Apa Itu Miastenia Gravis?

Miastenia gravis adalah penyakit autoimun yang ditandai dengan melemahnya otot lurik selama berkegiatan, namun akan membaik ketika beristirahat. Otot yang biasanya terserang adalah yang mengendalikan mata, kelopak mata, dan ekspresi wajah serta yang terlibat saat menelan, berbicara, dan mengunyah. Otot di leher, tungkai, dan yang mengendalikan pernapasan juga mungkin terserang.

Miastenia gravis menyerang siapa pun pada usia berapapun. Namun, kondisi ini lebih sering terjadi pada wanita berumur di atas 40 dan laki-laki di atas 60 tahun. Kondisi ini tidak dapat disembuhkan, tetapi gejalanya dapat diobati sehingga pasien dapat kembali hidup normal.

Kondisi ini tidaklah bersifat umum. Faktanya, di Amerika Serikat, hanya terdapat sekitar 20 penderita dari 100.000 orang. Miastenia gravis tidak bersifat turun-temurun atau menular, meskipun ada kasus di mana lebih dari satu orang dalam satu keluarga didiagnosis dengan kondisi tersebut.

Penyebab Miastenia Gravis

Miastenia gravis disebabkan oleh sistem imun yang tidak normal. Otak mengendalikan otot lurik dengan mengirimkan impuls ke saraf. Impuls dikirim ke serat otot melalui saraf. Namun, serabut saraf dan serat otot tidak benar-benar terhubung. Terdapat ruang di antara ujung saraf dan serat otot yang disebut sambungan neuromuskuler.

Ujung saraf mengirimkan bahan kimia yang disebut asetilkolin pada sambungan neuromuskuler ke lokasi reseptor serat otot. Setelah reseptor menerima asetilkolin, otot akan berkontraksi.

Namun, jika seseorang terserang miastenia gravis, antibodinya akan menghalangi reseptor otot. Dengan demikian, serat otot gagal berkontraksi dan melemah dengan mudah. Antibodi merupakan bagian penting sistem kekebalan tubuh dan bertugas untuk menghancurkan bakteri dan virus berbahaya. Sayangnya, pada kasus miastenia gravis, antibodi tidak menyerang virus atau bakteri, melainkan menyerang lokasi reseptor.

Tanpa astetilkolin otot akan menjadi lemah, tetapi otot akan kembali normal ketika otot tidak lagi mengirimkan saraf impuls untuk mengaktifkan serat otot, yang berarti bahwa tubuh sedang beristirahat.

Miastenia gravis tidak hanya melemahkan otot, namun juga komplikasi dapat terjadi. Beberapa komplikasi ynag paling umum adalah krisis miastenia, tumor timur, dan tiroid yang terlalu atau kurang aktif, serta kondisi autoimun.

Krisis miastenia ditandai dengan melemahnya otot-otot pernapasan. Kondisi ini dapat mengancam jiwa, sehingga membutuhkan perhatian medis segera. Di sisi lain, tumor timur merupakan pertumbuhan daging yang berkembang pada timus, yaitu kelenjar di bawah tulang dada. Tumor ini biasanya bersifat ganas (non-kanker).

Gejala Utama Miastenia Gravis

Gejala utama dari miastenia gravis adalah melemahnya otot. Otot yang terserang akan menjadi lemah setiap kali diaktifkan. Namun, ketiaka seseorang sedang beristirahat, otot biasanya akan sembuh, kemudian lemah kembali ketika digunakan.

Ketika kondisi ini mempengaruhi mata atau kelopak mata, kondisi ini dapat menyebabkan ptosis (kelopak mata turun) atau penglihatan ganda. Jika miastenia gravis mempengaruhi tenggorokan dan otot wajah, orang dapat memperlihatkan gejala, seperti gagap bicara, masalah mengunyah, masalah menelan, atau ekspresi wajah yang terbatas.

Kondisi ini dapat menyebabkan leher, kaki, serta tangan melemah dan kesulitan berjalan. Kondisi ini juga dapat menghlangi pasien memegang sesuatu atau menjaga kepalanya tetap tegak.

Jika Anda melihat gejala tersebut, Anda harus segera menjadwalkan kunjungan dengan dokter Anda. Namun, jika Anda merasa sulit untuk bernapas, segera kunjungi unit gawat darurat rumah sakit atau memanggil layanan darurat kesehatan.

Siapa yang Harus Dikunjungi dan Pengobatan yang Tersedia

Jika Anda mengalami otot melemah yang tidak dapat dijelaskan, Anda harus segera mengujungi dokter keluarga Anda. Namun, melemahnya otot merupakan gejala umum dari banyak gangguan dan penyakit. Bahkan, dokter akan jarang menduganya sebagai miastenia gravis dengan segera. Kebanyakan pasien bahkan tidak menerima diagnosis yang tepat dalam beberapa waktu. Pada beberapa pasien, butuh dua tahun sebelum kondisi didagnosis dengan benar dan bentuk perawatan yang tepat diberikan.

Bila Anda berkonsultasi dengan dokter Anda dengan keluhan otot melemah, dokter akan mencari informasi tentang penyakit pada keluarga Anda. Anda kemudian akan menjalani pemeriksaan fisik dan saraf. Jika miastenia gravis diduga berada pada stadium ini, dokter akan meminta tes darah untuk mendeteksi antibodi reseptor asetikolin atau molekul kekebalan tubuh.

Anda juga akan menjalani beberapa tes lagi, seperti tes edrofonium, elektromiografi serat tunggal, CT scan, MRI, atau tes fungsi paru.

Setelah dipastikan terserang miastenia gravis, dokter akan memutuskan metode perawatan terbaik. Dokter akan menjelaskan bahwa penyakit ini tidak ada obatnya, namun gejalanya dapat diobati sehingga Anda akan kembali hidup normal.

Perawatan akan mencakup penggunaan berbagai obat, seperti agen antikolinesterase dan obat imunosupresif. Agen antikolinesterase membantu meningkatan transmisi neuromusuler dan memperkuat otot. Sementara itu, obat imunosupresif menekan produksi antibodi yang abnormal.

Penderita miastenia gravis biasanya memiliki kelenjar timus yang abnormal. Dokter akan menganjurkan pengangkatan kelenjar timus melalui tindakan yang disebut timektomi untuk mengobati gejala penyakit.

Perawatan juga dapat mencakup terapi, seperti plasmapheresis. Terapi ini melibatkan penggantian antibodi yang abnormal dalam darah dan menggantinya dengan yang normal yang diperoleh dari darah donor.

Dalam perawatan miastenia gravis, dokter ahli saraf sering dikonsultasi untuk menentuan tingkat kelemahan yang dialami pasien. Setelah ditentukan, dokter akan dapat menentukan perawatan yang tepat. Tujuan dari perawatan miastenia gravis adalah untuk memperkuat otot yang terserang sehingga pasien dapat kembali hidup normal. Perawatan juga akan mencegah kegagalan pernapasan, yaitu suatu kondisi yang membutuhkan perawatan medis darurat.

Hingga saat ini, National institute of Neurological Disorders (NINDS) terus melakukan berbagai penelitan miastenia gravis untuk menentukan penyebab pasti penyakit ini, yang dapat mengarah pada perkembangan pengobatan untuk kondisi tersebut.

Rujukan:

  • Meriggioli MN, Sanders DB. Disorders of neuromuscular transmission. In: Daroff RB, Fenichel GM, Jankovic J, Mazziotta JC, eds. Bradley’s Neurology in Clinical Practice. 6th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2012:chap 78.

  • Vincent A, Evoli A. Disorders of neuromuscular transmission. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman’s Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Elsevier Saunders; 2011: chap 430.

Bagikan informasi ini: