Apa itu Laryngopharyngeal Reflux?

Laryngopharyngeal reflux (LPR) adalah kondisi medis dimana kandungan lambung, termasuk asam yang diproduksi di perut, naik kembali melalui kerongkongan ke arah laring dan faring (tenggorokan). Kondisi ini biasanya menyerang pasien yang didiagnosis dengan gastroesophagealreflux disease (GERD).

Meski mirip dengan GERD, LPR biasanya tidak disertai mulas dan gejala klasik GERD lainnya. Inilah sebabnya mengapa kadang LPR disebut sebagai silent reflux.

Penyebab Laryngopharyngeal Reflux

Refluks asam lambung terkait dengan LPR dan GERD terjadi saat sfingter esofagus tidak berfungsi dengan baik karena kelainan tertentu. Akibatnya, sfingter tidak bisa bekerja maksimal

Penyebab lain yang bisa membuat sfingter rusak adalah:

  • Hiatal hernia

  • Kontraksi esofagus abnormal

  • Lambat dalam mengosongkan perut

Beberapa pasien yang memiliki risiko menderita LPR lebih tinggi adalah mereka yang:

  • Sphincters yang belum berkembang - Bayi dengan sfingter terbelakang lebih cenderung mengalami refluks, terutama karena kerongkongannya lebih pendek dan mereka menghabiskan sebagian besar waktu mereka untuk berbaring. Namun, kondisinya biasanya sembuh sendiri sebelum bayi mencapai usia satu tahun.

  • Usia - Pasien berisiko lebih tinggi mengalami LPR seiring dengan bertambahnya usia.

  • Kebiasaan makan yang tidak sehat, seperti makan berlebih

  • Terlalu banyak mengonsumsi dalam coklat, jeruk, makanan berlemak, dan rempah-rempah

  • Kelebihan tekanan/stres

  • Rutin memakai pakaian teralu ketat

  • Kelebihan berat badan atau obesitas

  • Wanita hamil

LPR dapat menyebabkan berbagai komplikasi. Salah satu yang paling serius adalah radang di daerah tubuh yang tidak memiliki perlindungan terhadap paparan asam lambung.

Gejala Utama Laryngopharyngeal Reflux

Laryngopharyngeal reflux dapat terjadi tanpa menunjukkan gejala nyata, sehingga menjadi lebih sulit untuk didiagnosis dibandingkan GERD. Namun, pada beberapa pasien menunjukkan gejala berikut ini:

  • Lendir yang berlebih

  • Drainase di bagian belakang tenggorokan

  • Sensasi terbakar di tenggorokan

  • Batuk kronis

  • Post-nasal drip

  • Suara serak

  • Rasa sakit di tenggorokan

  • Kesulitan menelan

  • Rasa pahit di bagian belakang tenggorokan

Beberapa pasien, terutama mereka yang menggunakan suaranya secara profesional, seperti penyanyi, akan menyadari beberapa perubahan atau batasan dalam suaranya. Ini termasuk range vocal lebih rendah atau mengalami pemanasan vokal berkepanjangan dengan kualitas suara serak atau rendah.

Pada anak-anak, LPR sering disertai dengan:

  • Penyakit saluran pernapasan atau asma

  • Napas yang bising

  • Apnea, atau jeda yang tidak biasa saat bernapas

  • Kesulitan makan

  • Gangguan pertumbuhan (atau ketidakmampuan untuk menambah berat badan)

  • Kesulitan menelan

  • Sianosis, atau konidis berubah biru karena suplai oksigen yang tidak adekuat

  • Infeksi telinga

  • Muntah berulang

Laryngopharyngeal reflux didiagnosis berdasarkan pemeriksaan visual tenggorokan, khususnya bagian belakang kotak suara. Jika dokter menemukan adanya tanda pembengkakan atau iritasi di tenggorokan, pasien cenderung didiagnosis menderita LPR. Dokter kemudian akan melakukan tes lebih lanjut untuk memastikan diagnosis. Tes ini bisa meliputi:

  • Tes menelan - Dalam tes menelan, pasien dibuat untuk menelan cairan khusus yang disebut barium, yang melapisi kerongkongan, perut, dan usus. Cairan tersebut membantu menandai organ-organ pada rontgen saat makanan melewati mereka. Hal ini memungkinkan dokter mendeteksi tanda-tanda LPR.

  • Pemeriksaan endoskopi pada perut dan kerongkongan - Dokter saat ini biasa menggunakan endoskopi untuk memeriksa secara visual bagian dalam tubuh tanpa harus membuat sayatan kulit.

  • Tes pH - Tes ini, yang menggunakan probe pH 24 jam, menentukan seberapa banyak asam yang terdapat di tenggorokan pasien.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Laryngopharyngeal reflux, sama seperti penyakit refluks lainnya seperti GERD atau penyakit ekstraesophagealreflux, biasanya diobati oleh gastroenterologist. Namun, kondisinya terkadang juga memerlukan keahlian spesialis THT (telinga, hidung, tenggorokan) jika pasien menunjukkan gejala seperti suara serak dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan atau jika terjadi perdangan pada laring.

Pengobatan yang paling efektif untuk LPR ialah kombinasi dari pengobatan dan perubahan gaya hidup.

Obat yang digunakan untuk mengobati LPR serta gejalanya meliputi:

  • Antasida

  • Obat penghalang busa

  • Antagonis histamin

  • Obat-obatan pro-motilitas

  • Proton pump inhibitor

Selain itu, melakukan perubahan gaya hidup dapat membantu mencegah dan mengobati refluks laringofaringeal. Banyak makanan dan minuman dapat membuat gejala pasien menjadi lebih buruk, jadi penting bagi mereka untuk menghindarinya. Hal yang sama juga berlaku untuk gaya hidup yang memiliki efek buruk pada pasien LPR; Ini termasuk konsumsi alkohol dan merokok yang berlebihan.

Berikut ini adalah pilihan pengobatan bagi orang yang terkena LPR. Prosedur berikut ini juga bisa digunakan sebagai tindakan pencegahan.

  • Diet rendah asam dan rendah lemak

  • Diet hambar yang menghindari makanan pedas

  • Makan ringan tapi sering

  • menurunkan berat badan (untuk orang yang kelebihan berat badan / obesitas)

  • Tidak makan kurang dari 2 jam sebelum tidur

  • Menghindari alkohol, tembakau, dan kafein

  • Mengangkat kepala atau bagian atas tubuh saat tidur

Pada beberapa kasus yang kronis/parah, prosedur pembedahan yang disebut laparoskopi fundodulasi Nissen dapat dipertimbangkan. Prosedur ini, yang juga digunakan untuk mengobati penyakit refluks gastroesofagus dan hiatus hernia, dilakukan oleh seorang ahli bedah umum. Selama prosedur berlangsung, bagian atas perut akan diikat di sekitar ujung kerongkongan untuk memperkuat sfingter esofagus bagian bawah. Ini bertujuan untuk mencegah isi lambung kembali ke arah kerongkongan. Karena termasuk prosedur minimal invasif, prosedurnya umumnya aman dan membutuhkan waktu pemulihan yang singkat. Namun, pembedahan hanya akan dilakukan saat terapi medis dan perubahan gaya hidup gagal membantu pasien.

Rujukan:

  • Martinucci I, de Bortoli N, Savarino E, Nacci A, et al. “Optimal treatment of laryngopharyngeal reflux disease.” Ther Adv Chronic Dis. 2013 Nov; 4(6): 287-301. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3807765/

  • Campagnolo AM, Priston J, Thoen RH, Medeiros T, Assuncao AR. “Laryngopharyngeal reflux: diagnosis, treatment, and latest research.” Int Arch Otorhinolaryngol. 2014 Apr; 18(2): 184-191. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4297018/

  • Ford CN. “Evaluation and management of laryngopharyngeal reflux.” JAMA. 2005; 294(12): 1534-1540. http://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/201573

Bagikan informasi ini: