Apa itu Neoplasma Endokrin Multipel Tipe 1?

Sindrom Neoplasma Endokrin Multipel (MEN) adalah kelainan bawaan langka. Kelainan ini ditandai dengan pertumbuhan abnormal di dalam kelenjar-kelenjar endokrin, yaitu kelenjar paratiroid, tiroid, dan adrenal, serta pankreas. Sindrom MEN dapat membuat kelenjar bengkak dan overaktif, atau menghasilkan hormon dengan kadar melebihi kebutuhan tubuh.

Ada tiga jenis sindrom MEN, yaitu MEN tipe 1, 2A, dan 2B. MEN tipe 1 dikenal juga sebagai adenomatosis endokrin multipel dan sindrom Wermer. Sindrom ini menyebabkan pembentukan tumor di dalam kelenjar pituitari, sel islet pada pankreas, dan kelenjar paratiroid. Pada beberapa pasien, tumor juga muncul di bagian saluran pencernaan lain, serta korteks adrenal dan tumor karsinoid.

Pasien MEN1 mengalami berbagai gejala akibat ketidakseimbangan hormon. Hormon yang dilepaskan oleh beberapa kelenjar endokrin bertanggung jawab untuk mengendalikan dan mengatur fungsi organ tubuh. Produksi hormon berlebih memicu beberapa gangguan kesehatan, termasuk hiperparatiroidisme (karena kelenjar paratiroid yang terlalu aktif), tukak di dalam lambung dan usus kecil (akibat tumor sel islet memproduksi terlalu banyak gastrin), dan pertumbuhan jaringan lunak berlebihan (produksi hormon pertumbuhan berlebih).

Berdasarkan statistik, MEN1 terjadi pada satu dari 30.000 orang. Sindrom ini dapat menyerang pria dan wanita dari segala usia. Meski belum ada obat yang dapat menyembuhkan kondisi ini, beberapa terapi dapat mengobati dan menangani gejala serta komplikasi yang timbul.

Penyebab Neoplasma Endokrin Multipel Tipe 1

MEN1 adalah kelainan bawaan. Artinya, kondisi ini diturunkan dari orang tua pada anak. Hal ini disebabkan oleh mutasi gen yang juga disebut MEN1. Gen MEN1 meningkatkan risiko untuk terserang tumor endokrin dan gejala MEN1 lainnya.

Setiap sel di dalam tubuh memiliki dua tiruan gen; masing-masing tiruan diturunkan dari ayah dan ibu. Mutasi hanya terjadi pada salah satu tiruan gen. Artinya, orang tua dengan mutasi gen tersebut memiliki kemungkinan hingga 50% untuk menurunkan mutasi gen pada anak mereka. MEN1 berkembang apabila gen bersifat normal yang diturunkan dari orang tua hilang atau rusak saat pembelahan sel normal.

Pasien MEN1 yang ingin memiliki anak dapat menjalani prosedur yang disebut diagnosis genetik pra-implantasi. Prosedur ini membuat pasien MEN1 dapat mencegah mutasi gen agar tidak menurun pada anak mereka. Melalui prosedur ini beberapa embrio akan diuji. Embrio yang tidak mengandung mutasi gen MEN1 akan dipindahkan ke rahim melalui prosedur bayi tabung (IVF).

Gejala Neoplasma Endokrin Multipel Tipe 1

Gejala MEN1 berbeda pada setiap pasien, tergantung pada kelenjar yang terserang. Di antaranya termasuk:

  • Kecemasan

  • Tinja berwarna hitam

  • Perasaan kembung setelah makan

  • Pembengkakan tulang

  • Perubahan daya melihat

  • Sakit kepala berlanjut

  • Sindrom Cushing, yang disebabkan oleh tumor pituitari. Gejalanya termasuk berat badan naik, penumpukan lemak di bagian tengah perut, cedera kulit yang sulit sembuh, letih, dan tidak tahan glukosa.

  • Nyeri di bagian dada bawah dan perut atas

  • Rambut rontok

  • Hiperparatiroidisme, yang menyebabkan nyeri otot dan tulang, kelelahan, dan lemah

  • Kemandulan

  • Masa menstruasi kurang (pada wanita)

  • Perubahan mental

  • Payudara memproduksi susu berlebihan

  • Gangguan fungsi seksual

Sebanyak 60% penderita MEN1 terserang tumor neuroendokrin pankreatik. Pasien dengan kondisi tersebut umumnya mengidap gastrinoma, yang menyebabkan produksi gastrin dan asam lambung berlebih. Ini mengakibatkan terbentuknya tukak lambung atau tukak duodenum. Sindrom yang juga dikenal sebagai sindrom Zollinger-Ellison ini dapat menyebabkan pendarahan berat, tukak, dan striktur saluran pencernaan atas. Sekitar 10% pasien MEN1 juga terserang insulinoma, yang memicu produksi insulin berlebih dan membuat kadar gula darah rendah.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Uji genetik MEN1, yang dilaksanakan oleh penasihat genetika atau dokter yang terlatih di bidang genetika, dimanfaatkan untuk mendiagnosis MEN1 pada pasien yang menunjukkan gejala tersebut. Selain itu, tes untuk anggota keluarga derajat pertama juga dapat dilakukan untuk mengetahui apakah mereka juga mengidap kondisi tersebut. Prosedur tersebut diikuti dengan tes darah untuk mengukur kadar hormon tertentu, serta tes pencitraan untuk mendeteksi pertumbuhan abnormal. Tes ini seringkali meliputi:

  • Tomografi Komputer (CT-scan) dan/atau Pencitraan Resonansi Magnetik (MRI) untuk kepala dan perut

  • Tes insulin

  • Biopsi paratiroid

  • Uji kadar serum adrenokortikotropik, hormon perangsang folikel, hormon luteinising, dan hormon paratiroid

  • Uji kadar kortisol, kalsium, gastrin, dan glukagon

  • USG untuk leher

Pengobatan untuk MEN1 seringkali melibatkan pengangkatan parsial (reseksi parsial) atau seluruh (reseksi total) kelenjar yang terjangkit.

  • Hiperparatiroidisme diatasi dengan mengangkat kelenjar paratiroid.

  • Tumor pituitari - Beberapa tumor pituitari kecil dapat ditangani dengan obat dopamine agonists. Namun, tumor besar yang menyebabkan gangguan penglihatan harus diangkat melalui prosedur bedah.

  • Tumor neuroendokrin pankreatik - Prosedur bedah baru akan dipertimbangkan apabila ukuran tumor lebih dari 2cm. Operasi bisa meliputi pengangkatan sebagian pankreas, lambung, dan usus dua belas jari. Pada kasus yang lebih parah, pankreas harus diangkat seluruhnya.

Setelah itu, pasien harus menjalani terapi penggantian hormon seterusnya. Mereka harus meminum obat untuk mengganti hormon yang tidak lagi diproduksi oleh kelenjar yang telah dikeluarkan.

Selain terapi penggantian hormon, pasien dengan tumor jinak yang telah diangkat melalui prosedur bedah biasanya tidak lagi memerlukan pengobatan lain. Namun, jika tumor bersifat ganas atau mengandung kanker, reseksi kelanjar biasanya akan diikuti dengan kemoterapi atau terapi radiasi; keduanya bertujuan untuk menghancurkan sel kanker yang tersisa untuk mencegah kondisi berulang.

Prognosis bagi pasien dengan tumor ganas seringkali tidak sebaik pasien dengan tumor jinak. Angka ketahanan hidup mereka tergantung pada stadium kanker, apakah kanker telah menyebar ke bagian tubuh terdekat atau bagian yang jauh, dan bagaimana reaksi tubuh terhadap pengobatan.

Rujukan:

  • Kronenberg HM. Polyglandular disorders. in: Goldman L, Ausiello D, eds. Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011: chap 239.

  • National Comprehensive Cancer Network Clinical Practice Guidelines in Oncology: Neuroendocrine Tumors. National Comprehensive Cancer Network; 2011. Version 1.2011.

Bagikan informasi ini: