Apa itu Kanker Akibat HIV?

HIV atau human immunodeficiency virus adalah infeksi serius yang dapat merusak sistem imun. Apabila sudah gejalanya sudah mulai nampak, maka virus ini dapat menyebabkan penyakit berbahaya yang bernama AIDS (acquired immune deficiency syndrome).

Pasien HIV akan mengalami kerusakan pada sistem imun, sehingga mereka lebih berisiko terkena penyakit lain, termasuk kanker, apalagi jika AIDS sudah mulai berkembang.

Beberapa contoh kanker akibat HIV yang paling umum adalah limfoma non-Hodgkin, kanker serviks, dan sarkoma Kaposi. Pasien HIV juga berisiko terkena kanker hati, mulut, tenggorokan, paru-paru, testikel, penis, kolon/rektum, dan kulit.

Penyebab Kanker Akibat HIV

Jenis kanker akibat HIV berbeda-beda, sehingga memiliki faktor risiko yang beragam. Namun, penyebab utama dan umum dari kanker ini adalah sistem imun pasien HIV/AIDS yang melemah. Sistem imun yang melemah tidak akan mampu melawan perubahan dan pertumbuhan abnormal dari sel. Sehingga, sel tersebut akan bertambah secara signifikan sampai membentuk massa atau tumor. Tumor atau massa yang bersifat ganas dapat menyebar ke bagian tubuh lainnya dan menyebabkan infeksi serius.

  • Limfoma non-Hodgkin – Limfoma non-Hodgkin adalah jenis kanker yang tumbuh di sistem limfatik. Sistem limfatik terdiri dari limpa, timus, amandel, dan nodus limfa. Sistem ini berperan penting dalam melindungi tubuh dari infeksi dengan mengedarkan sel darah putih atau limfosit ke seluruh tubuh.

  • Kanker serviks – Jenis kanker ini terjadi di serviks, yaitu organ wanita yang terletak di bagian bawah rahim. Serviks, yang menghubungkan rahim ke vagina, merupakan saluran kelahiran yang dilewati janin saat persalinan. Kanker serviks dikaitkan dengan infeksi HPV atau human papillomavirus, yang dapat menyebabkan tumbuhnya sel pra-kanker.

  • Sarkoma Kaposi – Sarkoma Kaposi adalah jenis kanker kulit yang disebabkan oleh herpesvirus 8 atau HHV-8. Kanker ini paling banyak diderita oleh pria keturunan Afrika, Yahudi, atau Mediterania, serta pria homokseksual yang terinfeksi HIV atau AIDS. Orang yang telah menjalani transplantasi organ juga lebih berisiko terkena penyakit ini.

Gejala Utama Kanker Akibat HIV

Limfoma non-Hodgkin (non-Hodgkin lymphoma/NHL) dapat terjadi pada bagian tubuh tertentu dan menyebabkan berbagai gejala. Dalam sebagian besar kasus limfoma akibat HIV, kanker akan menjangkiti sistem saraf pusat utama, terutama cairan tulang belakang dan otak. Namun, beberapa kasus NHL juga dapat memengaruhi paru-paru atau perut, sehingga menyebabkan penimbunan cairan abnormal di organ tersebut. NHL dapat terdeteksi saat pasien mengalami gejala berikut:

  • Nodus limfa yang bengkak namun tidak sakit di leher, ketiak, atau selangkangan
  • Pembengkakan perut
  • Nyeri perut
  • Nyeri dada
  • Batuk
  • Kesulitan bernapas
  • Demam
  • Menggigil
  • Kelelahan
  • Penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya


Sementara itu, kanker serviks ditandai oleh gejala berikut:

  • Mual
  • Muntah
  • Nyeri perut
  • Penyumbatan perut
  • Pendarahan dalam
  • Pembengkakan wajah yang parah
  • Radang berat pada lengan, kaki, atau skrotum
  • Sesak napas
  • Batuk parah
  • Kesulitan menelan

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang terkena kanker akibat HIV harus ditangani oleh dokter kanker, yaitu seorang ahli medis dengan keahlian khusus dalam diagnosis, pengobatan, dan penanganan kanker.

Pengobatan penyakit ini akan membutuhkan pertimbangan khusus karena sistem imun pasien telah rusak.

Tujuan pengobatan adalah:

  • Menghilangkan gejala dan efek samping
  • Menghentikan atau memperlambat pertumbuhan kanker
  • Menyembuhkan infeksi HIV


Selama pengobatan, pasien HIV harus terus menjalani pengobatan antiviral, yang berupa pengobatan antiretroviral yang sangat aktif. Pengobatan ini dapat mengendalikan human immunodeficiency virus. Pengobatan HIV dianggap lebih penting karena juga dapat membantu menyembuhkan kanker. Maka dari itu, pengobatan HIV biasanya dilakukan sebelum pengobatan kanker. Selama masa pengobatan, pengobatan HIV harus dikoordinasikan dengan pengobatan kanker untuk menghindari interaksi obat yang berbahaya dan efek samping.

Pengobatan kanker kebanyakan terdiri dari:

  • Operasi
  • Kemoterapi
  • Terapi fotodinamik
  • Terapi radiasi
  • Imunoterapi (biasanya dengan alpha-interferon)
  • Terapi target (biasanya dengan rituximab)


Operasi biasanya dilakukan sebagai tindakan pertama untuk mengangkat tumor ganas. Tindakan ini dilakukan dengan beragam teknik bedah, tergantung pada ukuran dan letak tumor. Teknik bedah yang digunakan meliputi:

  • Cryosurgery
  • Kuretase dan elektrodesikasi

    Rujukan:

  • National Cancer Institute: "General Information About AIDS-Related Lymphoma."

  • National Cancer Institute: "General Information About Non-Hodgkin's Lymphoma."
  • Lymphoma Foundation Canada: "HIV & Lymphoma."
  • American Cancer Society: "Detailed Guide: Lymphoma, Non-Hodgkin's Type Chemotherapy."
  • American Cancer Society: "Non-Hodgkin Lymphoma."
  • News release, Gilead Sciences.
Bagikan informasi ini: