Apa itu Stenosis Katup Mitral?

Katup mitral adalah salah satu katup yang mengatur aliran darah melalui jantung. Saat jantung berdetak, atrium berkontraksi untuk mendorong darah ke dalam ventrikel. Lalu katup mitral terbuka, sehingga darah akan mengalir melalui atrium kiri menuju ventrikel kiri.

Terkadang, katup mitral dapat menyempit. Penyempitan atau stenosis seringkali terjadi akibat demam reumatik. Ketika ini terjadi, sebagian atau seluruh aliran darah menuju ventrikel kiri dapat tersumbat, sehingga atrium kiri akan membesar. Kondisi ini mengakibatkan fibrilasi atrium, yaitu saat atrium kiri berdetak sangat cepat dalam pola yang tidak teratur. Akibatnya, kekuatan jantung untuk memompa darah akan menurun.

Stenosis katup mitral meningkatkan risiko pembekuan darah. Melalui aliran darah, gumpalan darah dapat ke luar dan bergerak ke bagian tubuh lain. Jika gumpalan darah tersangkut dan menyumbat pembuluh arteri, maka pasien dapat mengalami stroke. Stenosis katup mitral juga dapat memicu gagal jantung, yaitu saat jantung tidak dapat memompa darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh akan darah dan oksigen.

Penyebab Stenosis Katup Mitral

Penyebab penyempitan katup mitral yang paling umum adalah demam reumatik. Penyakit peradangan ini umumnya terjadi pada anak berusia lima sampai 15 tahun. Kondisi yang juga dapat dialami oleh orang dewasa ini merupakan komplikasi umum dari demam scarlet atau kumpulan bakteri langka yang memicu reaksi kekebalan tubuh. Saat mencoba melawan infeksi, tubuh akan melepaskan antibodi, yang secara tidak sengaja menyerang sel sehat, termasuk sel-sel otot jantung.

Saat ini, demam rematik termasuk penyakit yang sangat jarang ditemukan di negara maju. Ini karena antibiotik yang efektif mengobati infeksi sudah banyak tersedia. Namun demam rematik masih relatif umum di negara yang tidak berkembang dan negara berkembang.

Pada kasus yang langka, katup mitral akan menyempit karena penumpukan kalsium.

Gejala Utama Stenosis Katup Mitral

Banyak pasien stenosis katup mitral yang tidak merasakan gejala selama beberapa tahun. Namun seiring dengan kondisi yang memburuk, pasien dapat mengalami:

  • Napas pendek

  • Mendadak tidak tahan akan aktivitas fisik

  • Pusing atau pingsan

  • Kelelahan

  • Nyeri dada atau sakit

  • Sakit kepala yang sangat parah

  • Gejala stroke

  • Hemoptisis atau batuk berdarah

  • Wajah mitral (mitral facies) karena sianosis atau darah kurang oksigen

Siapa yang Perlu Ditemui dan Hasil yang Diharapkan

Pada stadium awal, stenosis katup mitral biasanya tidak menampakkan gejala apapun. Tak jarang, kondisi ini tidak terdeteksi selama beberapa tahun atau sampai komplikasi muncul. Ada kasus di mana penyakit ini ditemukan secara tidak sengaja saat pasien menjalani tes diagnostik untuk memeriksa penyakit lain.

Tanda awal dari stenosis katup mitral adalah murmur jantung, suara abnormal setelah jantung berdetak, yang dapat terdengar melalui stetoskop. Apabila kondisi ini terdeteksi saat pemeriksaan fisik, dokter akan melakukan tes dan prosedur diagnostik tambahan untuk mengenali penyebab dan menangani gangguan jantung yang juga menyebabkan gejala ini.

Pasien yang diduga mengidap stenosis katup mitral menjalani pemeriksaan fisik lengkap. Tekanan darah pasien akan diukur dan denyut nadi pun diperiksa. Rekam medis dan gaya hidup pasien akan dibicarakan. Mereka akan ditanya, apakah pernah mengalami demam reumatik atau menderita gangguan jantung, termasuk endokarditis, kelainan jantung bawaan, atau fibrilasi atrium.

Beberapa tes diagnostik untuk mendiagnosis stenosis katup mitral adalah:

  • Rontgen dada - Rontgen dada adalah tes pencitraan yang menghasilkan gambar jantung, paru-paru, pembuluh darah, dan tulang dengan menggunakan radiasi dosis rendah. Jika pasien menderita stenosis katup mitral, maka atrium bagian atas pasien akan tampak membengkak pada gambar.

  • Ekokardiogram - Tes USG yang menghasilkan gambar jantung bergerak dengan memanfaatkan gelombang suara bernada tinggi. Ini digunakan untuk mengukur area katup mitral dan memeriksa kecepatan diastolik dan tekanan pada ventrikel kiri. Jika katup mitral menyempit, ventrikel kiri akan sulit terisi darah dan atrium bawah tidak dapat mengeluarkan darah secara cepat.

  • Elektrokardiogram - Memeriksa aktivitas listrik jantung menggunakan elektroda yang dihubungkan pada mesin elektrokardiogram. Ini adalah alat yang paling penting untuk mendiagnosis stenosis katup mitral dan memeriksa keparahannya, serta waktu yang tepat untuk melakukan intervensi.

Pengobatan untuk stenosis katup mitral didasarkan pada tingkat keparahan kondisi pasien. Apakah bersifat ringan, sedang, atau parah.

Kondisi yang ringan tanpa gejala tidak diobati dengan sembarang obat atau operasi. Hal ini karena risiko atau efek samping pengobatan bisa melebihi keuntungannya. Namun dokter lebih menyarankan untuk menunggu, di mana pasien akan dipantau dan diminta menjalani tes periodik, termasuk ekokardiogram, untuk memastikan jika kondisi tidak memburuk.

Pasien yang menunjukkan gejala biasanya diberi resep obat-obatan berikut:

  • Antikoagulan atau pengencer darah, untuk mencegah pembekuan darah

  • Diuretik, untuk mengurangi penumpukan cairan

  • Beta-blocker, untuk memperlambat detak jantung

Kasus stenosis yang parah memerlukan prosedur balloon valvuloplasty atau penggantian katup mitral. Pada balloon valvuloplasty, kateter tipis disisipkan melalui pembuluh darah di area lengan atau paha, sampai ke stenosis katup mitral. Balloon di ujung kateter akan dipompa untuk memperbesar katup dan mengembalikan aliran darah normal. Umumnya, prosedur ini akan melegakan gejala dengan cepat dan mampu menanggulangi stenosis.

Namun pada beberapa kasus diperlukan bedah jantung terbuka atau komisurotomi. Tujuannya untuk mengeluarkan kalsium yang menumpuk dan jaringan parut pada daun katup. Jika katup telah rusak dan tidak dapat diperbaiki, jalan satu-satunya adalah dengan menggantinya.

Penggantian katup mitral dapat dilakukan melalui bedah jantung terbuka atau bedah endoskopi. Berdasarkan metode yang dipakai, dokter bedah kemungkinan akan membuat sayatan panjang atau empat lubang di dada untuk mengangkat katup yang telah menyempit. Lalu, katup akan diganti dengan katup jaringan atau katup mekanik. Katup jaringan diambil dari donor yang telah meninggal, atau dari sapi atau babi. Sedangkan katup mekanik terbuat dari logam. Oleh sebab itu, katup mekanik lebih tahan lama dan biasanya tidak perlu diganti. Namun berbeda dengan katup jaringan, katup mekanik mengharuskan pasien untuk mengkonsumsi obat antikoagulan selama sisa hidup mereka. Tujuannya untuk mencegah pembekuan darah.

Rujukan:

  • Roles of your four heart valves. American Heart Association. http://www.heart.org/HEARTORG/Conditions/More/HeartValveProblemsandDisease/Roles-of-Your-Four-Heart-Valves_UCM_450344_Article.jsp.

  • Otto CM, Bonow RO. Valvular heart disease. In: Mann DL, Zipes DP, Libby P, Bonow RO, Braunwald E, eds. Braunwald’s Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 63.

  • Webb JG, Carroll JD. Transcatheter therapies for structural heart disease in adults. In: Mann DL, Zipes DP, Libby P, Bonow RO, Braunwald E, eds. Braunwald’s Heart Disease: A Textbook of Cardiovascular Medicine. 10th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 56.

Bagikan informasi ini: