Apa itu Kantuk Berlebih di Siang Hari?

Kondisi ini juga dikenal sebagai hipersomnia, rasa kantuk berlebih di siang hari (Excessive Daytime Sleepiness/EDS) adalah salah satu jenis masalah tidur yang merujuk pada keinginan untuk tidur yang tidak dapat dikendalikan pada siang hari, sehingga penderitanya lebih aktif di malam hari.

Tubuh memiliki jamnya sendiri (yang seringkali disebut jam tubuh) yang membantu mengatur beragam aktivitas, seperti mengeluarkan hormon. Hal ini ditandai dengan osilasi, fluktuasi, atau dips dan lows. Meskipun gen dapat memengaruhi fungsi jam ini, lingkungan seseorang juga dapat memainkan peran besar.

Misalnya, jam tubuh dipengaruhi oleh cahaya yang diterima oleh mata. SCN atau suprachiasmatic nucleus, adalah bagian otak yang berada sangat dekat dengan saraf optik, yang mengirimkan sinyal visual ke otak. Saat melihat gelap, SCN mulai menghasilkan melatonin, yang membantu seseorang merasa lebih rileks dan siap untuk tidur.

Tidur sangatlah penting untuk proses tubuh. Seseorang yang kurang tidur akan mengalami gangguan kognitif, hilangnya ingatan, dan bahkan perubahan suasana hati dan perilaku. Ia akan menjadi mudah tersinggung dan marah, membuatnya sulit untuk dihadapi.

Secara fisik, kualitas tidur yang buruk mengurangi kekebalan tubuh, meningkatkan berat badan, dan menurunkan gairah seks. Mereka yang kurang tidur memiliki resiko berkembangnya penyakit jantung dan diabetes.

Penyebab Kantuk Berlebih di Siang Hari

  • Stres Kronis – Stres kronis mengacu pada perasaan berada di bawah tekanan secara terus menerus. Ini dapat menyebabkan tidak bisa tidur di malam hari atau kualitas tidur yang buruk, memaksa tubuh untuk mengganti kurangnya tidur dengan memperpanjang rasa kantuk di pagi hari.

  • Rasa sakit – Seseorang yang berada dalam rasa sakit fisik maupun emosional biasanya berakhir dengan kurangnya tidur. Rasa sakit membuat mereka terjaga sepanjang malam.

  • Apnea tidur – Apnea tidur dikarakterisasikan dengan dengkuran keras. Dalam banyak kasus, suara dengkuran dapat sangat keras sehingga orang tersebut bangun di tengah malah, sehingga menggangu tidur nyenyak.

  • Narkolepsi – Ini adalah gangguan neurologis langka yang dicirikan dengan rasa kantuk berlebih pada siang hari karena kurangnya kemampuan otak penderita untuk mengatur pola tidur dan bangun secara efektif. Sehingga, penderita dapat tertidur tiba-tiba, kapanpun. Mereka yang menderita kondisi ini dalam jangka waktu yang lama dapat merasakan kapan akan tertidur beberapa detik sebelumnya, namun lebih sering terjadi begitu saja. Ini menempatkan seseorang dalam bahaya besar akan cedera atau bahkan kematian.

  • Katapleksi – Katapleksi adalah kondisi yang ditandai dengan hilangnya kontrol otot secara mendadakan yang dipicu oleh sentakan emosi seperti tertawa atau marah. Seseorang dengan katapleksi dapat kolaps dan berakhir dengan tertidur. Kondisi ini lebih umum dibandingkan narkolepsi.

  • Myxedema – Kondisi ini mengancam nyawa yang berkembang karena komplikasi dari tiroid yang kurang aktif. Ini berarti kelenjar tiroid, yang berbentuk seperti kupu-kupu dan terletak sedikit di atas pita suara, melepaskan hormon lebih sedikit daripada yang seharusnya. Seseorang dengan myxedema memiliki kondisi seperti lilin pada kulitya karena jaringan yang membengkak, dan juga intoleransi pada panas, lesu dan mengantuk.

  • Giliran kerja – Ini dapat menganggu ritme sirkandia tubuh.

  • Obat-obatan – obat tertentu dapat menganggu pola tidur-bangun seseorang dengan membuatnya tertidur di siang hari.

  • Insomnia – Insomnia adalah gangguan tidur yang membuat penderitanya sulit untuk tertidur atau tetap tertidur.

  • Makan besar – Beberapa orang merasa mengantuk setelah makan besar seperti sarapan. Ini terjadi karena hormon tertentu seperti glukosa dan melatonin. Saat tubuh mengonsumsi makan, pankreas melepas lebih banyak insulin yang meningkatkan produksi melatonin.

Gejala Utama Kantuk Berlebih di Siang Hari

Sangatlah normal jika merasa ngantuk di pagi hari atau sepanjang hari, terutama jika Anda tidak tidur nyenyak di malam sebelumnya. Namun, seseorang harus mencari bantuan dari penyedia pelayanan kesehatan jika merasa ngantuk yang dibarengi dengan:

  • Rasa kronis seperti lesu dan lelah
  • Kehilangan kontrol otot secara tiba-tiba
  • Sulit untuk melawan tidur
  • Ketidaksadaran
  • Intoleransi pada perubahan suhu tubuh
  • Perubahan suasana hati dan perilaku
  • Kesulitan untuk mengingat atau menyimpan informasi
  • Merasa lesu bahkan setelah mendapatkan tidur yang cukup
  • Gejala diabetes seperti tingkat insulin atau glukosa yang tinggi pada darah

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Ahli terbaik untuk mendiagnosa kantuk belebih di siang hari adalah spesialis tidur atau dokter umum. Untungnya, pada masa sekarang banyak fasilitas perawatan kesehatan memiliki laboratorium yang dapat membantu mendiagnosa masalah.

Beragam tes dapat dilakukan untuk mendiagnosa gangguan tidur, termasuk darah, analisis urin, dan polisomnografi, tes untuk mengukur aktivitas otak atau gelombang otak saat seseorang tertidur. Selain gelombang otak, tingkat oksigen dalam darah dan pergerakan anggota tubuh juga diukur.

Sementara, pengobatannya tergantung pada sebabnya. Langkah pertama untuk menghindari kelesuan adalah memastikan pasien mendapatkan waktu tidur yang cukup. Ini bisa dicapai dengan:

  • Mengikuti pola tidur-bangun standar (ini berarti tertidur di malam hari)
  • Mematikan lampu di malam hari
  • Menyimpan perangkat dengan lampu seperti telepon genggam dan tablet di luar kamar tidur
  • Mengurangi stres
  • Makan mengikuti pola makan sehat dan seimbang
  • Menghindari aktivitas berat di malam hari

Di sisi lain, kondisi yang terkait dengan kelesuan dapat diobati, tergantung pada diagnosisnya. Misalnya, seseorang dengan narkolepsi dapat diresepkan stimulan dan antidepresan, sementara orang yang menderita apnea tidur dapat diobati dengan CPAP atau tekanan udara positif terus menerus.

Rujukan:

  • Sateia MJ. International classification of sleep disorders-third edition: highlights and modifications. Chest. 2014;146:1387-1394. PMID 25367475 www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/25367475.

  • Wakefield TL, Lam DJ, Ishman SL. Sleep apnea and sleep disorders. In: Flint PW, Haughey BH, Lund VJ, et al., eds. Cummings Otolaryngology: Head & Neck Surgery. 6th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Mosby; 2015:chap 18.

Bagikan informasi ini: