Apa itu Keguguran Berulang?

Aborsi habitual atau [keguguran] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/keguguran), spontan keguguran berulang mengacu pada dua kali atau lebih secara berturut-turut terjadinya keguguran tanpa induksi dan tidak disengaja, saat masa kehamilan belum mencapai 20 minggu. Hal ini dialami sedikitnya 1% dari wanita hamil.

Keguguran seperti ini dapat dijelaskan dari sisi klinis atau biokimia. Dianggap klinis ketika keguguran telah dikonfirmasi oleh dokter kandungan melalui USG. Sementara, keguguran diklasifikasikan sebagai biokimia jika terdeteksi melalui sampel cairan seperti darah atau urin. Dalam hal ini, kehamilan "menghilang" saat tes hormon dilakukan sebelum masa kehamilan mencapai minggu kedua puluh.

Penyebab Keguguran Berulang

Salah satu alasan utama keguguran berulang adalah kelainan genetik dari janin atau embrio. Bayi yang normal memiliki 46 kromosom. Bagi yang menderita keguguran, itu bisa terjadi karena janin kekurangan atau tidak memiliki kromosom ekstra, yang mencegah janin dari berkembang atau tumbuh dengan baik.

Gaya hidup atau faktor lingkungan wanita juga dapat memiliki efek mendalam pada kehamilan. Banyak penelitian telah menunjukkan bahwa terus mengonsumsi alkohol dan obat-obatan, serta merokok, dapat menyebabkan kelainan genetik atau mempengaruhi pertumbuhan bayi, sehingga meningkatkan risiko keguguran berulang.

Bentuk dan kondisi rahim juga bisa mengindikasikan apakah keguguran berulang kemungkinan akan terjadi. Rahim adalah organ kecil yang memperluas saat tubuh mempersiapkan diri untuk pembuahan dan perkembangan janin. Beberapa wanita yang mengalami keguguran berulang kerap memiliki uterus yang lebih kecil atau memiliki masalah septum, masalah genetik dimana jaringan memisahkan rahim menjadi beberapa bagian. Pertumbuhan abnormal, termasuk tumor juga bisa menjadi penyebab potensial keguguran berulang.

Meskipun bukan penyebab, usia jadi salah satu faktor risiko, terutama karena kehamilan di usia tua dapat meningkatkan risiko kelainan genetik anak yang belum lahir. Faktor risiko lainnya adalah obesitas, diabetes, masalah hormon termasuk yang mempengaruhi kelenjar tiroid, dan kelainan darah.

Meski begitu, setidaknya 50% dari keguguran berulang yang didiagnosis, penyebabnya tidak diketahui.

Gejala utama

  • Perdarahan
  • Serviks dilatasi (jika serviks sudah melebar, aborsi spontan menjadi tak terelakkan)
  • kram atau nyeri perut
  • Demam (tanda umum infeksi)

Siapa Yang Perlu Ditemui dan Jenis Perawatan Yang Tersedia

Kasus keguguran berulang didiagnosis dan ditangani oleh ginekolog atau dokter kandungan. Jika seorang wanita telah melalui keguguran berulang, sangat penting untuk menentukan apakah hasil pembuahan, termasuk cairan akan tetap dibiarkan di dalam tubuh, karena dapat menyebabkan situasi yang mengancam jiwa seperti sepsis.

Wanita yang telah mengalami keguguran berulang masih bisa hamil. Bahkan, setidaknya 50% dari pasien akan hamil lagi dan melahirkan.

Sementara itu, pengobatan keguguran berulang tergantung pada penyebab yang mendasari. Pengobatan mungkin dilakukan dengan melakukan tes pemeriksaan yang dianggap perlu (misalnya, masalah genetik, kelainan darah, dan hormon), mengubah gaya hidup (misalnya, menjaga berat badan yang lebih ideal, berhenti merokok dan minum alkohol), dan pemantauan ketat dari tahap pra-konsepsi dan konsepsi , terutama selama trimester pertama.

Rujukan:

  • Laurino MY, Bennett RL, Saraiya DS, et al. Genetic evaluation and counseling of couples with recurrent miscarriage: Recommendations of the National Society of Genetic Counselors. J Genet Couns. June 2005;14(3). Reaffirmed April 2010.

  • Simpson JL, Jauniaux ERM. Pregnancy loss. In: Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, eds. Obstetrics: Normal and Problem Pregnancies. Edisi ke-6. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:bab 26.

Bagikan informasi ini: