Pengertian dan Gambaran Umum

Hipertensi paru-paru adalah suatu kondisi yang ditandai oleh adanya tekanan darah tinggi pada pembuluh kapiler, vena, dan arteri paru-paru. Pasien yang menderita penyakit ini biasanya sering mengalami sesak napas, pusing, pingsan, dan bahkan bengkak kaki. Hipertensi paru-paru dapat menyebabkan kondisi yang lebih parah yang dapat menyebabkan kemungkinan kondisi fatal, misalnya gagal jantung. Ada lima jenis hipertensi paru-paru yang berbeda, seperti yang tercantum dalam Dana Point 2008 Updated Clinical Classification System.

  • Hipertensi arteri paru-paru atau PAH
  • Hipertensi paru-paru karena penyakit jantung kiri
  • Hipertensi paru-paru karena penyaki paru-paru dan atau hipoksia
  • Hipertensi paru tromoemboli kronis atau CTEPH
  • Hipertensi paru dengan mekanisme berbagai faktor yang tidak jelas

Kondisi ini pertama kali ditemukan pada akhir 1800-an oleh Erns von Romberg. Hipertensi paru-paru melibatkan penyempitan pembuluh darah pada paru-paru, atau yang menghubungkan organ ke seluruh tubuh. Penyempitan menghalangi jantung pasien memompa darah secara efisien melaui paru-paru. Kondisi ini berlangsung dari waktu ke waktu dan membuat pembuluh kapiler, vena, atau arteri paru-paru semakin tebal dan keras. Fibrosis pembuluh darah paru ini menyebabkan peningkatan tekanan darah dalam paru-paru sehingga merusak aliran darah.

Ketika tekanan darah dalam paru-paru meningkat, jantung pasien sangatlah menderita. Ventrikel kanan dapat menunjukan hipertrofi, sehingga jantung lebih sulit untuk melakukan tugasnya. Hipertrofi kemudian dapat menyebabkan kondisi yang disebut cor pulmonale atau kegagalan ventrikel jantung kanan, yang bertugas untuk menangani “tekananan rendah”, sedangkan ventrikel kiri bertugas untuk mempompa lebih banyak darah pada daerah yang membutuhkan lebih banyak tekanan. Ventrikel kanan tidak dapat melakukan pemompaan lebih banyak darah pada paru-paru sehingga ventrikel kanan akan gagal menyimpan oksigen untuk bagian ini sendiri dalam jangka yang panjang.

Ada juga jenis hipertensi paru-paru yang berasal dari disfungsi bagian kiri jantung. Ketika ventrikel kiri jantung tidak dapat melakukan tugasnya, darah dapat memenuhi paru-paru dan membalikan tekanan pada sistem paru-paru pasien.

Hipertensi paru juga dapat mengakibatkan rendahnya tingkat oksigen darah pada paru-paru. Ketika organ vital seperti paru-paru tidak menerima darah yang cukup, organ-organ ini akan rusak dan tidak dapat melakukan tugasnya dengan baik dari waktu ke waktu. Jika dibiarkan, hipertensi paru-paru pada kategori tiga akan menyebar ke seluruh sistem paru-paru pasien.

Gumpalan darah yang muncul berulang juga dapat menyebabkan hipertensi paru-paru, yang dapat menghasilkan sistem pembentukan dan pelepasan zat biokima pasien yang membuat pembuluh darah lebih sempit.

Penyebab Hipertensi Paru-Paru

Penyebab hipertensi paru-paru sangat beragam. Banyak ahli yang menyetujui sistem klasifikasi yang dibentuk di Dana Point, di mana symposium dunia pada tahun 2008 dengan tema Pulmonary Arterial Hypertension diadakan. Pada kategori pertama sistem klasifikasi, yaitu “hipertensi paru-paru atau PAH,” penyebabnya dapat bersifat idiopatik, turun-temurun, atau berhubungan dengan penggunaan atau konsumsi obat dan racun tertentu. PAH juga dapat menjadi kondisi yang muncul dengan infeksi HIV, penyakit jaringan ikat, penyakit jantung bawaan, skistomiasis, hipertensi portal, atau penyakit sel sabit dan jenis lain anemia hemolitik kronis.

Kategori kedua hipertensi paru-paru, atau “hipertensi paru-paru akibat penyakit jantung kiri,” dapat disebabkan oleh disfungsi sistolik atau fungsi diastolik pasien, serta penyakit jantung.

Pada kategori ketiga “hipertensi paru-paru disebabkan penyakit paru-paru dan atau hipoksia,” hipertensi paru-paru dapat timbul akibat penyakit paru interstisial, penyakit paru obstruktif kronis, paparan kronis dataran tinggi, kesulitan bernapas akibat gangguan tidur, kelainan pada pekembangan fisiologis pasien, atau gangguan hipoventilasi alveolar.

Kategori kelima “hipertensi paru-paru dengan mekanisme beberapa faktor yang tidak jelas” dapat dikaitkan dengan pengangkatan limpa pasien, vaskulitis atau bentuk lain dari penyakit sistemik, penyakit penyimpanan glikogen, kegagalan ginjal kronis saat menjalani dialysis, atau adanya tumor yang menghalangi pembuluh kapiler, vena, atau arteri paru-paru.

Gejala Utama Hipertensi Paru-Paru

Penting untuk dicatat bahwa gejala hipertensi paru-paru mungkin tidak mudah terlihat selama beberapa bulan atau bahkan bertahun-tahun. Hal ini terjadi karena pasien umumnya menunda pemeriksaan ke dokter pada tahap awal penyakit. Namun, penyakit akan berkembang seiring waktu, dengan gejala yang memburuk dalam perkembangannya.

Gejala umum dari penyakit ini termasuk dispnea atau sesak napas, yang biasanya terlihat ketika pasien melakukan aktivitas berat. Seiring waktu, dispnea akan memburuk dan pasien dapat terlihat sesak napas bahkan pada saat beristirahat.

Karena paru-paru tidak mendapatkan cukup oksigen, pasien juga dapat mengalami kelelahan, pusing, dan pingsan. Upaya ekstra jantung untuk memompa darah ke paru-paru dapat mengakibatkan tekanan yang tidak nyaman pada dada. Selama penyakit berkembang, tekanan ini dapat mengakibatkan sakit dada.

Pasien yang menderita hipertensi paru-paru juga dapat terlihat memiliki edema atau pembengkakan pada kaki dan pergelangan kaki. Selama penyakit berkembang, pasien dapat mengalami asites, atau pembengkakan perut. Pasien juga dapat menderita sianosis, yaitu kulit dan bibir dengan noda atau bintik biru, yang disebabkan oleh sirkulasi darah yang tidak tepat dalam sistem paru-paru. Jantung berdebar-debar, nafsu makan menurun, sakit pertu, dan denyut nadi kencang juga dapat menjadi tanda hipertensi paru-paru.

Siapa yang Harus Dikunjungi dan Jenis Perawatan yang Tersedia

Perawatan untuk hipertensi paru-paru beragam sesuai dengan klasifikasinya dalam Dana Point System.

Pengobatan merupakan jenis yang paling umum dari perawatan untuk PAH, dengan prostanoid, penghambat phosphodiesterase-5, dan penyekat saluran kalsium merupakan resep yang paling umum.

Operasi juga dapat menjadi plihian bagi pasien. Septostomy atrium melibatkan memasukkan kateter tipis ke dalam septum untuk memasukkan balon kecil untuk membuka atrium dan meningkatkan aliran darah. Transplantasi paru-paru juga bisa menjadi pilihan, terutama jika pasien menderika penyakit paru-paru serius yang menyebabkan hipertensi paru-paru.

Rujukan:

  • Channick RN, Rubin LJ. Pulmonary hypertension. In: Mason RJ, Broaddus VC, Martin TR, et al., eds. Murray and Nadel's Textbook of Respiratory Medicine. 5th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2010:chap 52.

  • McLaughlin VV, Archer SL, Badesch DB, et al: American College of Cardiology Foundation Task Force on Expert Consensus Documents; American Heart Association; American College of Chest Physicians; American Thoracic Society, Inc; Pulmonary Hypertension Association. ACCF/AHA 2009 expert consensus document on pulmonary hypertension: a report of the American College of Cardiology Foundation Task Force on Expert Consensus Documents and the American Heart Association developed in collaboration with the American College of Chest Physicians: American Thoracic Society, Inc; and the Pulmonary Hypertension Association. J Am Coll Cardiol. 2009;53:1573-1619.

  • Rich S. Pulmonary hypertension. In: Bonow ROL, Mann DL, Zipes DP, Libby P, eds. Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 9th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 78.

Bagikan informasi ini: