Apa itu Stroke Iskemik?

Stroke iskemik terjadi saat arteri yang mengangkut oksigen dan nutrien ke otak tersumbat. Ada dua jenis stroke iskemik: trombotik dan embolik. Sekitar 50% dari seluruh kasus stroke merupakan stroke trombotik. Kondisi ini terjadi saat arteri otak tersumbat oleh darah yang menggumpal di otak. Di sisi lain, stroke embolik disebabkan oleh gumpalan darah yang terbentuk di bagian tubuh lain (seringkali dari jantung). Gumpalan darah akan bergerak mengiringi aliran darah dan tersangkut di dalam arteri otak. Gumpalan darah menghalangi darah yang mengalir ke otak. Tanpa pasokan oksigen dan nutrien yang cukup, sel-sel otak akan segera berhenti bekerja. Dalam beberapa menit, sel tersebut dapat mati kecuali jika aliran darah ke otak lancar kembali.

Stroke iskemik adalah jenis stroke yang paling umum. Sebanyak 88% kasus stroke berupa stroke iskemik. Serangan stroke umumnya menyerang pasien berusia 60 tahun atau lebih, terutama pasien dengan tekanan darah tinggi, diabetes, penyakit jantung, dan merokok.

Setiap tahun, hampir 800.000 orang di Amerika Serikat menderita stroke, 130.000 di antaranya meninggal akibat stroke. Penyakit ini merupakan penyebab kematian terbesar ke-lima di negara tersebut dan penyebab utama cacat jangka panjang.

Penyebab Stroke Iskemik

Stroke iskemik terjadi saat arteri yang memasok darah ke otak tersumbat. Kondisi ini dapat disebabkan oleh:

  • Emboli atau trombus (penggumpalan darah)

  • Aterosklerosis - Kondisi arteri yang menyempit karena penumpukan plak. Ketika banyak plak yang menumpuk di satu tempat, darah tidak dapat mengalir dengan baik. Aterosklerosis dapat terjadi pada arteri lain, bukan hanya yang mengalir ke otak. Jika terjadi pada arteri koroner, atau pembuluh yang memasok darah ke jantung, maka kondisi tersebut dapat berujung pada serangan jantung.

Faktor risiko utama yang memicu stroke iskemik adalah:

  • Usia - Risiko stroke meningkat setelah seseorang menginjak usia 55 tahun

  • Fibrilasi atrium

  • Diabetes

  • Pola makan kaya kolesterol, natrium, gula, atau lemak trans atau jenuh

  • Kadar kolesterol jahat yang tinggi atau kolesterol baik yang rendah

  • Tekanan darah tinggi

  • Riwayat serangan iskemik sesaat (transient ischemic attack) atau stroke ringan

  • Obesitas atau kelebihan berat badan

  • Gaya hidup pasif

  • Merokok

Gejala Utama Stroke Iskemik

Stroke iskemik membuat separuh bagian otak berhenti bekerja. Hal ini berujung memicu tanda dan gejala berikut:

  • Mati rasa atau salah satu sisi tubuh terasa lemah

  • Kelumpuhan wajah atau paralisis

  • Mendadak bingung dan sulit berbicara atau memahami

  • Hilang koordinasi atau keseimbangan

  • Gangguan penglihatan mendadak

  • Sakit kepala berat yang mendadak

  • Sulit berjalan atau terjatuh tanpa sebab

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Penting bagi pasien yang menunjukkan tanda dan gejala stroke iskemik untuk segera mendapat perawatan darurat. Sebab, setiap menit sangat berarti baginya. Semakin lama otak dibiarkan tanpa oksigen, risiko komplikasi atau kematian akan meningkat.

Untuk mendiagnosis dan menentukan rangkaian pengobatan yang terbaik, dokter biasanya melakukan rangkaian tes diagnostik berikut:

  • Tomografi komputer (CT-scan) dan Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI) - Kedua tes pencitraan ini digunakan untuk mengamati otak, tengkorak, dan sumsum tulang. Tujuannya untuk memeriksa keparahan stroke. Tidak hanya mendiagnosis stroke iskemik, tes pencitraan ini dapat mendiagnosis stroke hemoragik dan masalah lain yang menyerang otak dan batang otak.

  • Tes karotid Doppler - Tes untuk mengambil gambar arteri karotid di bagian leher, untuk memeriksa apakah aliran darah dalam arteri terganggu atau terhambat.

  • Doppler transkranial - Mengukur kecepatan aliran darah melalui pembuluh darah otak dengan menggunakan gelombang suara.

  • Angiogram Resonansi Magnetik (MRA) - Pencitraan MRI khusus untuk memeriksa kondisi pembuluh darah di dalam otak dan leher.

  • Arteriogram serebral - Dilakukan dengan menyuntikkan zat kontras khusus ke dalam pembuluh darah yang mengalir otak, yang akan tampak pada gambar rontgen. Tes ini memberikan hasil yang lebih akurat dibandingkan dengan MRA.

  • Tes neurologik, yang bisa meliputi elektroensefalogram, pungsi lumbar, tes konduksi saraf, dan biopsi otak.

Pengobatan

Dokter biasanya segera memberi suntikan aktivator plasminogen jaringan (TPA) pada pasien. Untuk hasil yang lebih baik, pasien harus diberi obat-obatan stroke iskemik akut, yang telah diakui FDA USA, dalam empat jam pasca gejala muncul. Obat bekerja dengan melarutkan gumpalan darah, sehingga aliran darah ke otak lancar kembali.

Saat pasien sudah stabil atau aliran darah ke otak kembali normal, dokter akan melakukan prosedur bedah yang disebut endarterektomi karotid. Tujuannya untuk mengangkat lemak yang menumpuk di dalam arteri karotid.

Prosedur ini dapat dilakukan di bawah pengaruh bius total, atau lokal. Umumnya, operasi berlangsung selama satu sampai dua jam. Sayatan kecil pada kulit akan dibuat tepat di atas arteri karotid yang tersumbat atau menyempit. Dokter bedah vaskular akan membuka arteri untuk mengangkat plak yang telah menumpuk di dalamnya. Kemudian, arteri dan sayatan akan ditutup dengan jahitan.

Endarterektomi karotid menawarkan manfaat jangka panjang untuk mengurangi risiko stroke. Namun, ada risiko dan kemungkinan komplikasi dari prosedur ini, termasuk perdarahan pasca operasi, stroke perioperatif, serangan jantung, cedera saraf, stenosis karotid, dan infeksi.

Meski angka kematian akibat stroke semakin berkurang, penyakit ini tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian di seluruh dunia dan penyebab utama cacat jangka panjang. Sebanyak 60% pasien yang selamat dari stroke, umumnya menderita:

  • Masalah fisik, termasuk sulit berjalan

  • Gangguan kognitif

  • Depresi

  • Masalah komunikasi

  • Gangguan emosional, seperti kecemasan, amarah, dan frustasi

  • Gangguan penglihatan

Rujukan:

  • Vascular and Interventional Radiology: The Requisites (2nd Edition), John A. Kaufman & Michael J. Lee, Publisher:Elsevier - Active as of 11/13/2014

  • Sims N.R.; Muyderman H. (2010). “Mitochondria, oxidative metabolism and cell death in stroke”. Biochimica et Biophysica Acta. 1802 (1): 80–91. PMID 19751827. doi:10.1016/j.bbadis.2009.09.003.

Bagikan informasi ini: