Apa itu Blefarospasme?

Blefarospasme adalah suatu gangguan kesehatan yang ditandai dengan berkedip secara berlebihan. Otot di sekitar mata akan mengalami kedutan atau spasme (kontraksi otot secara tak sadar). Pada beberapa kasus, blefarospasme juga dapat menjangkiti otot di sekeliling mulut. Apabila tidak ditangani, blefarospasme akan menyebabkan gangguan penglihatan atau kebutaan fungsional, karena kelopak mata tidak dapat membuka.

Walaupun dikenal sebagai penyakit yang terjadi secara mendadak, namun blefarospasme biasanya diawali dengan gejala yang ringan. Mata pasien akan mulai berkedut ketika berada dalam situasi tertentu, misalnya terkena sinar matahari, mengalami tekanan, atau membaca. Ketika mata berada dalam situasi-situasi tersebut, kedutan mata akan berubah menjadi kedipan. Seiring memburuknya kondisi pasien, kedipan mata akan bertambah parah walaupun saat tidak berada dalam kondisi pemicu. Pada stadium akhir, kelopak mata bisa saja tidak dapat terbuka selama beberapa jam atau untuk waktu yang lama.

Saat mendiagnosis blefarospasme, dokter biasanya tidak dapat mengetahui penyebab pasti blefarospasme. Beberapa dokter percaya bahwa blefarospasme disebabkan oleh gangguan pengiriman sinyal antar sel otak. Beberapa dokter lainnya percaya bahwa kondisi ini disebabkan oleh kondisi lingkungan, obat-obatan, atau zat kimia tertentu.

Penyebab Blefarospasme

Pada kebanyakan kasus, penyebab blefarospasme tidak dapat diketahui. Namun, dokter telah menemukan bahwa kondisi ini bersifat jinak, yang berarti blefarospasme tidak akan menyebar ke bagian tubuh lainnya, walaupun dapat mengenai otot wajah.

Semua orang, dari semua usia, jenis kelamin, atau ras, berisiko terkena blefarospasme. Pasien berusia 40-65 tahun lebih berisiko terkena blefarospasme dibandingkan pasien yang lebih muda. Kondisi ini juga lebih sering ditemukan pada wanita daripada pria.

Banyak kasus blefarospasme yang telah terjadi sejak usia anak, namun kondisi ini terus memburuk seiring bertambahnya usia seseorang.

Penyebab blefarospasme masih belum diketahui, namun ilmuwan telah menemukan bahwa masalah biasanya terjadi ketika ada kelainan fungsi pada basal ganglia, yang terletak di bagian dasar otak depan. Ilmuwan masih terus meneliti penyebab kelainan fungsi ini. Kondisi ini bisa juga disebabkan oleh faktor keturunan.

Gejala Utama Blefarospasme

Gejala utama blefarospasme adalah otot kelopak mata dan otot di sekitar mata yang berkedut. Seiring memburuknya kondisi pasien, kedutan ini juga dapat menyebar ke otot di sekitar bibir.

Bagi beberapa orang, kedutan mata dapat dipicu oleh cahaya matahari, tekanan emosional, dan kelelahan. Sebagai contoh, apabila seseorang sedang membaca, atau ketika ia sedang memiliki masalah emosional, ia dapat mengalami iritasi mata, yang kemudian menyebabkan kedutan mata.

Kedutan mata sering kali berubah menjadi kedipan yang tak terkendali. Awalnya, kedipan mata mungkin terlihat seperti respon otomatis pada kondisi tertentu. Pasien sering mengira kedipan sebagai tindakan atau perilaku tanpa sadar yang tidak perlu dikhawatirkan.

Sayangnya, seiring bertambahnya waktu, kedipan mata akan lebih sering terjadi tanpa pemicu. Kedipan mata juga dapat disertai kedutan pada otot wajah lainnya.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Kedipan mata yang terkendali dapat sangat mengganggu dan memalukan. Karena blefarospasme merupakan penyakit mata, pasien biasanya akan menemui dokter mata. Pada tahap ini, Anda harus mengetahui bahwa karena penyebab blefarospasme belum diketahui, maka penyakit ini juga belum dapat disembuhkan. Namun, ada pilihan pengobatan yang dirancang untuk menangani gejala blefarospasme. Sebagian besar pengobatan hanya bersifat sementara, oleh karena itu pasien harus menemui dokter mata secara teratur untuk menjalani pengobatan.

Pengobatan utama untuk blefarospasme adalah penyuntikkan obat relaksasi otot, seperti botulinum toxin, atau BOTOX. Obat ini disuntikkan langsung ke kelopak mata untuk melumpuhkan otot. Efek BOTOX hanya bertahan untuk waktu yang singkat. Berapa lama efeknya dapat bertahan akan beragam pada setiap orang. Efek BOTOX dapat bertahan hanya selama beberapa minggu pada beberapa orang, namun bisa juga bertahan sampai beberapa bulan pada orang lain.

Blefarospasme juga dapat ditangani dengan meminum obat, namun hasilnya tidak dapat diperkirakan. Walaupun bisa memberikan hasil, namun efek dari obat yang diminum tidak dapat bertahan lama.

Metode pengobatan blefarospasme yang sangat efektif adalah tindakan bedah kecil bernama myectomy, yang bertujuan untuk mengangkat beberapa saraf dan otot yang ada di kelopak mata. Tindakan ini telah berhasil dilakukan pada 85% pasien blefarospasme.

Selain pertolongan medis tradisional, beberapa orang juga mencoba menangani blefarospasme dengan pengobatan alternatif, misalnya akupuntur dan hipnosis. Keberhasilan pengobatan alternatif sangat beragam dan tidak ada bukti ilmiah yang dapat membuktikan keefektifannya.

Pasien yang telah terkena blefarospasme harus segera mendapatkan pengobatan. Blefarospasme yang didiamkan saja dapat menyebabkan komplikasi yang serius, seperti kebutaan fungsional. Namun, Anda juga harus tahu bahwa pengobatan yang tersedia juga dapat menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan.

Beberapa orang kehilangan ekspresi wajah mereka karena otot wajah yang lumpuh sementara. Pasien lainnya dapat mengalami gangguan penampilan, misalnya perubahan posisi kelopak mata.

Rujukan:

  • Faucett DC. Essential blepharospasm. In: Yanoff M, Duker JS, eds. Ophthalmology. 3rd ed. St. Louis, MO: Mosby Elsevier; 2008:chap 12.8

  • Prasad S, Galetta SL. The facial nerve. In: Tasman W, Jaeger EA, eds. Duane's Ophthalmology. 2013 ed. Philadelphia, PA: Lippincott Williams & Wilkins; 2013:vol 2, chap 8

  • Yanoff M, Cameron D. Diseases of the visual system. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman's Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 431

Bagikan informasi ini: