Apa itu Meningioma?

Meningioma adalah sebuah tumor otak yang tumbuh dari meningen, yaitu selaput berserat yang melindungi jaringan lunak di pusat sistem saraf. Kebanyakan kasus menignioma biasanya tumor yang tumbuh dengan lambat dan jinak (tidak menimbulkan kanker), tapi tetap dapat menimbulkan komplikasi yang serius. Wanita dapat terjangkit meningioma lebih mudah dibandingkan dengan pria dan dapat terjadi pada segala usia. Namun, jika meningioma muncul pada pria, kemungkinan besar maningioma bersifat ganas dan akan berbahaya. Kondisi ini biasanya muncul pada wanita di usia 50 sampai 70 tahun. Berdasarkan penelitian, frekuensi penyakit ini dapat muncul di mana saja tanpa terpengaruh budaya dan memiliki frekuensi yang sama dengan jenis tumor otak lainnya. Meningioma sangat jarang terjadi pada anak-anak.

Penyebab Terjadinya Meningioma

Meskipun penelitian kanker sudah maju dewasa ini, penyebab pasti meningioma masin belum bisa ditentukan. Namun, para ahli berpendapat bahwa penyakit ini berasal dari kelainan sel pada meningen, yang membuatnya berkembang dengan sangat cepat.

Kebanyakan kasus meningioma bersifat sporadis, meskipun sebagian juga dapat terjadi karena ada riwayat keluarga pernah menderita penyakit serupa. Namun, meskipun penyebab pastinya belum bisa ditemukan, para ahli berpendapat ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan resiko terjadinya meningioma, seperti:

  • Perawatan radiasi
  • Cedera otak yang pernah diderita
  • Sering menggunakan sinar-X untuk keperluan gigi
  • Pengunaan telepon genggam secara intens
  • Neurofibromatosis (kelainan sistem saraf bawaan)
  • Hormon wanita – karena meningioma lebih sering ditemui pada perempuan, para ahli percaya bahwa hormon wanita merupakan salah satu faktor penyabab terjadinya meningioma.
  • Mutasi genetik terutama pada kromosom 22q

Gejala Utama

Karena meningioma adalah tumor yang tumbuh dengan lambat, biasanya tanda dan gejalanya tidak terdeteksi saat meningioma masih berada di tahap awal, yang membuat deteksi dini nyaris tidak mungkin. Bahkan, ribuan orang tidak pernah didiagnosa mengidap meningioma, karena kondisi ini lebih sering diketahui saat autopsi mayat. Sekitar 2 persen dari seluruh autopsi dapat memperlihatkan keberadaan meningioma, yang tetap tidak terdeteksi selama umur hidup sang mayat, karena meningioma tidak menunjukkan gejala yang bisa dideteksi. Pada tahun 1970-an, 2 dari 100,000 orang berhasil didiagnosa mengidap meningioma karena kebetulan ada gejala yang tampak, sedangkan ada 5.7 dari 100,000 orang berhasil didiagnosa meskipun tidak ada gejala yang tampak. Belakangan ini, keberhasilan dalam diagnosa meningioma asymptomatic sudah meningkat 300% karena kemajuan teknologi pengambilan gambar santir, seperti CT Scan.

Pasien yang didiagnosa mengidap meningioma biasanya memiliki gejala-gejala sebagai berikut:

  • Kehilangan ingatan
  • Pandangan yang kabur
  • Sakit kepala yang semakin parah dan kronis
  • Serangan panik atau serangan jantung
  • Kehilangan kemampuan indera penciuman
  • Rasa lemah pada tangan dan kaki
  • Kesulitan berbicara
  • Merasa kaku

Jika pasien menunjukkan gejala-gejala tersebut, maka pemindaian otak biasanya akan dilakukan, agar dokter dapat mengindentifikasi letak dan ukuran meningioma pada otak.

Siapa yang Harus Ditemui dan Jenis Perawatan yang Tersedia

Ahli medis pertama yang harus ditemui untuk berkonsultasi saat mengalami gejala yang berkaitan dengan meningioma adalah dokter umum atau dokter keluarga yang dapat memeriksa dari luar dan melihat riwayat medis Anda, sebelum meminta Anda untuk melakukan CT Scan atau MRI. Jika keberadaan meningioma sudah dipastikan, maka Anda akan dirujuk kepada seorang dokter spesialis. Tergantung dari parahnya kondisi meningioma yang diderita, Anda mungkin perlu sebuah tim dari beberapa dokter spesialis yang terdiri dari dokter bedah saraf, spesiallis radiasi kanker, dan dokter utama Anda.

Meningioma dibagi menjadi tiga tingkatan:

  • Stadium 1 – 75% dari meningioma yang pernah dideteksi terdapat pada kelas ini, yang memiliki ciri-ciri adanya sebuah tumor yang jinak dan tumbuh dengan lambat dan mungkin tidak perlu perawatan khusus.

  • Stadium 2 – Bagi meningioma yang ada di stadium ini, tumornya tetap jinak, tapi kemungkinan dapat tumbuh kembali

  • Stadium 3 – Meningioma pada stadium ini sudah bersifat ganas dan tumbuh dengan cepat dan menunjukkan gejala-gejala yang sudah disebutkan di atas.

Sebelum perawatan dilakukan, dokter ahli bedah saraf akan melakukan serangkaian tes yang berbeda untuk menentukan tingkat keparahan dari meningioma yang Anda derita dan juga menentukan masalah medis lain yang mungkin Anda miliki. Protokol perawatan, yang juga termasuk terapi radiasi, pembedahan, dan kemoterapi, bertujuan untuk mengangkat tumor yang dapat meringankan sakit yang Anda derita dan juga untuk mencegah penyebaran kepada jaringan otak yang normal.

Namun, jika dari hasil serangkaian tes yang dilakukan dapat dipastikan bahwa tumornya tidak akan menyebabkan masalah apapun dan kemungkinan tidak akan menyebar dan menyebabkan komplikasi yang berbahaya, maka pengamatan reguler akan disarankan. Pilihan ini memerlukan pemindaian otak yang dilakukan secara teratur untuk memastikan bahwa tumor tersebut tidak tumbuh. Jika tumor tersebut tumbuh dan Anda mulai menampakkan gejala-gejala yang berhubungan, maka dokter bedah saraf akan menyarankan pembedahan. Dalam beberapa kasus di mana letak tumor tersebut tidak dapat diakses, maka terapi radiasi akan dilakukan untuk mengecilkan ukuran tumor tersebut dan di saat yang sama, menghancurkan sel kanker yang mungkin ada. Namun, dalam beberapa kasus di mana dokter bedah tidak berhasil menghilangkan pertumbuhan tumor tersebut 100%, maka pembedahan akan digabungkan dengan terapi radiasi untuk memastikan tidak ada sisa-sisa dari tumor atau sel kanker yang tertinggal.

Radiosurgery merupakan pilihan perawatan yang lain yang dilakukan dengan menggunakan sinar yang memiliki tingkat radiasi yang kuat ke lokasi yang sudah ditentukan secara tepat, untuk memastikan bahwa daerah sekitar tumor tersebut berada tidak ikut terpengaruh. Perawatan ini tidak memerlukan pembedahan dan dilakukan jika dokter bedah tidak dapat mengangkat tumor tersebut melalui pendekatan bedah secara tradisional dan saat tumor tersebut tetap kembali tumbuh berkali-kali meskipun sudah dilakukan perawatan.

Jika tumor yang bermasalah ini terletak dekat dengan saraf penglihatan dan radiosurgery dianggap akan lebih berisiko, maka biasanya disa untuk melakukan teratpi radiasi yang dilakukan dalam beberapa tahap. Perawatan ini memerlukan beberapa kali sesi, di mana pasien menerima terapi sedikit demi sedikit. Setiap sesi dilakukan setiap 30 hari untuk memastikan kemanan pasien dan keberhasilan terapi ini.

Beberapa obat-obatan juga dapat digunakan untuk mengobati meningioma. Biasanya, pilihan ini paling tepat digunakan untuk tumor yang tidak terpengaruh dengan jenis perawatan yang lain seperti pembedahan atau terapi radiasi. Salah satu obat yang paling sering digunakan adalah hydroxyurea. Obat lain seperti somatostatin analog juga masih dalam uji coba untuk mencegah munculnya hormon pertumbuhan.

Obat-obatan juga dapat digunakan untuk mengurangi gejala-gejala yang terjadi. Salah satunya adlah obat anticonvulsant yang digunakan untuk mengobati serangan panik dan juga obat steroid yang dapat digunakan untuk mengurangi pembengkakan. Selama perawatan, tabung plastik yang pipih juga mungkin dapat dimasukkan dengan cara pembedahan untuk menguras cairan yang ada di dalam otak.

Rujukan:

  • Cedars-Sinai: "Meningiomas Brain Tumors."
  • Brigham and Women's Hospital: "Facts about Meningiomas."
  • Johns Hopkins Medicine web site: "Grades of Meningioma," "Stereotactic Radiosurgery," "What Is a Meningioma?" "Types of Meningioma," "Diagnosis of Meningioma," "Treatment of Meningioma."
  • American Academy of Neurological Surgeons: "Meningiomas."
  • Medscape: "Pathophysiology."
  • UCLA Health System web site: "What Is a Meningioma?"
Bagikan informasi ini: