Apa itu Kanker Serviks?

Kanker serviks adalah salah satu kanker rahim yang paling umum dan diderita oleh setidaknya 11.000 wanita di Amerika Serikat setiap tahunnya. Walaupun setiap tahun ada lebih dari 4.000 wanita yang meninggal akibat kanker serviks, penyakit ini dapat dicegah dan diobati dengan tingkat keberhasilan sekitar 93%, apabila berhasil dideteksi pada stadium awal.

Jenis kanker ini terjadi pada serviks (leher rahim), yaitu bagian dari sistem reproduksi wanita yang menghubungkan saluran vagina dan rahim. Ada beberapa faktor yang dapat menambah risiko terjadinya kanker, namun 70% kasus kanker serviks disebabkan oleh jenis tertentu dari human papillomavirus. Virus ini juga dapat menyebabkan kanker mulut dan anus, serta lesi reproduksi ganas lainnya, misalnya pada penis dan vulva.

Kanker serviks biasanya dikategorikan sebagai adenokarsinoma, di mana kanker pertama tumbuh di sel yang menghasilkan mukus (sel kelenjar) atau sel skuamosa, di mana kanker berawal dari sel yang datar. Sebagian besar kasus kanker serviks adalah sel skuamosa, namun selama beberapa tahun terakhir ini adenokarsinoma lebih sering terjadi.

Kanker serviks adalah penyakit rahim yang tergolong berbahaya. Namun, penyakit ini dapat dicegah dan didiagnosis dengan berbagai pemeriksaan dan uji kesehatan. Pengobatan juga beragam, tergantung pada stadium, keganasan, penyebaran kanker, serta kesehatan pasien secara menyeluruh. Kanker serviks dapat dicegah dengan pemberian vaksin HPV.

Penyebab Kanker Serviks

Penyebab kanker serviks adalah HPV (human papillomavirus), jenis virus yang menyebabkan kutil, yaitu pertumbuhan daging kecil yang jinak dan dapat ditemukan di lapisan atas kulit, termasuk kulit di alat kelamin.

Virus memiliki berbagai jenis dan sebagian besar di antaranya tidak terlalu memengaruhi kesehatan seseorang karena sistem kekebalan tubuh sudah dapat membunuh virus sebelum virus menyebabkan infeksi. Namun, ada beberapa virus yang menyebabkan perubahan sel dan akhirnya menyebabkan kanker serviks. Virus yang dimaksud adalah virus HPV 16 dan 18. Seorang wanita dapat terinfeksi kedua virus tersebut, dan kemudian virus akan tetap tertidur/tidak aktif. Bahkan, virus dapat tertidur sampai 10 tahun, sebelum akhirnya gejala kanker akan mulai timbul.

Terkena HPV bukan berarti seorang wanita akan menderita kanker serviks – ataupun kutil pada alat kelamin – namun virus tersebut tentu saja meningkatkan risiko terkena kanker serviks. Sel yang terkena HPV tidak langsung berubah menjadi sel ganas. Pertama, sel akan mengalami masa transformasi, di mana mereka akan diklasifikasikan sebagai pra kanker. Sel pra kanker dapat dideteksi dengan uji pap, sehingga dapat segera diobati dan tidak berubah menjadi sel yang ganas.

Faktor risiko lainnya adalah:

  • Aktivitas seksual yang berbahaya. Wanita yang memiliki kebiasaan seksual yang berbahaya, misalnya memiliki pasangan seksual lebih dari satu atau tidak menggunakan alat pengaman, harus menjalani pemeriksaan HPV secara rutin. HPV dapat ditularkan melalui sentuhan kulit. Kondom dapat mengurangi risiko penularan namun tidak menghilangkan risiko.

  • Merokok. Studi menunjukkan bahwa wanita yang merokok memiliki risiko terkena kanker serviks yang dua kali lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak merokok. Merokok dapat menyebabkan masuknya zat kimia yang berbahaya ke dalam tubuh, yang kemudian disalurkan ke berbagai sel tubuh melalui peredaran darah.

  • Gangguan pada sistem kekebalan tubuh (misalnya: pasien yang menderita AIDS, HIV, dan hepatitis C)

  • Penggunaan pil kontrasepsi dalam jangka panjang

Gejala Utama Kanker Serviks

Gejala atau tanda-tanda kanker serviks, antara lain:

  • Pendarahan yang tidak normal, terutama saat menstruasi

  • Nyeri saat berhubungan seksual

  • Keluarnya cairan dari vagina

  • Pendarahan setelah mengalami menopause

  • Menstruasi yang lebih banyak dan lebih lama

  • Ada sedikit darah yang keluar saat sedang tidak menstruasi

  • Pendarahan setelah pemeriksaan panggul

Namun, gejala kanker serviks biasanya tidak terlihat pada stadium awal.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Wanita, terutama mereka yang aktif secara seksual, harus menemui dokter ahli kandungan untuk pemeriksaan rutin dari sel pra kanker dan kanker di serviks. Salah satu uji kesehatan yang paling disarankan adalah uji pap, di mana dokter akan mengambil sel dari serviks. Jenis pemeriksaan lainnya adalah uji HPV, yang bertujuan untuk mencari HPV di DNA.

Dengan adanya aturan yang baru, wanita yang belum berusia 30 tahun disarankan menjalani uji pap setiap 3 tahun sekali. Uji HPV sebaiknya hanya dilakukan apabila hasil uji pap menunjukkan adanya sel yang tidak normal. Sedangkan wanita yang berusia 30 tahun ke atas namun kurang dari 65 tahun harus menjalani pemeriksaan kanker serviks setiap 5 tahun sekali. Mereka juga dapat tetap menjalani pap smear setiap 3 tahun sekali ataupun pemeriksaan lainnya.

Dokter kandungan juga dapat melakukan uji kesehatan lain, seperti uji fisik dan panggul.

Apabila hasil dari pap smear atau HPV (atau keduanya) menunjukkan adanya sel yang abnormal, dokter dapat melakukan tindakan berikut:

  • Kolposkopi – pemeriksaan serviks dan vagina untuk mengetahui adanya kelainan dengan menggunakan kolposkop dan pengambilan sampel jaringan

  • Kuret endoserviks – mengambil sampel jaringan dengan kuret

  • Biopsi – memotong jaringan sampel serviks

Perubahan sel yang terjadi akan diperiksa untuk mengetahui apakah sel bersifat jinak atau ganas. Apabila sel tumor rahim bersifat ganas, pasien akan dirujuk ke dokter kanker spesialis kanker serviks atau sistem reproduksi untuk menjalani pengobatan.

Pengobatan yang diberikan dapat berupa gabungan antara operasi, kemoterapi, obat-obatan, dan radioterapi. Rencana pengobatan tergantung pada stadium kanker, kesehatan pasien secara menyeluruh, dan apakah sudah terjadi metastasis (penyebaran kanker ke organ tubuh lainnya).

Operasi kanker serviks dapat meliputi:

  • Pengangkatan serviks dan bagian dari vagina (trakhelektomi radikal)

  • Pengangkatan seluruh sistem reproduksi, termasuk rektum (pelvic exenteration)

  • Pengangkatan rahim, tuba falopi, serviks, dan ovarium (histerektomi)

Biasanya pada stadium awal, kanker serviks dapat disembuhkan hanya dengan operasi. Namun apabila sudah memasuki stadium akhir, operasi kemungkinan harus dilanjutkan dengan radioterapi (internal dan/atau eksternal) dan kemoterapi (menggunakan gabungan obat-obatan tertentu) untuk membunuh sel kanker.

Kanker serviks juga dapat dicegah dengan vaksin. Vaksin HPV seperti Cervarik dan Gardasilcan dapat mengurangi risiko kanker serviks sampai 70% dan melindungi tubuh dari jenis virus HPV lainnya.

Rujukan:

  • Jhingran A, Russell AH, Seiden MV, et al. Cancers of the cervix, vulva, and vagina. In: Niederhuber JE, Armitage JO, Doroshow JH, et al., eds. Abeloff’s Clinical Oncology. 5th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Churchill Livingstone; 2013:chap 87.

  • National Comprehensive Cancer Network. NCCN Clinical Practice Guidelines in Oncology (NCCN Guidelines): Cervical cancer. Version 3.2013. Available at http://www.nccn.org/professionals/physician_gls/pdf/cervical.pdf. Accessed November 12, 2013.

  • Noller KL. Intraepithelial neoplasia of the lower genital tract (cervix, vulva): Etiology, screening, diagnostic techniques, management. In: Katz VL, Lentz GM, Lobo RA, Gershenson DM, eds. Comprehensive Gynecology. 6th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Mosby; 2012:chap 28.

  • U.S. Preventive Services Task Force. Screening for Cervical Cancer: U.S. Preventive Services Task Force Recommendation Statement. AHRQ Publication No. 11-05156-EF-2, March 2012. Available at: http://www.uspreventiveservicestaskforce.org/uspstf11/cervcancer/cervcancerrs.htm. Accessed November 12, 2013.

Bagikan informasi ini: