Apa itu Kardiomiopati Hipertrofi?

Kardiomiopati hipertrofi (KMH) adalah penyakit jantung yang ditandai dengan penebalan otot jantung (miokardium). Ini adalah penyakit genetik atau turunan. Artinya, ini diwariskan melalui gen orang tua. Seorang anak memiliki kemungkinan 50% mewarisi penyakit ini jika salah satu orang tuanya mempunyai gen tersebut.

KMH menyerang satu dari 500 orang. Namun, ini tidak selalu menjadi penyebab kekhawatiran. Banyak orang yang memiliki gen ini, namun tidak menunjukkan gejala apa pun, bahkan dapat hidup normal dan aktif. Namun, sekitar 10% di antaranya menderita penyakit yang parah dan berisiko tinggi akan mengalamikomplikasi serius. Ini termasuk kondisi yang mengancam nyawa, yaitu aritmia(detak jantung tidak normal) dan kematian jantung mendadak.

KMH dapat menghambat jantung dalam memompa darah dengan baik. Karena hal ini, jumlah darah yang beredar di dalam tubuh pun akan berkurang. Saat ini terjadi, organ vital, seperti otak dan paru-paru, tidak mendapat pasokan oksigen dan nutrien yang cukup untuk berfungsi seperti biasa.

KMH dapat bersifat obstruktif dan non-obstruktif. Pada sebagian orang, penyakit ini membuat septum (dinding yang memisahkan ventrikel jantung) membengkak. Ini membuat jantung sulit untuk mendorong darah ke paru-paru (obstruktif). Pada kasus yang lain, penyakit ini menyerang ventrikel kanan sehingga ia hanya dapat menampung sedikit darah. Oleh sebab itu, bahkan saat tidak terjadi obstruksi, jumlah darah yang mencapai organ-organ vital akan tetap berkurang.

Penyebab Kardiomiopati Hipertrofi

KMH sering kali merupakan penyakit turunan. Ini dapat berkembang pada siapa pun, jika salah satu atau kedua orang tuanya memiliki mutasi gen yang menyebabkan otot jantung menebal. Orang yang memiliki kerabat dekat, seperti orang tua atau saudara kandung, dengan penyakit iniperlu mempertimbangkan pemeriksaan kardiomiopati hipertrofi. Jika terdiagnosis sejak awal, penyakit ini dapat segera diobati sebelum menyebabkan komplikasi atau gejala berat. Hal ini pun membuat pasien lebih memahami penyakit tersebut dan mengetahui aktivitas yang perlu dihindari, seperti olahraga yang kompetitif. Tujuannya adalah mencegah penyakit agar tidak makin memburuk.

Dengan pengobatan yang tepat dan sedikit perubahan gaya hidup, sebagian besar pasien dapat hidup normal dan mengendalikan gejala dari penyakit mereka.

Gejala Utama Kardiomiopati Hipertrofi

Kardiomiopati hipertrofi tidak selalu menampakkan gejala. Jika sifatnya ringan, pasien dapat terus menjalani hidup, bahkan tanpa mengetahui bahwa mereka mengidap penyakit ini. Namun, pada beberapa pasien, penyakit ini menyebabkan napas menjadi pendek dan nyeri dada. Gejala ini menjadi lebih jelas selama pasien melakukan olahraga berat dan kompetitif. Gejala lainnya termasuk pingsan dan pusing.

Jika tidak diobati, penyakit ini dapat memicu sejumlah komplikasi. Di antaranya:

  • Gagal jantung - Penebalan otot jantung dapat menghambat jantung untuk memompa darah dengan baik. Kondisi ini dapat menyebabkan keadaan fatal, kecuali bila diobati dengan cara yang tepat.

  • Detak jantung tidak tetap - Detak jantung normal pada orang dewasa berkisar antara 60 dan 100 detak per menit. Kardiomiopati hipertrofi dapat membuat jantung berdetak terlalu cepat atau lambat (aritmia). Ini dapat menyebabkan pasien merasa jantungnya berdebar. Beberapa jenis aritmia tidak menimbulkan kekhawatiran. Sedangkan beberapa jenis lainnya dapat meningkatkan risiko penggumpalan darah. Jika gumpalan darah terlepas dan mencapai arteri otak, pasien kemungkinan akan menderita stroke. Jenis aritmia tertentu juga dapat menyebabkan kematian jantung mendadak.

  • Regurgitasi katup mitral - Pada kondisi normal, darah mengalir satu arahsaat memasuki pembuluh darah mana pun. Namun, kardiomiopati hipertrofi dapat membuat katup mitraluntuk menutup dengan baik. Ini membuat darah mengalir ke arah sebaliknya. Saat ini terjadi, gejala pasien biasanya akan memburuk.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Orang yang memiliki anggota keluarga dengan riwayat penyakit kardiomiopati hipertrofi atau mengalami gejala yang telah disebutkan tadi dapat berkonsultasi kepada dokter ahli jantung (spesialis kardiologi). Penyakit ini didiagnosis dengan tes-tes sebagai berikut:

  • Ekokardiogram - Disebut juga sebuah gema, ini adalah tes USG yang memanfaatkan gelombang suara untuk menciptakan gambar jantung, serta katup, dinding, bilik, dan pembuluh darahnya. Ini bukan prosedur invasif dan tidak memerlukan pembiusan. Ekokardiogram menggunakan sebuah satelit (transduser) yang melintasi dada. Jika ditemukan abnormalitas, tes ini akan diikuti dengan MRI (pencitraan resonansi magnetik) jantung, yang juga akan menciptakan gambar jantung. Ini memberikan informasi yang lebih detail. Tujuannya untuk membantu dokter membuat diagnosis yang lebih akurat.

  • Elektrokardiogram - Umumnya disebut ECG, tes ini bertujuan untuk mengukur impuls listrik jantung. Ini sering kali dilakukan dengan tes stress treadmill.

  • Kateterisasi jantung

Saat mengobati kardiomiopati jantung, dokter berfokus untuk meningkatkanfungsi jantung dengan membuat irama jantung kembali normal (pada kasus aritmia) menggunakan obat-obatan atau alat pacu jantung. Ini dapat meredakan gejala, serta mencegah komplikasi yang mengancam nyawa, seperti gagal jantung dan kematian jantung mendadak.

Prosedur yang disebut ablasi septum kemungkinan juga diperlukan. Ini akan dianjurkan jika otot jantung yang menebal harus diangkat, agar gejala mereda. Di sisi lain, operasi jantung terbuka juga diperlukan bila pengangkatan septum yang menebal dapat melancarkan peredaran darah. Ini pun dapat mencegah darah agar tidak mengalir kembali ke arah katup mitral.

Rujukan:

  • Gersh BJ, et al. 2011 ACCF/AHA guideline for the diagnosis and treatment of hypertrophic cardiomyopathy: Executive summary: A report of the American College of Cardiology Foundation/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines.

  • Prevention and treatment of cardiomyopathy.American Heart Association. http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/Cardiomyopathy/Prevention-and-Treatment-of-Cardiomyopathy_UCM_444176_Article.jsp.

  • Dearani JA, et al. Surgery insight: Septal myectomy for obstructive hypertrophic cardiomyopathy — The Mayo Clinic experience. Nature Clinical Practice Cardiovascular Medicine. 2007;4:503.

Bagikan informasi ini: