Apa itu Kateterisasi Jantung?

Kateterisasi jantung atau disebut juga angiogram koroner. Kateterisasi jantung adalah tindakan pemeriksaan invasif yang melibatkan pemasukan kateter, sebuah tabung tipis berongga, ke jantung untuk menilai kondisi nyata dari organ tersebut.

Jantung memainkan peranan penting dalam keberlangsungan hidup. Jantung membantu mendistribusikan darah ke bagian yang berbeda pada tubuh dan memungkinkan sel untuk memperoleh nutrisi yang dibawa oleh darah.

Organ jantung yang menjadi bagian dari sistem sirkulasi ini juga memiliki mekanismenya sendiri dalam bekerja. Selain memompa darah, jantung juga menggunakan sinyal elektrik untuk memungkinkan darah mengalir melalui rongga-rongga yang berbeda.

Bagaimana pun juga, sebagaimana organ lainnya, jantung juga dapat mengalami permasalahan. Sebagai contoh, kolesterol jahat yang tinggi dan trigliserida dapat membangun plak pada dinding arteri dan katup jantung. Ketika mereka menyempit, jantung dipaksa untuk bekerja lebih keras yang berarti menaruh tekanan yang besar pada salah satu otot terbesar dan terpenting tubuh. Kondisi ini disebut penyempitan. Selama kondisi tersebut berlangsung, seseorang dapat mengalami kesulitan bernafas. Kondisi ini juga dapat memicu gagal jantung, hipertensi, atau stroke.

Kesalahan sistem di jantung juga dapat mengakibatkan berbagai permasalahan. Sebagai contoh, aritmia yaitu keganjilan atau ketidak beresan pada detak jantung yang biasanya disebabkan oleh masalah pada aktifitas elektrik pada jantung.

Sebagai tindakan pencegahan atau rencana pengendalian, dokter termasuk kardiolog, yaitu ahli segala keluhan jantung, akan menyarankan pengujian seperti kateterisasi jantung.

Bersamaan dengan itu, intervensi koroner perkutan seperti angioplasty dengan pemasangan ring atau angiografi koroner juga dapat dilakukan.

Siapa yang Membutuhkan Kateterisasi Jantung dan Hasil yang Diharapkan

Katerisasi jantung dilakukan ketika:

  • Pencitraan biasa dan pengujian standar tidak memberikan hasil yang memuaskan atau kekurangan data - Dokter merekomendasikan ini tindakan jika mereka membutuhkan informasi lebih untuk menilai kondisi jantung dengan akurat yang tidak dimungkinkan hanya melalui pengujian fisik atau penyinaran X.

  • Pasien telah melakukan IKP - IKP (intervensi koroner perkutan) adalah jenis tindakan yang dilakukan untuk mencegah penyempitan, atau penghalangan arteri, katup, dan pembuluh vena. Biasanya kateter dimasukkan terlebih dahulu sebelum ujung balon dikirimkan menuju jantung. Setelah alat tersebut berada pada posisinya, balon akan mengembang dan mengempis beberapa kali, mendorong endapan plak ke dinding dan memperlebar jalan darah. Untuk meyakinkan bahwa jalan tersebut tetap terbuka, selongsog juga ditanam di sana .

  • Pasien harus melakukan angiografi koroner - Dalam angiografi koroner, pewarna kontras dihantarkan melalui kateter yang telah terpasang. Ketika pasien melakukan pemindaian, pewarna tersebut membuat isi dari pembuluh arteri lebih terlihat.

  • Seseorang dengan sejarah gagal jantung - Tindakan ini membantu dokter untuk memantau tekanan dan aktivitas elektrik dari rongga jantung dan jumlah oksigen yang terdapat di dalamnya.

Kateterisasi jantung juga diperlukan untuk menguji apakah rencana tindakan, pencegahan, atau pengendalian yang dilakukan telah bekerja dengan baik.

Tindakan tersebut, meskipun invasif, jarang mengalami komplikasi atau risiko yang serius. Namun tergantung pada dimana kateter ditempatkan, pasien dapat lebih sering merasa ingin membuang air kecil setelah tindakan dilakukan. Pasien pun dapat menginap di rumah sakit atau diantar pulang setelah tindakan dilakukan sesuai saran dokter.

Cara Kerja Kateterisasi Jantung

Sebelum tindakan dilakukan, dokter akan mencatat obat-obatan, hasil dari pengujian sebelumnya, serta kesehatan pasien secara menyeluruh.

Tindakan kemudian dilakukan di rumah sakit dengan pembiusan lokal; kondisi ini berarti pasien tetap bangun namun tidak akan mengingat sebagian besar tindakan. Kateter dapat dipasang pada pembuluh darah besar mana saja yang biasa ditemukan di leher, pangkal paha, atau pergelangan tangan. Lokasi yang terpilih kemudian dikebalkan dengan obat bius untuk mengurangi rasa sakit.

Penorehan yang sangat kecil kemudian dilakukan pada lokasi tersebut, setelah selongsong dipasang sebelum kawat halus panjang dimasukkan. Kawat ini akan menuju jantung, berperan sebagai pemandu bagi kateter. Sistem pencitraan atau sonde tipis yang lentur juga dapat dimasukkan untuk memungkinkan dokter melihat penempatan yang tepat bagi selongsong dan kawat pemandu.

Jika keduanya telah berada di lokasi yang tepat, dokter kemudian memasukkan kateter ke dalam torehan kecil tersebut. Kateter akan masuk ke dalam selongsong mengikuti jalan dari kawat penuntun, tetapi tetap berada di atas kawat. Dokter akan membimbing kateter hingga mencapai jantung dengan hati-hati.

Dokter kemudian dapat melakukan tindakan lain yang dibutuhkan, seperti angioplasty, pemasangan ring, pengumpulan contoh oksigen, atau angiografi koroner.

Setelah semua tindakan yang dibutuhkan selesai, kateter, kawat pemandu, dan selongsong dilepaskan. Luka yang terjadi kemudian ditutup dan dibebat. Sedikit tekanan mungkin harus dilakukan untuk mengurangi kemungkinan pendarahan. Butuh waktu setidaknya 30 menit untuk menyelesaikan seluruh tindakan.

Kemungkinan Komplikasi dan Risiko Kateterisasi Jantung

Pada umumnya, kateterisasi jantung jarang mengalami komplikasi atau risiko serius. Setelah tindakan dilakukan, sangatlah wajar jika terlihat memar atau pendarahan kecil.

Lokasi penorehan merupakan luka yang berarti dapat menjadi jalan terbuka bagi bakteri dan virus. Oleh karena itu, penting bagi pasien untuk mengikuti saran dari dokter untuk membersihkan dan membalut lokasi luka tersebut. Dengan cara itu, risiko infeksi dapat dikurangi secara signifikan.

Lokasi tersebut juga dapat terasa nyeri (atau bengkak), merah, dan perih selama beberapa hari pertama setelah tindakan dilakukan. Jika kondisi tersebut memburuk atau tidak berkurang, pasien harus segera menghubungi dokter.

Dalam Beberapa kasus, pembuluh darah, termasuk yang sehat, dapat rusak. Hal ini dapat terjadi jika kateter tanpa sengaja menggores pembuluh sensitif yang melalui jantung.

Bagi mereka yang melakukan angiografi, mereka harus memiliki ginjal yang berfungsi baik karena mereka harus membuang pewarna kontras. Penggumpalan darah dan reaksi alergi juga merupakan komplikasi yang memungkinkan dalam tindakan ini.

Rujukan:

  • Davidson CJ, Bonow RO. Cardiac catheterization. In: Bonow RO, Mann DL, Zipes DP, Libby P, eds. Braunwald's Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 9th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 20.

  • Fraker TD Jr, Fihn SD, Gibbons RJ, Abrams J, Chatterjee K, Daley J et al. 2007 chronic angina focused update of the ACC/AHA 2002 Guidelines for the management of patients with chronic stable angina: a report of the American College of Cardiology/American Heart Association Task Force on Practice Guidelines Writing Group to develop the focused update of the 2002 Guidelines for the management of patients with chronic stable angina. Circulation. 2007;116:2762-2772.

  • Kern M. Catheterization and angiography. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 57.

Bagikan informasi ini: