gejala lain. Oleh karena itu, hematuria mikroskopis hanya dapat diketahui setelah pasien menjalani pemeriksaan rutin atau menjalani pengobatan untuk penyakit lain yang juga berkaitan dengan hematuria.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Apabila ada darah di urin Anda, ahli kesehatan pertama yang harus Anda temui adalah dokter keluarga Anda, yang akan memeriksa riwayat penyakit keluarga Anda dan melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik yang dilakukan biasanya meliputi:

  • Pemeriksaan alat kelamin
  • Pemeriksaan kulit
  • Pengukuran tekanan darah
  • Pemeriksaan kesehatan mata
  • Pemeriksaan perut

Setelah pemeriksaan, dokter dapat mengetahui apakah Anda menderita hematuria yang disebabkan oleh penyakit glomerulus atau penyakit non-glomerulus. Hematuria yang disebabkan oleh penyakit glomerulus biasanya ditandai dengan adanya darah di urin yang berwarna coklat, sedangkan hematuria akibat penyakit non-glomerulus ditandai dengan darah di urin yang berwarna merah atau merah muda dan disertai penyumbatan darah.

Setelah pemeriksaan fisik, dokter Anda akan melakukan uji laboratorium, seperti:

  • Urianalisis untuk memeriksa sampel urin
  • Nitrogen urea darah (Blood urea nitrogen/BUN)
  • Serum kreatinin
  • Pemeriksaan hematologi dan koagulasi darah
  • Uji urin
  • Uji serologi
  • Ekskresi kalsium urin

Anda juga dapat diminta menjalani uji pencitraan, seperti:

  • Spiral CT
  • Pemeriksaan radio nuklir
  • USG ginjal dan kandung kemih
  • Pengambilan gambar uretra dan kandung kemih saat pasien buang air kecil (voiding cystourethrography)

Semua uji dan tindakan di atas dilakukan satu persatu untuk mengeliminasi kemungkinan penyebab hematuria sampai dokter dapat menghasilkan diagnosis yang akurat.

Setelah menemukan penyebab hematuria, dokter akan memberitahu pilihan pengobatan pada pasien. Karena ada banyak hal yang dapat menyebabkan hematuria, pengobatan yang tersedia juga beragam. Pada banyak kasus, pengobatan hematuria dilakukan hanya dengan obat-obatan. Namun, pada penyakit yang lebih serius seperti batu ginjal atau kanker ginjal, pasien mungkin juga harus menjalani operasi.

Sembuhnya hematuria bukan berarti penyakit ini dijamin tidak akan terjadi lagi. Apabila Anda tidak melakukan tindakan pencegahan, kemungkinan besar Anda akan kembali mengalami hematuria yang disebabkan oleh penyakit lain atau penyakit yang sama.

Sebaiknya Anda berbicara dengan dokter Anda mengenai cara terbaik untuk mencegah hematuria. Salah satu tindakan pencegahan yang paling umum adalah perubahan gaya hidup. Pola makan yang lebih sehat, menghindari olahraga berlebihan, dan menjalani pemeriksaan rutin dapat mengurangi risiko terkena hematuria.

Rujukan:

  • Gerber GS, Brendler CB. Evaluation of the urologic patient: History, physical examination, and the urinalysis In: Wein AJ, ed. Campbell-Walsh Urology. 10th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011:chap 3.
  • Landry Dw, Bazari H. Approach to the patient with renal disease. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011:chap 116.
Bagikan informasi ini: