Apa itu Komplikasi Kehamilan?

Kehamilan bisa menjadi saat yang paling menyenangkan namun juga paling menantang dalam hidup seorang wanita. Pengalaman memiliki seorang manusia baru tumbuh di dalam tubuh mereka adalah suatu pengalaman yang tak ada bandingannya. Namun, kehamilan juga merupakan saat di mana wanita paling rawan mengalami berbagai gangguan kesehatan dan emosional.

Sekeras apapun wanita berusaha, tidak semua kehamilan berjalan dengan semestinya. Komplikasi dapat terjadi sebelum, saat, atau setelah kehamilan. Beberapa komplikasi hanya bersifat ringan, namun ada juga yang dapat membahayakan nyawa ibu dan bayinya.

Karena ada banyak sekali faktor yang dapat memengaruhi kesehatan wanita dan bayinya, kesehatan saat kehamilan bukanlah sesuatu yang bisa dijamin. Namun, apabila ibu mengetahui faktor risiko serta tanda dan gejala kemungkinan komplikasi, ia dapat melakukan langkah pencegahan atau mencari pertolongan medis dan menghindari risiko kesehatan yang serius.

Penyebab Komplikasi Kehamilan

Komplikasi kehamilan dapat disebabkan oleh berbagai faktor; mulai dari gen wanita sampai lingkungan. Semua faktor tersebut dapat membahayakan kesehatan fisik dan mental wanita.

Komplikasi kehamilan yang paling umum adalah tekanan darah tinggi, pre-eklamsia, kelahiran prematur, keguguran, diabetes gestasional, anemia, dan infeksi saluran kemih.

  • Tekanan darah tinggi: Juga dikenal sebagai hipertensi, kondisi ini terjadi ketika terjadi penyempitan pembuluh nadi, yang berfungsi untuk mengalirkan darah ke berbagai organ tubuh dan plasenta. Saat hal ini terjadi, organ tubuh tidak cukup mendapatkan oksigen dan mineral yang dibawa darah. Ada kemungkinan janin tidak akan tumbuh secara normal. Pada beberapa kasus, hipertensi akan menyebabkan kelahiran premature atau pre-eklamsia. Wanita yang telah didiagnosis dengan hipertensi bahkan sebelum hamil harus mengawasi kondisi mereka secara teratur dan terus mengonsumsi obat-obatan. Apabila hipertensi terjadi saat kehamilan, maka kondisi ini dinamakan hipertensi gestasional. Kondisi ini biasanya akan menghilang setelah kehamilan, namun juga tetap harus diawasi. Beberapa wanita yang mengalami hipertensi gestasional harus menjalani operasi caesar darurat agar tidak lebih membahayakan nyawa mereka dan bayi mereka. Pola makan yang tepat, olahraga yang cukup, dan istirahat yang cukup dapat mengurangi risiko terjadinya hipertensi gestasional.

  • Kelahiran prematur: Kelahiran prematur adalah persalinan yang terjadi sebelum memasuki minggu ke-37 kehamilan. Risiko kelahiran prematur dapat dikurangi dengan mencegah infeksi. Pada beberapa kasus, obat-obatan dapat menghentikan atau memperlambat kondisi ini.

  • Keguguran: Apabila kehamilan wanita tidak berkembang dalam 20 minggu, maka wanita telah mengalami keguguran. Apabila wanita mengalami keguguran setelah 20 minggu, kondisi ini dinamakan “lahir mati”. Sayangnya, banyak faktor risiko keguguran yang tidak dapat dikendalikan oleh pasien, misalnya kelainan plasenta, pertumbuhan janin yang buruk, dan kelainan kromosom.

  • Diabetes Gestasional: Perubahan hormon selama kehamilan dapat mengganggu kemampuan pankreas untuk menghasilkan insulin, sehingga menyebabkan diabetes gestasional. Kondisi ini dapat menyebabkan gangguan yang serius pada kesehatan ibu dan bayinya.

  • Infeksi Saluran Kemih: Infeksi saluran kemih adalah kondisi yang paling umum terjadi saat kehamilan. Kondisi ini disebabkan oleh infeksi bakteri dan dapat disembuhkan dengan antibiotik. Namun, dokter harus mengetahui bahwa pasien sedang hamil, sehingga ia dapat memberikan antibiotik yang sesuai.

Gejala Utama Komplikasi Kehamilan

Komplikasi kehamilan dapat menyebabkan berbagai gejala. Beberapa gejala dapat bersifat ringan, namun gejala lainnya harus segera ditangani.

Berikut ini adalah beberapa gejala yang harus segera ditangani:

  • Pendarahan
  • Muntah dan sangat mual
  • Berkurangnya aktivitas bayi

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Dokter kandungan dan kebidanan dapat mengawasi kondisi ibu dan bayi secara teratur untuk memastikan bahwa kandungan berkembang dengan baik. Namun, wanita yang sedang hamil harus segera mencari pertolongan medis apabila ia menyadari adanya gejala-gejala yang telah disebutkan di atas.

Beberapa komplikasi kehamilan dapat diobati dengan obat-obatan, namun ada juga komplikasi kehamilan yang tidak dapat dicegah ataupun disembuhkan. Sebagai contoh, apabila komplikasi disebabkan oleh pertumbuhan janin yang tidak normal, tidak ada pertolongan medis yang dapat membantu kehamilan.

Apabila nyawa ibu dan bayinya berada dalam bahaya, dokter dapat memilih untuk melakukan operasi caesar (C-section). Komplikasi kehamilan yang membutuhkan operasi ini adalah:

  • Janin terlalu besar
  • Proses persalinan tidak berjalan dengan baik
  • Ada lebih dari satu janin di dalam kandungan
  • Penyakit menular seksual atau infeksi
  • Posisi janin terbalik
  • Gangguan plasenta
  • Kesehatan bayi dalam bahaya

Kesehatan mental wanita juga berisiko mengalami gangguan selama dan setelah kehamilan. Beberapa wanita dapat mengalami depresi berat saat hamil. Wanita harus menyadari tanda dan gejala depresi serta mencari pertolongan profesional karena depresi dapat membahayakan kesehatan fisik wanita dan bayi. Depresi yang terjadi setelah kehamilan dinamakan depresi postpartum. Pada banyak kasus, wanita tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalami depresi ini, sehingga suami atau anggota keluarga lainnya harus mencari pertolongan apabila mereka menyadari adanya gejala depresi.

Karena banyaknya risiko yang berkaitan dengan kehamilan, pasangan suami istri harus selalu siaga untuk menghadapi semua jenis kondisi darurat. Sebaiknya mereka menyiapkan rencana darurat dengan dokter kebidanan dan kandungan mereka. Mengikuti kelas persalinan juga merupakan langkah yang baik, karena kelas ini biasanya mengajarkan tentang tindakan darurat.

Harus diingat juga bahwa rencana darurat dapat berhasil hanya jika semua orang di rumah sudah mengetahui rencana ini. Pastikan bahwa salinan rencana darurat ada di tempat yang mudah terjangkau, sehingga semua orang sudah tahu apa yang harus dilakukan saat kondisi darurat.

Rujukan:

  • Cunningham FG, Leveno KJ, Bloom SL, et al. Preconceptional counseling. In: Cunnigham FG, Leveno KL, Bloom SL, et al, eds. Williams Obstetrics. 23rd ed. New York, NY: McGraw-Hill; 2010:chap 7.

  • Jack BW, Atrash H, Coonrod DV, et al. The clinical content of preconception care: an overview and preparation of this supplement. Am J Obstet Gynecol. 2008;199:S266-S279.

Bagikan informasi ini: