Apa itu Intoleransi Makanan?

Intoleransi makanan adalah salah satu masalah kesehatan yang umum terjadi. Masalah ini dialami oleh ribuan orang di seluruh dunia. Masalah ini menunjukkan gejala, saat seseorang mengonsumsi makanan tertentu yang tidak dapat dicerna tubuh. Berbeda dengan alergi makanan. Ini tidak memicu respon dari sistem imun.

Intoleransi makanan adalah kondisi medis yang ringan. Orang yang mengalaminya tidak perlu khawatir. Masalah ini tidak menyebabkan penyakit serius. Gejalanya hanya terbatas pada masalah pencernaan. Sementara, alergi makanan bisa memicu masalah kesehatan parah, bahkan dalam beberapa kasus bisa menjadi sesuatu yang fatal. Di Amerika Serikat, setiap tahunnya sekitar 20.000 orang memerlukan perawatan medis darurat yang dikarenakan reaksi terhadap alergi makanan.

Anafilaksis adalah reaksi alergi makanan yang parah yang membunuh sekitar 200 orang setiap tahun di AS.

Selain itu, intoleransi makana tidak seperti alergi makanan yang dapat memicu gejala bahkan ketika seseorang hanya mengonsumsi sedikit saja makanan yang mengandung zat alergen.

Intoleransi makanan tidak memerlukan perawatan. Ini bisa diselesaikan sendiri dalam beberapa jam. Gejalanya hilang saat orang tersebut berhenti makan makanan yang tidak dapat dicerna tubuhnya.

Penyebab Intoleransi Makanan

Apa penyebab terjadinya intoleransi makanan belum dapat dipahami sepenuhnya. Dalam banyak kasus, hal itu terjadi karena seseorang tidak memiliki enzim yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna makanan tertentu. Misalnya, orang yang kekurangan laktase tidak bisa mentolerir produk olahan susu. Laktase adalah enzim yang dibutuhkan tubuh untuk mencerna gula susu. Intoleransi makanan juga bisa disebabkan oleh kelainan yang memengaruhi molekul transporter. Salah satunya perpindahan gula dari buah dan karbohidrat. Akibatnya, makanan yang belum tercerna berakhir di usus besar dan memicu pertumbuhan bakteri yang berlebih dan fermentasi berlebihan. Ini akan membuat pasien mengalami gejala, seperti kembung dan diare.

Risiko dari kondisi ini akan lebih tinggi pada orang yang telah mengalami reseksi usus. Hal ini karena mereka memiliki risiko pertumbuhan bakteri yang lebih tinggi di sistem pencernaan dibanding dari rata-rata manusia pada umumnya.

Gejala Utama Intoleransi Makanan

Tanda-tanda dari intoleransi makanan adalah kembung, diare, adanya gas di dalam perut, dan sakit perut. Beberapa pasien juga memiliki batuk dan pilek. Orang lain hadir dengan gatal. Gejala ini bisa menunjukkan beberapa jam setelah mengonsumsi makanan yang tidak bisa dicerna. Lagi-lagi ada perbedaan dengan alergi, sebab gejala alergi hampir selalu muncul dengan segera.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Seseorang dengan intoleransi makanan tidak harus menemui dokter. Ini karena mereka tidak membutuhkan bentuk perawatan apapun. Gejalanya akan hilang setelah beberapa jam. Mereka dapat mencegah hal yang sama terjadi dengan tidak lagi mengonsumsi makanan yang tidak dapat dicerna.

Namun, beberapa orang tidak bisa mengetahui makanan apa yang tidak dapat ditoleransi tubuh mereka. Untuk mengetahui makanan apa yang harus dihindari, pasien bisa menyimpan daftar segala makanan yang mereka makan. Kemudian, mereka dapat menghapus satu makanan dari makanan mereka pada satu waktu. Mereka perlu menunggu sampai dua minggu untuk melihat apakah mereka mengalami gejala apapun. Mereka harus melakukan ini sampai gejala mereka hilang dan tidak pernah kembali.

Makanan umum yang banyak tidak bisa dicerna oleh orang ialah produk susu dan coklat serta aditif telur dan makanan. Daftar ini juga mencakup stroberi dan tomat serta buah sitrus dan anggur.

Jika seseorang tidak mau menunggu berminggu-minggu untuk mendapatkan hasil, dia bisa mendatangi dokter untuk tes tusuk kulit. Untuk prosedur ini, kulit pada lengan bawah atau punggung ditusuk. Sejumlah kecil makanan kemudian diletakkan di kulit. Kemudian, dokter akan menunggu sampai zat tersebut diserap oleh kulit. Seseorang dengan intoleransi makanan akan mengalami benjolan yang meningkat selama tes berlangsung.

Seseorang bisa terhindar dari gejala dengan tidak mengonsumsi makanan tertentu. Jika mereka tidak dapat melakukannya, mereka masih tetap bisa mengonsumsi makanan, namun dalam jumlah yang lebih sedikit. Mereka juga bisa meminta suplemen kepada dokter untuk membantu pencernaan.

Rujukan:

  • Food intolerance. National Health Service. http://www.nhs.uk/conditions/food-intolerance/pages/introduction.aspx.

  • Guidelines for the diagnosis and management of food allergy in the United States: Summary for patients, families and caregivers. National Institute of Allergy and Infectious Diseases.

Bagikan informasi ini: