Apa itu Memar?

Apabila kulit terkena benturan yang memecahkan pembuluh darah kecil di bawah jaringan, maka kulit akan mengalami memar, yang juga dikenal sebagai “kontusi”. Sebagian besar memar disebabkan oleh benturan pada tubuh yang tidak terlalu serius sampai pasien harus mendapatkan pertolongan medis, namun beberapa benturan dapat membahayakan nyawa sehingga pasien harus segera mendapatkan pertolongan medis.

Memar dapat dikategorikan berdasarkan lapisan jaringan yang mengalami memar. Memar subkutan terjadi pada kulit, yang juga dikenal sebagai epidermis, dermis, dan lapisan subkutan sedangkan memar intramuskular terjadi pada otot yang ada di bawah kulit. Sedangkan memar periosteal terjadi pada tulang.

Memar seringkali berwarna merah pada awalnya, namun warnanya akan berubah seiring proses pemulihan. Dalam 24 jam, memar akan berubah warna menjadi ungu. Setelah beberapa hari, warnanya berubah menjadi hitam kebiruan. Dalam 5-10 hari, warnanya akan berubah menjadi hijau dan akhirnya menjadi kuning sebelum akhirnya memar hilang sepenuhnya.

Harus diingat bahwa memar belum tentu menggambarkan tingkat keparahan trauma. Bahkan, memar yang dalam dan disebabkan oleh trauma yang parah, seperti trauma akibat kecelakaan bermotor, bisa saja baru timbul di kulit setelah beberapa hari; bahkan terkadang tidak muncul sama sekali.

Penyebab Memar

Sebagian besar kasus memar disebabkan oleh trauma akibat benda tumpul, misalnya trauma yang terjadi akibat bermain olahraga yang aktif dan kegiatan fisik. Namun, ada juga kasus memar lain yang disebabkan oleh kondisi medis. Contoh yang baik adalah pendarahan dan gangguan pembekuan darah yang bernama purpura, yang menyebabkan tanda-tanda yang mirip dengan memar. Kondisi lain yang dapat menyebabkan gejala yang mirip dengan memar adalah:

  • Infeksi darah dan jaringan
  • Gangguan pembekuan darah lain, seperti hemophilia, trombositopenia, dan penyakit von Willebrand
  • Lupus
  • Cirrhosis
  • Penyakit Hodgkin
  • Leukemia
  • Multiple Myeloma
  • Vaskulitis
  • Kekurangan nutrisi

Gejala Utama Memar

Gejala utama dari memar yang disebabkan oleh trauma akibat benda tumpul adalah nyeri, pembengkakan, dan perubahan warna kulit. Pada sebagian besar kasus, gejala memar akan menghilang seiring pulihnya memar tanpa pertolongan medis. Sementara itu, nyeri yang sangat menyakitnya biasanya dirasakan apabila memar terjadi pada tulang atau merusak organ dalam. Kasus seperti ini dikategorikan sebagai kondisi gawat darurat medis.

Memar yang penyebabnya tidak diketahui dapat memiliki gejala lain, seperti nyeri dan pembengkakan. Walaupun begitu, memar jenis ini harus diperhatikan karena memar ini merupakan gejala dari penyakit lain.

Siapa yang Harus Ditemui & Pengobatan yang Tersedia

Memar yang kecil biasanya tidak membutuhkan pertolongan medis dan dapat disembuhkan dengan terapi dingin (kompres es) dan dengan mengonsumsi obat penghilang rasa sakit yang dijual umum. Mengangkat bagian tubuh yang terkena memar ke atas jantung juga dapat membantu mencegah menggenangnya darah.

Sementara itu, pertolongan medis harus segera diberikan apabila:

  • Memar disertai dengan nyeri yang sangat menyakitkan dan demam, yang dapat menjadi indikasi bahwa tulang juga terkena memar atau patah.
  • Ada garis merah di dekat memar
  • Pasien juga mengalami luka sayat. Dalam kasus ini, luka harus segera diobati untuk mencegah infeksi.
  • Memar terjadi pada bagian kepala dan wajah. Cedera kepala dapat menjadi fatal serta harus segera diperiksa dan diawasi oleh dokter, meskipun pasien tidak menunjukkan gejala yang serius.
  • Pasien mengalami disorientasi, mual, atau muntah setelah timbul memar di kepala.
  • Memar tidak memiliki penyebab yang jelas. Memar yang tidak disebabkan oleh trauma akibat benda tumpul biasanya merupakan gejala dari penyakit yang lebih serius. Penyakit ini dapat didiagnosis dengan menggunakan CT-scan, MRI, ultrasound, dan tes darah.
    Rujukan:

  • Brinker MR, O’Connor DP, Almekinders LC, et al. Physiology of injury to musculoskeletal structures: 1. Muscle and tendon injury. In: DeLee JC, Drez D Jr, Miller MD, eds. DeLee and Drez’s Orthopaedic Sports Medicine. 3rd ed. Philadelphia, Pa.: Elsevier Saunders; 2009:chap 1, section A.

Bagikan informasi ini: