Apa itu Limfoma Ganas?

Limfoma adalah tumor yang terbentuk saat limfosit (sejenis sel darah putih) mulai tumbuh dan bereproduksi secara tidak normal. Limfoma jinak (non-kanker) tidak menyebar ke bagian tubuh yang lain, sehingga mereka tidak terlalu berbahaya dan mudah untuk ditangani. Namun, mereka bisa tumbuh dan menyebabkan rasa sakit atau ketidaknyamanan pada penderitanya saat mereka menekan jaringan di sekitar.

Sementara, limfoma ganas dapat terjadi ketika sel B atau T tumbuh dan mengganda secara tak terkendali. Kondisi ini dapat menyebar ke bagian tubuh yang lainnya. Limfoma ganas memiliki dua tipe utama, yaitu Hodgkin (juga dikenal sebagai Hodgkin’s) dan non-Hodgkin (juga dikenal sebagai non-Hodgkin’s). Perbedaan utama antara keduanya adalah keterlibatan sel abnormal yang disebut Reed-Sternberg. Jika pasien dengan limfoma ganas terdeteksi dengan sel Reed-Sternberg, maka akan dikategorikan sebagai Hodgkin. Jika tidak, maka akan dikategorikan sebagai limfoma non-Hodgkin.

Penyebab Limfoma Ganas

Para peneliti belum yakin apa yang menyebabkan limfoma berkembang menjadi limfoma ganas atau ML (Malignant Lymphoma). Namun, mereka telah berhasil mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko berkembangnya limfoma ganas. Namun, penting untuk dicatat bahwa memiliki salah satu faktor risiko tidak berarti seseorang akan menderita penyakit ini. Namun, faktor-faktor tersebut sering terlihat pada orang yang menderita limfoma ganas. Faktor-faktor yang dimaksud ialah:

  • Sistem kekebalan tubuh yang lemah atau terganggu - Sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk melindungi tubuh terhadap mikroba atau patogen. Tapi dalam beberapa kasus, sistem kekebalan bisa gagal untuk bekerja dengan semestinya. Sistem ini dapat melemah karena kondisi medis tertentu dan obat-obatan.

  • Human immunodeficiency virus (infeksi HIV) - Berdasarkan penelitian, orang yang megidap HIV memiliki kemungkinan 20 kali lebih besar terkena limfoma ganas daripada seseorang yang terbebas dari HIV. Virus HIV ini menghancurkan jenis sel T tertentu dan mencegah sel lain dari sistem kekebalan tubuh bekerja dengan benar. Karena itu, sistem kekebalan tubuh pasien menjadi kurang efektif dalam melawan infeksi.

  • Pengobatan kanker yang pernah dilakukan - Gen dari limfosit dapat rusak akibat radioterapi dan kemoterapi.

Faktor risiko lainnya yaitu merokok, terpapar bahan kimia industri, dan obesitas.

Gejala Utama Limfoma Ganas

Banyak pasien dari penyakit ini yang tidak memiliki gejala pada tahap awal. Tanda pertama dari limfoma ganas adalah kelenjar getah bening yang membengkak, yang terbentuk saat sel abnormal berkumpul di area tertentu di tubuh. Kelenjar getah bening yang bengkak dapat ditemukan di leher, di bawah lengan, dan selangkangan. Mereka juga bisa ditemukan di daerah perut dan dada bagian atas. Jika limfoma tumbuh di usus atau perut, pasien mungkin juga mengalami mual dan perut bengkak serta muntah, diare, dan sakit perut. Namun, penting untuk dicatat bahwa kelenjar getah bening bengkak juga bisa disebabkan oleh kondisi medis lainnya yang tidak terlalu serius.

Gejala lainnya dari limfoma ganas tidaklah terlalu spesifik. Ini termasuk merasa lelah sepanjang waktu, berkeringat di malam hari, dan demam. Sesak napas dan ruam gatal juga sering terjadi. Pasien harus berkonsultasi dengan dokter jika gejala mereka tidak hilang dengan pengobatan yang umum.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Limfoma ganas akan ditangani oleh spesialis kanker (onkologi). Tes darah dan biopsi kelenjar getah bening biasanya digunakan untuk mendiagnosa kondisi tersebut. Pada sebagian besar kasus, prosedur pengobatan tersebut juga dikombinasikan dengan metode berikut ini:

  • Kemoterapi - Kemoterapi menggunakan obat-obatan yang membunuh sel kanker dengan cara memotong sumber makanannya. Meski terbukti efektif, namun dalam banyak kasus hal tersbut bisa memiliki efek buruk karena bisa juga memengaruhi sel yang sehat. Efek samping yang umum terjadi adalah rambut rontok, mual, dan muntah serta kelelahan dan gangguan pendengaran.

  • Terapi radiasi - Radioterapi menggunakan sinar berenergi tinggi untuk mengobati kanker. Terapi ini dibagi menjadi dua tipe, yaitu terapi radiasi eksternal dan terapi radiasi internal. Terapi pertama menggunakan mesin yang mengirimkan sinar radiasi ke area perawatan dari luar tubuh. Sedangkan yang kedua, menempatan zat radioaktif di dalam tumor atau jaringan di sekitarnya.

  • Imunoterapi - Imunoterapi bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh menjadi lebih efektif dalam mengenali dan melawan sel kanker.

  • Transplantasi sel induk - Sel induk adalah sel darah pada fase sangat awal yang bisa berubah menjadi jenis sel apapun. Mereka digunakan dalam pengobatan kanker karena kemampuan mereka untuk beregenerasi. Sel induk dapat diperoleh dari tali pusar bayi baru lahir, plasenta, dan sumsum tulang individu dewasa.

  • Pembedahan - Pembedahan jarang digunakan untuk mengobati limfoma. Tapi bisa dilakukan untuk menghilangkan limpa. Prosedur ini bisa membantu menghilangkan sel kanker dari tubuh. Dalam beberapa kasus, juga dilakukan untuk menghilangkan tumor atau gejala.

Prognosis untuk pasien dengan limfoma ganas bergantung pada sejumlah faktor. Termasuk stadium penyakit, seberapa cepat pasien mendapat perawatan, dan kondisi kesehatan pasien. Tingkat kelangsungan hidup lima tahun untuk pasien dengan limfoma Hodgkin stadium 4 adalah sekitar 65%.

Rujukan:

  • Shankland, K. R., Armitage, J. O., & Hancock, B. W. (2012). Non-Hodgkin lymphoma. The Lancet, 380(9,844),848-857. Retrieved from http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22835603

  • Werdlow, S. H., Campo, E., Pileri, S. A., Harris, N. L., Stein, H., Siebert, R., … & Jaffe, E. S. (2016, December 31). The 2016 revision of the world health organisation classification of lymphoid neoplasms. Blood, 127(20), 2375-2390. Retrieved from http://www.bloodjournal.org/content/127/20/2375?sso-checked=true

  • Ferreri AJ, Reni M, Ceresoli GL, Villa E. Therapeutic management with adriamycin-containing chemotherapy and radiotherapy of monostotic and polyostotic primary non-Hodgkin’s lymphoma of bone in adults. Cancer Invest. 1998. 16(8):554-61. [Medline].

Bagikan informasi ini: