Apa itu Muntah?

Muntah adalah keluarnya makanan secara paksa dari perut melalui tenggorokan. Makanan keluar dari mulut, atau kadang melalui hidung. Muntah dapat terjadi dengan sengaja atau tidak, dan lebih dilihat sebagai gejala daripada sebuah kondisi.

Banyak orang cenderung bingung dalam membedakan rasa mual dan muntah, sebab keduanya biasa muncul bersamaan. Namun, keduanya berbeda. Mual adalah sensasi ingin muntah dan selalu mendahului, sebelum seseorang muntah, namun tidak semua rasa mual membuat makanan keluar secara paksa. Sebaliknya, muntah juga tidak selalu dibarengi dengan mual.

Muntah juga berbeda dengan regurgitasi, yaitu naiknya kembali makanan yang belum tercerna melalui mulut dan hidung. Ini berarti makanan belum sampai ke lambung. Regurgitasi adalah proses pencernaan umum pada hewan.

Muntah dipandang sebagai cara alami tubuh untuk menyingkirkan sesuatu. Sebagai contoh, jika seseorang memakan sesuatu berukuran terlalu besar dan terdorong ke tenggorokan, membatukkannya atau memuntahkannya merupakan bagian dari insting. Muntah juga dapat menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang salah pada sistem pencernaan dan muncul bersamaan dengan gejala lainnya untuk mengindikasikan penyakit yang diderita.

Memuntahkan tidak selalu berarti berbahaya. Sebagai contoh, hal ini umum dialami ibu hamil. Para ahli percaya bahwa perubahan signifikan pada hormon dapat menyebabkan mual atau muntah di pagi hari, yang juga dikenal sebagai morning sickness. Muntah juga wajar dialami bayi pada hari-hari pertamanya karena pencernaannya sedang membiasakan diri dengan susu.

Namun, jika kondisi ini berkepanjangan atau terus menerus, atau memburuk, maka dapat menyebabkan dehidrasi, di mana dapat membuat organ vital berada dalam situasi yang mengancam nyawa.

Penyebab Muntah

  • Masalah pencernaan – Ini dapat berkisar pada ulkus lambung, kolitis ulceratif, dan gastroenteritis. Muntah juga dapat terjadi saat seseorang memakan makanan basi atau keracunan makan, dalam kasus ini muntah merupakan cara untuk menyingkirkan racun dari tubuh.

  • Mencerna zat beracun – Induksi muntah juga merupakan cara lain untuk mengatasi masalah akibat mencerna zat beracun, seperti alkohol. Namun, ini memerlukan perhatian medis selekas mungkin.

  • Kehamilan – Seperti yang dijelaskan sebelumnya, muntah umum terjadi pada wanita hamil, terutama pada trisemester pertama (3 bulan pertama) kehamilan. Setelah itu, mual dan muntah akan berkurang hingga akhirnya berhenti. Meskipun muntah pada perempuan hamil biasanya tidak berbahaya, namun dapat menjadi berbahaya, jika wanit tersebut didiagnosa dengan hiperemesis gravidarum, yaitu rasa mual dan muntah yang berkelanjutan. Biasanya terjadi berbarengan dengan sembelit, sakit kepala ringan, dan bahkan pingsan.

  • Bergerak – Beberapa orang dapat merasa mual saat dalam pergerakan seperti menyetir kendaraan atau kapal.

  • Obat-obatan – Beberapa obat sangat kuat, sehingga memiliki efek samping seperti muntah. Contohnya adalah obat kemoterapi.

  • Kelelahan – Saat seseorang berada dalam tekanan fisik dan kelelahan, sebuah bagian saraf yang disebut parasimpatis, yang mengatur pergerakan otot tak sadar yang ditemukan dalam sistem pencernaan, diaktifkan. Kelelahan terjadi karena bekerja dalam waktu yang panjang, olahraga yang sangat berlebihan, dan bahkan jet lag (pergi ke tempat lain dengan pola waktu yang berbeda dengan tempat asal).

Penyebab lainnya yang memungkinkan, antara lain:

  • Kanker
  • Masalah hati atau ginjal
  • Usus buntu (radang pada usus buntu)
  • Migrain atau sakit kepala

Gejala Utama Muntah

Muntah sebenarnya merupakan gejala, yang muncul sendiri atau bersamaan dengan tanda lain dari sebuah penyakit atau masalah kesehatan. Gejala lainnya antara lain:

  • Sakit kepala
  • Nyeri
  • Mual
  • Pusing atau sakit kepala ringan
  • Pingsan
  • Kelelahan
  • Demam
  • Kembung atau perut terasa penuh
  • Merasa bahwa makanan kembali lagi ke tenggorokan
  • Rasa asam di mulut
  • Masalah pengelihatan
  • Berkeringat secara tidak normal
  • Detak jantung yang cepat
  • Berkurangnya berat badan tanpa sebab yang jelas
  • Hilangnya napsu makan
  • Batuk secara berlebihan

Muntah tidak dianggap sebagai keadaan darurat, jika dapat berhenti dalam waktu 24 jam dari waktu dimulainya. Namun, paling baik adalah mencari perawatan medis, jika muntah tidak berhenti setelah 2 – 3 hari, jika penyebabnya mengancam nyawa seperti kerancunan makanan atau mencerna zat beracun, atau jika membuat seseorang kesulitan untuk meminum air paling tidak setengah hari. Pasien seharusnya dibawa ke rumah sakit jika muntah datang bersamaan dengan demam yang sangat tinggi, keringat berlebih, rasa sakit yang signifikan, disorientasi, atau kehilangan fungsi bagian tubuh tertentu atau mental. Pasien dengan diabetes harus berhati-hati saat mereka mengalami muntah-muntah, karena dapat membuat gula darah bergejolak.

Siapa yang Harus Ditemui & Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien dewasa dapat menemui dokter penyakit dalam, sementara anak harus dibawa ke dokter anak. Di sisi lain, wanita hamil dapat menemui ginekolog untuk mendapatkan saran.

Penting bagi dokter untuk mengetahui penyebab muntah, sehingga pengobatan yang tepat dapat diberikan. Ini melibatkan pemeriksaan tubuh menyeluruh, penilaian riwayat kesehatan pasien dan keluarga, serta identifikasi gejala lainnya. Tes lain seperti tes urin dan tes darah lengkap harus dilakukan.

Tergantung hasil diagnosa dokter, pengobatannya termasuk:

  • Meminum cairan untuk mencegah dehidrasi. Cairan juga dapat membantu mengeluarkan racun dari tubuh yang menyebabkan mual dan muntah.
  • Istirahat total (bed rest) atau berbaring
  • Obat-obatan, yang dapat mencegah mual karena bergerak dan masalah pencernaan seperti gangguan pencernaan.
  • Mengubah makanan atau pola makan termasuk BRAT (dengan pisang, nasi, saus apel, dan roti bakar)
  • Mengurangi aktivitas yang membuat stres
  • Pengobatan kondisi yang menyebabkan muntah seperti operasi untuk mengangkat sumbatan pada usus atau tumor
  • Olahraga yang tidak berat
  • Infus, terutama jika seseorang tidak dapat mencerna makanan, membutuhkan pengobatan segera, atau menunjukkan tanda dehidrasi

Muntah dapat hilang segera setelah pengobatan dilakukan. Namun, dalam beberapa kasus, perlu berhari-hari sebelum muntahnya benar-benar berhenti. Selain itu, karena muntah bisa muncul dengan gejala-gejala lainnya, lebih dari satu pilihan pengobatan mungkin dilakukan.

Rujukan:

  • Malagelada J-R, Malagelada C. Nausea and vomiting. In: Feldman M, Friedman LS, Brandt LJ, eds. Sleisenger & Fordtran’s Gastrointestinal and Liver Disease. 9th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2010:chap 14.

  • Mcquaid K. Approach to the patient with gastrointestinal disease. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Goldman’s Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, PA: Saunders Elsevier; 2011:chap 134.

Bagikan informasi ini: