Apa itu Hiperkortisolisme?

Kelenjar adrenal (terletak di atas ginjal) memiliki fungsi menghasilkan berbagai hormon, salah satunya ialah kortisol. Kortisol adalah hormon penting yang mengatur metabolisme dan fungsi tubuh penting lainnya.

Apabila seseorang kelebihan ataupun kekurangan hormon kortisol, maka dapat menyebabkan masalah kesehatan. Kortisol dalam jumlah yang berlebihan disebut hiperkortisolisme, atau juga dikenal sebagai Sindrom Cushing. Kelainan ini diberi nama Sindrom Cushing karena pertama kali dilaporkan oleh seorang ahli bedah saraf bernama Harvey Cushing pada tahun 1912.

Sindrom Cushing bisa disembuhkan apabila terdeteksi dan diberikan tindakan pengobatan sejak dini. Jika penyakit ini tidak diobati, maka bisa menjadi suatu penyakit yang berpotensi mematikan. Namun, kasus kematian karena Sindrom Cushing sangat jarang terjadi. Menurut data statistik, hanya ada sekitar dua sampai tiga orang per juta yang terkena penyakit ini. Hampir sekitar 70% kasus Sindrom Cushing menyerang pasien berusia antara 20 - 50 tahun.

Penting untuk diingat meskipun kemungkinan sembuh dari penyakit ini cukup baik, tapi jumlah kasus yang berbahaya sebenarnya jauh lebih tinggi. Hal ini karena banyak kasus Sindrom Cushing salah didiagnosis sebagai diabetes tipe 2 atau osteoporosis. Kesalah diagnosis seperti itu bisa terjadi karena kondisinya memiliki gejala yang sama. Selain itu, ada beberapa kasus yang bahkan tidak terdiagnosis.

Penyebab Hiperkortisolisme

Penyebab utama seseorang kelebihan kortisol dalam jumlah yang abnormal adalah:

  • Adanya pertumbuhan tumor abnormal - Hal ini mengacu pada tumor jinak dan ganas. Contoh tumor jinak adalah adenoma adrenal dan hipofisis. Di sisi lain, tumor yang berpotensi menjadi kanker di antaranya ialah kanker adrenal dan kanker yang mempengaruhi paru-paru dan tiroid.

  • Obat yang mengandung glukokortikoid - Obat steroid biasanya diresepkan untuk pengobatan beberapa penyakit. Termasuk di antaranya alergi dan asma. Obat steroid juga bisa digunakan untuk mencegah tubuh menolak jaringan yang ditransplantasikan. Selain itu, obat steroid juga sering digunakan untuk pengobatan gangguan autoimun.

  • Stres emosional - Selain pengaruh dari obat dan tumor, tubuh juga bisa menghasilkan kortisol dalam jumlah berlebihan dikarenakan tekanan emosional. Gaya hidup yang sangat aktif atau kebiasaan meminum alkohol secara rutin juga berisiko terhadap kelebihan jumlah kortisol.

  • Kemungkinan penyebab lainnya - Kondisi kelebihan kortisol juga mungkin diwariskan. Selain itu kelebihan kortiol juga dapat disebabkan oleh pembedahan, cedera, atau penyakit akut tertentu.

Mendiagnosis Sindrom Cushing biasanya dilakukan dengan melakukan pemeriksaan darah dan urin untuk mengukur kadar glukokortikoid tinggi. Tes urine tersebut dilakukan dengan cara mengumpulkan urin secara berkala selama 24 jam. Tes mungkin juga dilakukan dengan cara mengumpulkan plasma darah dan air liur.

Gejala Utama Hiperkortisolisme

Sama halnya dengan kondisi yang disebabkan oleh kelainan atau penyakit lainnya, Hiperkortisolisme juga memiliki beberapa gejala. Penderita penyakit ini biasanya sering mengeluhkan mudah lelah dan ototnya melemah. Mereka yang kelebihan kortisol juga sering mengalami perubahan suasana hati yang dikarenakan depresi. Salah satu gejala yang paling mencolok dari hiperkortisolisme adalah kenaikan berat badan tanpa disadari.

Penderita hiperkortisolisme juga biasanya memiliki tekanan darah tinggi dan kadar gula darahnya meningkat. Sehingga membuat mereka menjadi lebih rentan terhadap diabetes dan osteoporosis. Ada juga penderita yang mengalami masalah dengan sistem kekebalan tubuh mereka, terkena batu ginjal atau bahkan mengalami disfungsi ereksi.

Gejala lain yang cukup umum terjadi ialah tertimbunnya lemak berlebih pada tulang selangka dan di bagian belakang leher. Banyak pasien hiperkortisolisme yang juga mengalami penipisan rambut dan kulit serta berkeringat berlebihan. Bahkan ada beberapa pasien laki-laki yang sampai menderita kebotakan. Pasien juga biasanya mengeluhkan kemampuan mengingatnya dan juga sulit untuk fokus.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan Tersedia

Apabila ada penderita hiperkortisolisme yang belum didiagnosis namun sduah menunjukkan gejala seperti yang tercantum di atas, maka harus segera berkonsultasi dengan dokter. Jika pasien diduga terkena hiperkortisolisme, maka pasien akan dirujuk ke dokter spesialis.

Masalah terbesar dari penyakit hiperkortisolisme adalah sulit untuk didiagnosis. Pada banyak kasus, dokter hanya bisa mendeteksinya ketika penyakit ini sudah berkembang. Keterlambatan diagnosis ini bisa menjadi masalah bagi pasien karena pasien yang memiliki prognosis lebih baik jika mendapatkan perawatan segera.

Selama proses pemeriksaan, pasien harus memberikan daftar semua obat yang sedang mereka konsumsi. Dokter juga akan menanyakan tentang penyakitnya yang lain dimana pasien pernah menerima tindakan perawatan. Dengan adanya daftar obat serta informasi mengenai penyakit yang perah diderita, dokter akan bisa menentukan kemungkinan penyebab kenaikan kadar kortisol.

Langkah berikutnya setelah pemeriksaan tadi, pasien akan menjalani serangkaian tes untuk mengetahui kadar kortisol pasien. Tes yang dilakukan di antaranya pengujian kortisol dalam urin, darah, dan air liur. Jika hasil tes menunjukkan adanya kelebihan kortisol, maka pasien akan dirujuk ke dokter spesialis endokrin.

Selajutnya, spesialis endokrin juga akan melakukan tes serupa untuk mengonfirmasi kembali hasil tes yang telah dilakukan sebelumnya. Jika tes tersebut mengonfirmasi kadar kortisol yang tinggi pada pasien, maka seharusnya dokter akan bisa mengetahui penyebab pasti hiperkortisolisme. Menegetahui penyebab dari tingginya kada kortsiol pada pasien menjadi sangat penting karena tindakan pengobatan terhadap penyakit tersebut didasarkan pada kondisi yang mendasarinya. Jika hiperkortisolisme disebabkan oleh obat yang dikonsumsi pasien, maka dokter secara perlahan akan mengurangi dosis atau mungkin mengganti obat yang dikonsumsi pasien.

Jika hiperkortisolisme disebabkan oleh tumor, maka perawatan yang dilakukan bisa meliputi pembedahan, kemoterapi, atau radioterapi. Dalam beberapa kasus, kombinasi dari metode pengobatan ini sangat diperlukan karena secara efektif dapat menghilangkan pertumbuhan tumor yang abnormal. Penting untuk dicatat bahwa operasi mungkin bukanlah pilihan utama dalam mengatasi hiperkortisolisme karena tumor. Dokter mungkin tidak dapat mengoperasi pasien jika tumornya sangat dekat dengan organ vital. Hal yang sama juga akan terjadi jika pasien tidak cukup sehat untuk menjalani prosedur invasif. Oleh karena itu, jika ditemukan kejadian seperti itu, biasanya pengobatan akan fokus pada penanganan gejalanya saja dan bukan untuk mengobati penyakit itu sendiri.

Rujukan:

  • National Institutes of Health; “Cushing Syndrome: Condition Information”; https://www.nichd.nih.gov/health/topics/cushing/conditioninfo/Pages/default.aspx

  • US National Library of Medicine; “Cushing’s Syndrome: Also Called Hypercortisolism”; https://medlineplus.gov/cushingssyndrome.html#cat_92

  • Diapedia;”Hypercortisolism”; https://www.diapedia.org/other-types-of-diabetes-mellitus/4104279115/hypercortisolism

Bagikan informasi ini: