Definisi dan Gambaran Umum

HIV, singkatan dari Human Immunodeficiency Virus, adalah virus tipe khusus sebagai penyebab penyakit berat yang umum dikenal sebagai AIDS. Virus tersebut terutama mengancam nyawa karena menyerang sistem kekebalan tubuh dan membahayakan kemampuan tubuh untuk menyerang infeksi dan penyakit.

Karena itu, seseorang yang terkena human immunodeficiency virus memiliki resiko tinggi terkena infeksi tertentu dan kanker. Jika jumlah CD4 atau sel-T turun hingga kurang dari 200, mereka dianggap mengidap AIDS.

Penyebab

Infeksi HIV disebabkan oleh human immunodeficiency virus, yang bekerja menghancurkan sel CD4 dalam tubuh. Sel CD4 adalah sel darah putih yang berperan penting dalam melawan infeksi dan penyakit yang mengancam tubuh.

Virus ini menyebar melalui darah, air mani, atau cairan vagina. Kegiantan berikut termasuk faktor resiko :

  • Terlibat dalam hubungan seksual yang tanpa pelindung dengan orang yang terinfeksi
  • Terlibat dalam hubungan seksual dengan beberapa pasangan berbeda
  • Melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks atau pemakai obat terlarang
  • Menggunakan jarum yang sama ketika menyuntik, biasanya untuk obat terlarang
  • Menggunakan jarum tidak steril untuk tindik atau tato
  • Memiliki penyakit menular seksual yang lain seperti herpes, sifilis, gonoroe, atau jamur chlamydia
  • Menerima transfusi darah sebelum tahun 1985, dimana setelah tahun tersebut semua darah yang disumbangkan harus dilakukan uji HIV secara hati-hati

HIV juga dapat ditularkan dari ibu ke janin selama kehamilan.

Stadium dan Gejala

HIV atau AIDS berkembang dalam berbagai stadium. Tiap stadium memiliki gejala berbeda.

Stadium satu: Infeksi akut atau seroconvertion

Terdapat dua hingga enam minggu masa jeda (window periode) setelah terpapar dengan human immunodeficincy virus yang mana orang tersebut menjadi terinfeksi. Selama stadium ini, tubuh berusaha untuk melawan virus, hingga menyebabkan gejala awal yang seringkali mirip dengan gejala flu. Stadium ini biasanya berlangsung satu hingga dua minggu dan diikuti oleh stadium tanpa gejala.

Gejala selama stadium ini adalah :

  • Mual
  • Muntah
  • Nyeri kepala
  • Kelemahan
  • Diare
  • Pegal dan nyeri otot
  • Nyeri tenggorokan
  • Demam
  • Ruam merah ( lebih sering terdapat di badan )

Stadium dua: Stadium Asimptomatis/Tanpa Gejala

Jika gejala awal terlalui, hal ini berarti sudah melewati stadium kedua. Infeksi saat ini mengambil kendali tubuh saat sistem kekebalan tubuh kalah dalam perlawanan sepenuhnya. Hal ini biasanya terjadi dalam periode yang lama, kadang berlangsung selama sepuluh tahun atau lebih lama, dan selama itu pasien tidak merasakan gejala sama sekali. Namun di dalam tubuh, virus secara bertahap menyerang sel-T CD4, yang seharusnya secara normal berada di antara 450 hingga 1400 sel per mikroliter. Ini adalah stadium dimana banyak individu yang terinfeksi tanpa diketahui menularkan virus tersebut ke orang lain.

Stadium Tiga: AIDS

Stadium ketiga secara luas dikenal sebagai AIDS, yang merupakan stadium akhir infeksi ini. Faktor yang menentukan stadium ini adalah saat jumlah sel CD4 turun hingga dibawah 400 per mikroliter.

Cakupan lebih luas dari gejala yang serius dapat terjadi pada stadium ini. Hal ini termasuk :

  • Kelelahan berkepanjangan yang tidak dapat dijelaskan
  • Kelenjar getah bening yang membesar di pangkal paha atau leher
  • Demam yang tidak hilang setelah sepuluh hari
  • Turunnya berat badan yang tidak dapat dijelaskan
  • Sesak napas
  • Diare berat atau kronis
  • Keringat malam
  • Infeksi jamur ( lebih sering terjadi di tenggorokan,mulut, atau vagina)
  • Perdarahan yang tidak dapat dijelaskan
  • Mudah memar
  • Bercak keunguan yang tidak hilang dengan waktu

Kepada Siapa Berobat

Bila Anda mengalami salah satu dari gejala stadium pertama dan ketiga, segera kunjungi dokter anda. Tidak semua dokter memiliki keahlian atau terlatih dalam menangani HIV atau AIDS, tetapi dokter umum dapat mendiagnosa penyakit dan menyingkirkan kemungkinan penyakit lainnya.

Dokter Anda dapat menggunakan berbagai macam tes untuk mendiagnosa HIV/AIDS, secara umum termasuk diantaranya:

  • Tes penapisan/pemeriksaan antibodi atau immunoassay (menemukan infeksi dalam tiga hingga enam minggu setelah paparan)
  • Tes antigen (dapat positif paling awal tiga minggu setelah paparan)
  • Tes RNA (tes yang cukup mahal yang dapat mendeteksi penyakit antara 10 hari setelah paparan)

Jenis Perawatan yang tersedia

Terapi utama untuk individu yang terinfeksi HIV termasuk ‘cocktail’ atau gabungan dari berbagai macam pengobatan yang disebut obat antiretroviral, dimana semua bekerja untuk membangun kembali sistem kekebalan tubuh. Meskipun terapi ini tidak menghilangkan virus, namun dapat melawan efek negatif virus.

Karena itu, sangat penting bagi pasien HIV untuk tidak berhenti mengkonsumsi semua pengobatan dan paling tidak tiga atau lebih obat yang diresepkan dikonsumsi bersamaan. Menggabungkan beberapa macam obat telah terbukti lebih efektif karena peluang perkembangan perlawanan virus terhadap terapi akan lebih rendah.

Setelah jumlah sel-T CD4 mulai naik, pasien dapat juga diberikan obat untuk mencegah terjadinya jenis infeksi tertentu.

Dengan rencana perawatan yang sesuai, banyak orang terinfeksi HIV kini dapat hidup normal lebih lama, bersama seorang dokter yang bekerja terus menerus dalam penanganan jangka panjang dari penyakit.

Meskipun tidak ada spesialisasi khusus dalam profesi kedokteran yang fokus terhadap pengobatan HIV/AIDS, terdapat tindakan awal di seluruh dunia yang menolong pasien untuk mendapat terapi dan membantu kebutuhan mereka selama mereka hidup dan mengatasi penyakit.

Kapan Anda Harus Berobat ke Dokter Spesialis?

Jika Anda curiga bahwa Anda telah kontak dengan seseorang yang terinfeksi, kunjungi dokter segera. Ketika diketahui pada stadium paling awal atau segera setelah infeksi awal, terdapat cara bagi dokter untuk mencegah HIV menetap ke dalam sistem. Metode ini, yang menggunakan obat anti-HIV, biasanya digunakan oleh banyak orang, seperti tenaga kesehatan dan mereka yang bekerja di kepolisian, yang dapat terpapar darah orang dengan kemungkinan HIV.

BilaAanda memperhatikan salah satu dari gejala stadium ketiga, segera kunjungi dokter anda agar Anda mendapat perawatan yang tepat. Jika hasil tes positif, Anda mungkin harus dirujuk ke dokter yang dapat bekerja penuh waktu dalam menangani penyakit Anda. Pasien dalam stadium tiga mungkin juga harus dirujuk ke organisasi HIV/AIDS yang menyediakan tidak hanya kebutuhan perawatan kedokteran tapi juga dukungan psikologis dan emosional untuk mereka yang menderita penyakit tersebut.

Referensi:

  • Osmond DH PhD. “Epidemiology of HIV in the United States.”
  • Hare CH. “Clinical Overview of HIV Disease.”
  • Crothers K; Huang L. “Critical Care of Patients with HIV.”
  • Donegan, E. MD. “Transmission of HIV by Blood, Blood Products, Tissue Transplantation, and Artificial Insemination.”
  • Hughes AM; Jones DJ. “Inpatient Management of the Adult with Advanced HIV Disease.”
  • Ludwig A; Chittenden E. “Palliative Care of Patients with HIV.”
Bagikan informasi ini: