Apa Itu Latihan Terapeutik?

Latihan terapeutik ditandai oleh pergerakan tubuh yang dapat meningkatkan kesehatan dan kesegaran tubuh, meluruskan tubuh, dan mengembalikan fungsi dari sistem muskuloskeletal, serta meningkatkan mood dan fokus hingga tingkatan tertentu.

Latihan yang digunakan dalam jenis terapi ini biasanya terdiri dari tiga kategori : resistensi, daya tahan, dan fleksibilitas. Latihan resistensi adalah latihan yang meningkatan kekuatan otot dengan cara melakukan pergerakan melawan gaya yang berasal dari tubuh sendiri. Latihan resistensi dapat dilakukan dengan perkembangan otot yang stabil (isometrik), kontraksi otot yang memendek yang stabil (isotonik), atau dengan sudut kecepatan otot yang konsisten (isokinetik).

Sementara itu, latihan daya tahan dilakukan menggunakan otot besar dan otot kardiovaskular. Latihan ini didasari dengan jumlah atau volume konsumsi oksigen. Contoh dari latihan daya tahan adalah dengan berlari di treadmill. Selain meningkatkan kemampuan seseorang untuk bertahan dalam latihan tertentu, latihan ini berfungsi juga untuk menguatkan jantung dan terkadang digunakan untuk memeriksa kekuatan jantung dan paru-paru.

Latihan fleksibilitas dapat menggabungkan kedua jenis latihan tersebut dalam satu sesi latihan atau memecahnya dalam beberapa seksi latihan tertentu. Bagaimanapun, latihan ini perlu dirancang tergantung dari kondisi pasien dan tujuan yang diinginkan pasien.

Siapa yang Memerlukan Latihan Terapeutik

Latihan terapeutik sangat membantu untuk semua orang dalam segala usia, tetapi pada dasarnya sangat membantu bagi:

  • Pasien Stroke
  • Pasien dengan masalah obesitas dan diabetes mellitus
  • Pasien dengan masalah neuromuscular, termasuk amyotrophic lateral sclerosis dan [Penyakit Parkinson] (https://www.docdoc.com/id/id/info/condition/penyakit-parkinson)
  • Pasien osteoporosis atau sklerosis ganda
  • Orang-orang yang kesulitan dengan keseimbangan tubuh
  • Pasien yang harus istirahat di tempat tidur
    Manfaat dari latihan terapeutik dapat berbeda-beda secara signifikan. Contohnya, beberapa kondisi dapat memberikan efek yang lebih kentara untuk latihan resistensi atau fleksibilitas, sedangkan manfaatnya mungkin hanya sedikit, cukup, atau ekstrim.

Dalam kasus pasien yang harus beristirahat di tempat tidur atau yang tidak dapat bergerak sama sekali, latihan akan membutuhkan bantuan dari pelatih atau ahli terapi fisik(https://www.docdoc.com/id/id/info/procedure/terapi-fisik). Para pasien ini juga terbagi menjadi jenis yang aktif, di mana pasien mengontrol otot tertentu dengan bantuan ahli terapi fisik, atau jenis yang pasif, di mana orang lain atau alat bantuan yang mengontrol pergerakan otot tersebut.

Latihan ini bertujuan untuk:

  • Memberikan relaksasi
  • Menggerakkan sendi-sendi dan mengurangi ketegangan otot
  • Mengurangi rasa sakit fisik
  • Meningkatkan keseimbangan dan koordinasi tubuh
  • Meningkatkan konsumsi oksigen dan fungsi pernapasan
  • Meningkatkan sirkulasi darah

Cara Kerja Latihan Terapeutik

Langkah pertama dalam melakukan latihan terapeutik adalah menentukan latihan terapeutik yang perlu dilakukan pada seseorang. Pemeriksaaan medis yang termasuk pemeriksaan fisik yang menyeluruh, pemeriksaan laboratorium, dan juga pengecekan riwayat penyakit. Detak jantung dan tanda-tanda vital orang tersebut juga akan dimonitor, terutama jika orang tersebut memiliki catatan medis tertentu, seperti gagal jantung.

Ada tiga faktor yang dipertimbangkan dalam merancang laihan terapeutik: frekuensi, durasi, dan kondisi pasien. Contohnya, dalam latihan ketahanan tubuh dan cardiovascular, targetnya adalah melakukannya lima hari dalam seminggu selama satu jam per sesi latihan, akan tetapi pada awalnya dapat dilakukan selama tiga hari terlebih dahulu untuk 20 menit setiap harinya. Kemudian, seiring dengan perkembangan pasien, intensitas latihan, frekuensi latihan, dan durasi latihan dapat ditingkatkan. Biasanya, satu sesi latihan dapat berlangsung lebih lama saat intensitas latihannya rendah.

Kemungkinan Komplikasi dan Resikonya

Latihan terapeutik perlu diawasi secara konstan, terutama jika dilakukan oleh pasien yang memiliki resiko tinggi untuk memastikan pasien tidak mengalami cedera.

Rujukan :

  • White, P. The Lancet, published online Feb. 18, 2011.
  • Bleijenberg, G. and Knoop, H. The Lancet, published online Feb. 18, 2011.
Bagikan informasi ini: