Apa itu Kanker Lambung?

Kanker lambung adalah pertumbuhan abnormal di lambung, organ berongga dalam saluran pencernaan di mana makanan dihancurkan. Kanker biasanya muncul dari lapisan lambung, tetapi juga bisa timbul dari komponen lain, seperti otot polos. Jenis yang paling umum dari kanker lambung adalah adeno karsinoma, yang terjadi pada 95% kasus. Jenis lain adalah limfoma dan tumor stroma gastrointestinal, atau GIST.

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi penurunan kasus kanker lambung di Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya. Namun, kanker lambung tetap menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di seluruh dunia. Kanker lambung berada di peringkat lima teratas penyebab kanker, dan bertanggung jawab terhadap sekitar 7% kasus kanker. Hal ini umum di Asia, khususnya di Jepang dan Korea. Kanker lambung lebih sering memengaruhi pria daripada wanita, dan biasanya memengaruhi populasi lansia, biasanya mereka yang berusia lebih dari 70 tahun. Kanker lambung pada populasi muda cenderung lebih berbahaya dan memiliki perkiraan hasil perawatan (prognosis) yang lebih buruk. Tingkat kelangsungan hidup pada 5 tahun yang diperkirakan untuk kanker lambung adalah sekitar 20%.

Penyebab Kanker Lambung

Faktor genetik terlibat dalam patogenesis kanker lambung. Kelainan pada gen p53, COX-2, dan CDH1 telah dikaitkan dengan neoplasma ini. Peningkatan risiko juga terdapat pada individu dengan riwayat keluarga kanker lambung.

Selain faktor keturunan dan genetik, kanker lambung juga diyakini sangat dipengaruhi oleh lingkungan. Beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa ketika pasien yang datang dari daerah dengan insiden tinggi kanker lambung bermigrasi ke daerah dengan kejadian yang rendah, risiko kanker lambung menurun pada generasi berikutnya yang tinggal di daerah itu.

Diet tampaknya memainkan peran penting. Peningkatan risiko kanker lambung terlihat pada pasien dengan pola makan kaya pati dan daging asap. Nitrat yang ditemukan dalam daging mungkin menjadi penyebab kanker lambung. Nitrat dalam makanan diubah menjadi nitrit, sebuah karsinogen, di dalam perut. Di daerah dengan insiden tinggi kanker lambung, penurunan asupan makanan yang kaya nitrat dan meningkatkan asupan vitamin C dan E telah berhubungan dengan penurunan risiko perkembangan kanker lambung dalam populasi.

Kanker lambung juga dikaitkan dengan infeksi kronis Helicobacter pylori, bakteri yang berhubungan dengan radang lambung berkepanjangan (gastritis kronis) dan pengembangan tukak lambung berulang. Sekitar setengah penduduk dunia diyakini terinfeksi organisme ini. Pasien yang memiliki infeksi kronis memiliki risiko tiga kali lebih tinggi terkena kanker lambung daripada mereka yang tidak terinfeksi. Lebih dari 60% kasus kanker lambung berhubungan dengan infeksi H. pylori.

Merokok juga dipercaya berperan pada pertumbuhan kanker lambung. Peningkatan risiko 40-80% dapat dilihat pada perokok berat. Kanker lambung pada pasien ini biasanya terletak di perut bagian atas.

Faktor lain yang meningkatkan risiko perkembangan kanker lambung termasuk pasien dengan anemia pernisiosa (penyakit berkurangnya produksi sel darah merah dan ketidakmampuan menyerap vitamin B12), pasien berat badan berlebih (obesitas) yang mengidap gastroesophageal reflux disease atau GERD (gangguan pencernaan dimana adanya aliran balik isi lambung ke kerongkongan), pasien dengan gastritis atrofi kronis (radang lapisan perut menyebabkan hilangnya kelenjar di lambung dan penurunan produksi asam lambung), dan gangguan kekebalan tubuh seseorang dengan AIDS.

Gejala Kanker Lambung

Kanker lambung stadium awal biasanya memiliki gejala yang tidak spesifik. Maka dari itu, kanker lambung biasanya ditemukan pada stadium lanjut. Gejala yang paling umum dari kanker lambung adalah penurunan berat badan. Pasien juga sering mengalami cepat kenyang, atau perasaan penuh bahkan ketika makan hanya sedikit makanan. Gejala gangguan saluran pencernaan (gastrointestinal) lainnya, seperti kehilangan nafsu makan, muntah, mulas, kembung, gangguan pencernaan, dan kadang-kadang kesulitan menelan. Rasa perut tidak nyaman atau sakit juga terjadi. Perdarahan yang tersembunyi pada tinja biasa ditemukan, tetapi perdarahan akut mengakibatkan kotoran berwarna hitam tidak khas dan biasanya terjadi ketika massa sudah membesar. Karena kanker lambung biasanya ditemukan terlambat, beberapa pasien sudah datang dengan gejala yang menunjukkan penyebaran penyakit ke organ tubuh lainnya, seperti kesulitan bernapas.

Pemeriksaan fisik pasien dengan kanker lambung biasanya normal. Namun, beberapa pasien dapat memiliki massa yang teraba di bagian atas perut. Beberapa pasien mungkin juga datang dengan kelenjar yang terlihat membesar di leher atau perut.

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Segera berkonsultasi jika Anda mengalami gejala yang telah diseburkan di atas. Seorang ahli pencernaan akan dapat menilai Anda secara menyeluruh, dan dapat meminta berbagai pemeriksaan untuk mendiagnosa kondisi Anda. Jika Anda diduga memiliki kanker lambung, Anda akan harus menjalani esophagogastroduodenoscopy, atau EGD. Sebuah kamera dimasukkan ke dalam mulut ke perut Anda untuk memeriksa setiap massa. Biopsi dapat dilakukan dengan posisi duduk untuk menentukan adanya sel-sel kanker. Anda juga mungkin harus menjalani tes pencitraan, seperti CT scan, untuk mengetahui sejauh mana keparahan penyakit. Jika Anda memang memiliki kanker lambung, ahli pencernaan Anda mungkin akan mengarahkan Anda ke beberapa dokter spesialis lain, seperti dokter bedah umum, ahli onkologi medis, dan ahli onkologi radiasi.

Pembedahan adalah metode umum yang digunakan dalam pengobatan kanker lambung. Kanker lambung stadium awal dapat diobati dengan peneropongan (endoskopi), yang merupakan jenis tindakan invasif minimal. Untuk tumor besar yang masih bisa dibedah, pasien harus menjalani pembedahan yang dikenal sebagai radikal subtotal gastrektomi. Pembedahan melibatkan pengangkatan semua tumor, termasuk kelenjar getah bening, dengan batas yang memadai. Organ yang terlibat lainnya mungkin harus diangkat bersama dengan tumor di perut. Beberapa pasien dengan penyebaran kanker juga dapat mengambil manfaat dari gastrektomi paliatif. Pada pasien dengan tahap lanjut penyakit ini, pembedahan juga dapat dilakukan untuk memperbaiki gejala dan kualitas hidup.

Kemoterapi dan terapi radiasi terbukti memiliki manfaat minimal dalam pengobatan kanker perut yang telah diangkat. Namun, modalitas perawatan ini berguna untuk penanganan paliatif dan dapat membantu mengurangi ukuran massa dan meringankan gejala pasien. Uji klinis sedang dilakukan untuk menentukan peran kemoterapi dan terapi target baru dalam kanker lambung.

Rujukan:

  • Gastric Cancer Foundation. https://www.gastriccancer.org

  • Stomach (Gastric) Cancer – National Cancer Institute. https://cancer.gov/cancertopics/types/stomach

Bagikan informasi ini: