Definisi dan Gambaran Umum

Kanker kandung kemih adalah sejumlah kanker yang muncul pada lapisan epitel kandung kemih, yang juga dikenal dengan nama urotelium. Kandung kemih sendiri jarang terlibat dalam perkembangan dan kemunculan sarkoma dan limfoma, yang termasuk jenis kanker non-epitel dan biasanya tidak dianggap sebagai “kanker kandung kemih”.

Karsinoma sel transisi, yang juga dikenal dengan nama kanker sel uroterial, adalah jenis kanker kandung kemih yang paling umum terjadi. Di Amerika Serikat, 77 persen pasien yang didiagnosa menderita kanker kandung kemih memiliki harapan untuk bertahan hidup selama lima tahun.

Kanker kandung kemih diawali dengan pertumbuhan sel tidak normal yang tak terkendali pada lapisan kandung kemih. Kanker ini berkembang dengan cepat dan pada beberapa kasus, sel kanker menyebar dari lapisan epitel ke dinding otot kandung kemih. Jika tidak diobati, kanker kandung kemih akan menyebar ke bagian tubuh lain, seperti kelenjar getah bening, usus, ginjal, hati, dan paru-paru.

Kebanyakan kanker kandung kemih diketahui sebelum sel tidak normal tersebut tumbuh di luar lapisan epitel kandung kemih. Tujuh dari sepuluh penderita kanker kandung kemih didiagnosa memiliki kanker ringan, yang tidak menyerang dinding otot di luar lapisan kandung kemih. Jenis kanker ini dapat dengan mudah diobati dan tidak mengancam nyawa seseorang. Namun, jika kanker sudah mengenai dinding otot kandung kemih dan organ lain di sekitar area panggul, maka pasien hanya memiliki kemungkinan kecil untuk dapat bertahan hidup.

Penyebab Kanker Kandung Kemih

Penyebab utama kanker kandung kemih adalah pertumbuhan sel kanker pada lapisan epitel kandung kemih. Ada banyak faktor yang mempengaruhi perkembangan sel kanker, dan salah satu yang paling berperan adalah kebiasaan merokok. Penelitian menunjukkan bahwa para perokok lebih beresiko untuk mengidap kanker kandung kemih. Sekitar separuh dari pasien pria yang didiagnosa memiliki penyakit ini, dan juga sepertiga pasien wanita, adalah perokok. Hubungan antara kebiasaan merokok dengan resiko terkena kanker kandung kemih cukup erat, dan banyak praktisi kesehatan yang menyarankan untuk berhenti merokok demi mengurangi resiko terkena kanker kandung kemih.

Penelitian juga menunjukkan bahwa mereka yang terpapar amina aromatik, senyawa yang terdapat pada beberapa produk seperti kulit, tinta, pelarut, pewarna, dan cat untuk jangka waktu yang cukup lama juga meningkatkan resiko terkena penyakit ini. Bahkan sekitar 30 persen dari pasien kanker kandung kemih terpapar senyawa yang menyebabkan kanker, seperti 2-Napthylamine dan benzidin, di tempat kerja mereka.

Resiko terkena kanker kandung kemih juga semakin meningkat seiring pertambahan usia; banyak pasien yang didiagnosa menderita kanker ini pada usia 60 atau 70an. Pria empat kali lebih beresiko terkena kanker ini daripada wanita; orang kulit putih dua kali lebih beresiko menderita penyakit ini daripada keturunan Afrika-Amerika.

Gejala Utama

Salah satu gejala yang paling umum terjadi pada kanker kandung kemih adalah darah pada urin, yang juga dikenal dengan nama haematuria. Pada banyak kasus, darah tersebut terlihat dengan jelas dengan mata telanjang, terjadi beberapa kali, dan biasanya tanpa nyeri. Namun, dalam beberapa kasus, darah hanya muncul dalam jumlah yang sedikit, dan hanya dapat dilihat menggunakan mikroskop. Nyeri pada saat buang air kecil sering terjadi karena darah yang menggumpal, namun hal ini jarang terjadi.

Pada banyak kasus, para pasien tidak menyadari gejala yang timbul, sehingga diagnosis terlambat dilakukan.

Gejala kanker kandung kemih lainnya meliputi nyeri pada punggung atau rusuk, sering buang air kecil (dalam jumlah sedikit), ketidakmampuan untuk menahan buang air kecil, disuria (rasa nyeri ketika buang air kecil), ketidakmampuan untuk buang air kecil, nyeri pada tulang panggul, nyeri pada kaki, pembengkakan pada pergelangan kaki, dan jika kanker telah menyebar ke paru-paru dan tulang, batuk-batuk serta darah pada dahak.

Siapa yang Dapat Ditemui dan Jenis Perawatan yang Tersedia

Jika Anda mengalami salah satu dari gejala di atas atau merasa bahwa Anda lebih beresiko terkena kanker kandung kemih, buatlah jadwal bertemu dengan dokter Anda. Dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan apakah lapisan epitel kandung kemih Anda mengalami pertumbuhan sel kanker yang tidak normal. Anda kemudian akan dirujuk untuk menemui ahli saluran kemih (urologist) dan/atau ahli kanker kesehatan (onkolog) atau radiasi untuk mendapatkan perawatan dan penanganan bagi kondisi Anda.

Metode pengobatan bagi kanker kandung kemih bergantung kepada tingkat pertumbuhan sel kanker yang terjadi pada lapisan kandung kemih pasien. Tumor yang belum memasuki lapisan otot kandung kemih dapat dihilangkan melalui tindakan pembedahan yang disebut TUR (transurethral resection). Pada prosedur TUR, sebuah alat sterilisasi elektronik dipasang pada resektoskop dan digunakan untuk menghilangkan tumor dan mensterilkannya.

Pada kasus dimana tumor lemah muncul berulang kali, doktor dapat menyarankan terapi kekebalan tubuh (imunoterapi), yang melibatkan pemberian Bacillus Calmette-Guerin (intravesikular), vaksin yang dibuat untuk mengatasi tuberkolosis dan dapat mencegah kambuhnya tumor pada lapisan epitel kandung kemih dengan efektif. Terapi kekebalan tubuh dengan Bacillus Calmette-Guerin telah terbukti lebih efektif daripada kemoterapi standar oleh banyak penelitian.

Jika tumor yang muncul berulang kali tersebut tidak dapat diobati dengan TUR atau imunoterapi, maka dokter dapat menyarankan Anda untuk menjalani kistektomi, atau pembedahan untuk menghilangkan kandung kemih. Banyak pasien kanker kandung kemih yang tidak ingin menjalani kistektomi dan lebih memilih metode pengobatan lainnya.

Termoterapi, yang melibatkan pemanasan otot kandung kemih dengan frekuensi radio, cukup efektif untuk mengatasi kanker ini jika digabungkan dengan kemoterapi. Gabungan dari terapi radiasi dan kemoterapi juga dapat diberikan untuk mengatasi kanker kandung kemih yang telah mencapai tingkatan yang lebih serius. Penghilangan tumor melalui pembedahan juga merupakan salah satu cara yang populer, namun hal ini tidak mencegah tumor untuk kembali muncul di kemudian hari.

Referensi:

  • Bladder Cancer, Cancer Research UK
  • Bladder Cancer, Mount Sinai Hospital
  • SEER Stat Fact Sheets: Bladder Cancer, NCI
  • Bladder Cancer: Guideline for the Management of Nonmuscle Invasive Bladder Cancer, American Urological Association
  • Journal of the National Cancer Institute
Bagikan informasi ini: