Apa itu Masalah Kuku?

Masalah kuku yang seringkali dianggap remeh ternyata adalah indikator penting dari banyak jenis penyakit, mulai dari infeksi hingga penyakit serius. Kuku yang terlihat sepele memiliki peran penting pada tubuh. Mereka berperan untuk melindungi dan menyokong ujung jari-jari tangan dan kaki. Selain itu, kuku juga dapat menunjukkan tingkat kesehatan. Banyak kondisi kesehatan yang berdampak pada kuku, sehingga ketidaknormalan pada kuku tidak boleh diabaikan.

Penyebab Masalah Kuku

Masalah pada kuku dapat disebabkan oleh

  • Infeksi jamur atau bakteri
  • Buruknya nutrisi, seperti kurang zat besi sehingga menjadi anemia atau berlebihan menjadi hemokromatosis
  • Buruknya sirkulasi
  • Kehamilan
  • Kemoterapi
  • Alergi obat, umumnya setelah konsumsi antibiotik tertentu

Beberapa masalah kuku disebabkan oleh penyakit pada bagian tubuh tertentu, antara lain

  • Masalah kulit, seperti psoriasis, lichen planus, eksim, dan limpoedema
  • Masalah tiroid, seperti hiper- atau hipotiroid
  • Masalah paru, seperti bronkiektasis atau tuberculosis
  • Masalah sinus, seperti inflamasi jaringan sinus
  • Masalah hati, dapat menyebabkan kekuningan pada kulit dan kuku (jaundice)

Masalah kuku juga merupakan gejala dari beberapa penyakit, seperti

  • Sarkoidosis, kondisi menumpuknya sel abnormal pada berbagai organ tubuh
  • Amiloidosis, kondisi menumpuknya protein abnormal pada berbagai organ tubuh
  • Raynaud’s disease, kondisi dimana peredaran darah menuju jari-jari tertahan
  • Lupus eritomatosus, kondisi autoimun dimana tubuh menyerang jaringan dan selnya sendiri
  • Polisitemia, kondisi dimana darah seseorang lebih kental dari kondisi normalnya
  • Artritis reaktif, keadaan dimana imun tubuh bereaksi pada infeksi dan berefek pada berbagai bagian tubuh seperti kuku, sendi, dan otot

Beberapa gaya hidup atau kebiasaan buruk yang dapat berdampak pada kuku antara lain

  • Penggunaan kutek atau pewarna kuku yang berlebih atau terlalu sering
  • Sepatu yang tidak pas sehingga kuku tidak dapat tumbuh normal
  • Merokok

Gejala Utama Masalah Kuku

Masalah kuku dapat muncul dengan berbagai bentuk, tetapi jenis spesifiknya dapat membantu menentukan penyebabnya. Beberapa masalah kuku antara lain:

  • Kuku rapuh – Kuku yang mudah patah merupakan tanda seseorang terpapar bahan kimia dalam jangka waktu yang panjang.

  • Diskolorasi – Warna tidak normal pada kuku dapat menjadi tanda adanya infeksi dan sejenisnya. Contohnya pada kuku hijau kehitaman sebagai tanda infeksi bakteri. Sebagai tambahan, diskolorasi dapat juga menjadi tanda masalah kesehatan lain, baik ringan ataupun serius. Warna keabu-abuan adalah efek samping dari obat antimalarial atau minosiklin. Warna kecoklatan pada setengah atas kuku menunjukkan adanya masalah atau kemungkinan gagal ginjal; faktanya, gejala ini ada pada 40% pasien gagal ginjal.

  • Kuku putih – Putihya kuku dapat menjadi tanda sirosis atau anemia defisiensi besi.

  • Infeksi pada bantalan atau lipatan kuku – Infeksi yang disertai dengan rasa sakit, inflamasi, dan nanah dapat menjadi tanda infeksi bakteri, luka, atau penyakit lainnya, dapat berupa diabetes atau bahkan HIV. Infeksi yang tidak merespon pengobatan atau muncul berulang sebaiknya diperiksa untuk menentukan akar masalahnya.

  • Longgarnya kuku – Kelonggaran dapat disebabkan oleh luka, infeksi jamur, psoriasis, kutil kuku jari, masalah tiroid, sarkoidosis, Raynaud’s disease, amiloidosis, dan beberapa kemungkinan lainnya.

  • Kuku tebal dengan pertumbuhan berlebih – Kuku yang sulit untuk dipotong dengan gunting kuku dapat disebabkan oleh onikogrifosis atau lebih dikenal dengan kuku tanduk kambing karena bentuk yang menyerupai tanduk. Ini dapat disebabkan oleh tekanan pada kuku dalam jangka waktu lama.

  • Kuku melekuk atau koilonisia – Lengkungan menyerupai sendok dapat menjadi tanda adanya penyakit serius.

  • Lubang-lubang kecil pada permukaan kuku – lubang-lubang dan lekukan-lekukan kecil adalah tanda klasik dari keadaan kulit seperti psoriasis dan eksim. Faktanya, 50% penderita psoriasis memiliki hal tersebut.

  • Alur horizontal pada kuku – hal ini disebabkan gangguan pada saat bertumbuhnya kuku; dapat disebabkan oleh suhu dingin, kemoterapi, atau Raynaud’s disease. Hal ini dianggap sebagai tanda awal penyakit, tetapi seringkali baru disadari beberapa bulan kemudian ketika alur tersebut cukup tinggi untuk terlihat.

  • Garis gelap vertikal – lebih umum pada orang dewasa berkulit gelap, dinamakan melanonisia linear dan dapat merupakan efek normal pigmentasi gelap atau gejala dari kanker kulit pada bantalan kuku. Keadaan kedua tersebut mudah dibedakan karena hanya berdampak pada salah satu kuku.

  • Kuku membulat atau clubbing – Masalah kuku yang paling mudah terlihat, clubbing fingers, disebabkan oleh peningkatan aliran darah pada ujung kuku. Masalah pada gejala ini dapat tidak berbahaya (bila turun-temurun) atau tanda dari masalah serius yang berkepanjangan. Masalah ini diasosiasikan dengan kanker lambung, kanker usus, sirosis hati, kanker paru, sakit jantung (seperti endocarditis), dan inflammatory bowel disease.

Siapa yang Perlu Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Segala perubahan mendadak, serta masalah kronis atau berulang pada kuku harus dilaporkan pada dokter umum, dermatologis, atau podiatris. Banyak cara untuk menyembuhkan dan merawat masalah kuku, baik akut, kronis, atau berulang. Metode pengobatan tergantung pada penyebab yang menjadi akar masalah.

Infeksi jamur dapat diobati dengan obat anti jamur, sedangkan masalah pada kelenjar tiroid dapat diselesaikan dengan terapi hormon untuk mengatur produksi hormon dengan tepat, sehingga menghindari timbulnya masalah kuku. Infeksi bakteri dapat diobati dengan tetes mata anti bakteri dan rendaman tangan pada cairan antiseptic. Ketika masalah utama diselesaikan, masalah kuku juga akan hilang. Perawatan kuku juga dapat mencegah masalah kuku. Vitamin B7 atau suplemen biotin, penggunaan sarung tangan ketika beraktifitas basah, seperti mencuci piring atau pakaian, dan penggunaan krim pelembab secara berkala dapat membantu menghindari masalah kuku.

Rujukan:

  • Sperling LC, Sinclair RD, El Shabrawi-Caelen L. Alopecias. In: Bolognia JL, Jorizzo JL, Schaffer JV, eds. Dermatology. 3rd ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 69
Bagikan informasi ini: