Apa itu Kehamilan Tubal?

Tuba falopi berperan penting dalam pembuahan dan kesuburan. Pembuahan terjadi di ampula pada tuba falopi, di mana sel telur bertemu dengan sperma. Saat hal ini terjadi, telur yang dibuahi akan berada di tuba falopi hingga empat hari, sebelum ditanamkan di rahim. Sel telur akan menempel pada lapisan rahim dan terus berkembang hingga bayi dilahirkan.

Kehamilan tubal terjadi apabila sel telur yang dibuahi gagal mencapai rahim dan menempel di tuba falopi, yang tidak mampu memenuhi kebutuhan perkembangan embrio.

Kehamilan tubal adalah jenis kehamilan ektopik yang paling umum. Ektopik adalah istilah medis untuk kehamilan yang terjadi di luar rahim. Sekitar 2% kehamilan ektopik terjadi di ovarium, leher rahim atau area intra-abdomen.

Dalam beberapa kasus, kehamilan ektopik dapat diserap tubuh tanpa pengobatan. Namun apabila nyawa pasien terancam, kondisi ini kerap ditangani dengan obat-obatan atau pembedahan. Jika tidak ditangani, tuba falopi dapat pecah, yang dapat mengakibatkan perdarahan internal. Kemungkinan komplikasi lain adalah syok hipovolemik, yaitu kondisi yang membahayakan nyawa dan ditandai dengan perdarahan.

Kehamilan ektopik jarang terjadi, jumlah kasusnya hanya 1-2% dari persalinan di seluruh dunia. Risiko kondisi ini lebih tinggi pada pasien yang menggunakan teknologi reproduksi berbantu, seperti bayi tabung.

Penyebab Kehamilan Tubal

Kehamilan tubal terjadi ketika sel telur yang dibuahi dihalangi saat melewati tuba falopi. Menurut penelitian, hal ini dapat terjadi ketika silia falopi mengalami kerusakan. Silia falopi adalah struktur seperti rambut yang berfungsi membawa sel telur yang dibuahi ke rahim. Kemungkinan penyebab kerusakan adalah merokok dan penyakit peradangan panggul.

Faktor lain yang dapat meningkatkan risiko kehamilan tubal meliputi:

  • Endometriosis

  • Operasi di dalam rahim

  • Pernah mengalami kehamilan ektopik

  • Penyakit menular seksual

  • Bedah/ligasi tuba

  • Ligasi tuba yang gagal atau pembalikan ligasi tuba

  • Penggunaan obat kesuburan

  • Penggunaan spiral (alat intrauterin)

  • Riwayat kemandulan

Gejala Utama Kehamilan Tubal

Pertanda khusus dari kehamilan tubal adalah nyeri tajam pada perut dan perdarahan vagina. Keduga gejala ini dialami oleh lebih dari 50% pasien. Gejala lain meliputi nyeri panggul, leher rahim lunak, diare, mual, dan muntah. Namun, sekitar 10% pasien tidak merasakan gejala, sedangkan 33% pasien tidak menunjukkan tanda medis.

Kehamilan tubal dapat keliru didiagnosis sebagai penyakit lain dengan gejala serupa, termasuk keguguran, usus buntu, infeksi saluran kemih, dan torsi ovarium.

Jika tidak segera didiagnosis dan diobati, dinding tuba falopi dapat hancur. Ini adalah kondisi darurat yang dapat menyebabkan perdarahan internal serius.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Dokter dapat mendiagnosis kehamilan tubal dengan tes kehamilan, ultrasound panggul, dan tes darah HCG yang memeriksa human chorionic gonadotropin (hCG), hormon yang dihasilkan saat kehamilan. Kemudian diagnosis dipastikan dengan laparoskopi, yaitu penyisipan alat visual khusus melalui sayatan kecil pada perut untuk melihat bagian dalam panggul dan perut.

Pengobatan kehamilan tubal bergantung pada banyak faktor. Jika kondisi ini tidak membahayakan nyawa dan tidak menyebabkan gejala yang mengkhawatirkan, dokter akan menyarankan pasien untuk menunggu perkembangan. Dokter akan mengawasi kondisi pasien dengan pemindaian dan tes darah. Jika kadar hCG menurun, berarti kehamilan ektopik sedang menghilang dengan sendirinya.

Jika kehamilan tubal didiagnosis sejak dini dan diperkirakan tidak akan pulih dengan sendirinya, pasien dapat menghindari pembedahan dengan meminum obat yang dapat menghentikan pertumbuhan embrio. Kemudian, embrio akan dikeluarkan melalui menstruasi atau diserap oleh tubuh pasien. Pengobatan ini dianjurkan bagi pasien dengan hemodinamik stabil, tidak merasakan nyeri perut yang berat atau berkelanjutan, dan hasil uji fungsi hati dan ginjalnya normal. Pasien juga harus melakukan beberapa kali konsultasi lanjutan selama pengobatan. Akan tetapi, obat tersebut tidak dianjurkan bagi pasien dengan imunodefisiensi, sedang menyusui, sedang menderita penyakit ulkus peptikum, atau menderita trombositopenia atau anemia.

Apabila kondisi pasien tidak memungkinkan untuk diberi obat-obatan, misalnya pada kehamilan tubal yang memasuki masa akhir kehamilan, pembedahan perlu dilakukan. Ini adalah pengobatan tercepat untuk kehamilan ektopik pada semua stadium. Pembedahan menjadi satu-satunya pilihan apabila diduga terdapat perdarahan. Kehamilan ektopik dapat diangkat dari tuba falopi dengan salpingektomi atau salpingostomi. Salpingektomi adalah pengangkatan salah satu bagian tuba falopi. Prosedur ini dipertimbangkan apabila tuba falopi berisiko hancur atau sudah hancur. Sedangkan salpingostomi membutuhkan pembuatan sayatan panjang di tuba falopi untuk mengangkat kehamilan ektopik.

Kedua prosedur dapat dilakukan dengan laparoskopi, metode invasif minimal yang menggunakan laparoskop dan alat khusus. Dokter bedah membuat sayatan kecil di dinding perut untuk memasukkan alat-alat bedah. Selama prosedur, pasien akan dibius total. Jika metode laparoskopi tidak dapat digunakan, maka metode laparotomi akan digunakan. Ini adalah metode bedah terbuka tradisional yang membutuhkan sayatan besar pada rongga perut.

Biarpun tuba falopi telah diangkat, pasien tetap dapat hamil jika masih memiliki satu tuba falopi sehat. Namun, kesuburan pasien dapat dipengaruhi oleh faktor risiko lain, termasuk merokok dan teknologi reproduksi berbantu.

Rujukan:

  • Kirk E, Bottomley C, Bourne T (2014). "Diagnosing ectopic pregnancy and current concepts in the management of pregnancy of unknown location". Human Reproduction Update. 20 (2): 250–61.

  • Zhang J, Li F, Sheng Q (2008). "Full-term abdominal pregnancy: a case report and review of the literature". Gynecologic and Obstetric Investigation. 65 (2): 139–41.

Bagikan informasi ini: