Apa itu Miositis?

Miositis adalah penyakit otot langka. Penyakit ini ditandai dengan kelemahan dan peradangan otot kronis. Penyakit ini dapat bersifat akut (gejala muncul secara tiba-tiba, namun akan membaik dengan sendirinya) atau kronis (gejala bertahan lebih lama). Ini dapat mengakibatkan kehilangan massa otot dan kematian jaringan otot. Itulah sebabnya, penyakit ini membuat pasien merasa lemah.

Miositis memicu sejumlah komplikasi. Beberapa di antaranya bersifat fatal. Pasien dengan masalah menelan (saat otot dada dan paru-paru ikut terpengaruh) berisiko menghirup makanan dan cairan ke dalam paru-paru mereka. Hal ini dapat meningkatkan risiko kematian.

Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan penyakit ini. Namun, gejalanya dapat diredakan dengan terapi medis dan fisik.

Penyebab Miositis

Sebagian besar kasus miositis terjadi saat sistem kekebalan menyerang otot dan jaringan ikat. Akibatnya, otot akan membengkak, lalu gejala bermunculan. Kasus lainnya terjadi karena terpapar zat beracun dan penyakit menular seperti HIV atau AIDS.

Gejala Utama Miositis

Gejala utama miositis adalah memiliki otot yang lemah dan membengkak. Kondisi seperti ini mempersulit gerakan sehari-hari. Miositis dapat terjadi secara mendadak atau perlahan dalam beberapa minggu, bahkan bulan. Terkadang, ini terjadi setelah berkembang dalam beberapa tahun.

Jenis miositis yang berbeda menyebabkan tanda-tanda yang berbeda pula. Di antaranya:

  • Polimiositis - Menyerang kedua sisi tubuh. Polimiositis menyerang otot-otot di sekitar paha, punggung, dan pinggang. Ini juga memengaruhi bagian leher dan bahu. Tanda dari kondisi ini berkembang secara perlahan dalam beberapa minggu atau bulan. Risiko penyakit ini meningkat seiring usia yang menua. Umumnya, jenis ini terjadi pada kelompok usia 35-44 tahun dan 55-64 tahun. Pasien akan merasa kesulitan menaiki tangga dan bangun dari posisi duduk. Bila tidak diobati, kondisi ini dapat menyebabkan masalah menelan dan bahkan gagal jantung. Pria dan wanita dapat terserang kondisi ini, namun umumnya wanita dua kali lebih rentan daripada pria.

  • Dermamiositis - Ditandai dengan kelemahan otot yang disertai dengan keropeng pada kulit. Keropeng berwarna ungu dan merah muncul pada otot-otot yang biasa digunakan untuk memperkuat atau meregangkan sendi. Ini termasuk jemari kaki, lutut, siku, dan buku jari. Jenis miotosis ini dapat menyerang orang dewasa dan anak -anaknya, serta umumnya lebih rentan pada wanita. Selain lemah otot dan keropeng, gejala lainnya adalah demam rendah dan sensitif terhadap cahaya. Ini pun dapat menyebabkan penumpukan kalsium di bawah kulit atau otot.

  • Miositis reaktif pascainfeksi (PIRM) - Ini terjadi setelah terdapat beberapa jenis infeksi virus. Bila dibandingkan dengan dua jenis miositis sebelumnya, ini bersifat lebih ringan. Ini tak perlu dikhawatirkan. Sebab, miositis ini dapat membaik dengan sendirinya dalam beberapa waktu.

  • Miositis inklusi tubuh (IBM) - Ini seringkali menyerang pria lansia berusia 50 tahun atau lebih. Ini dapat melemahkan otot pergelangan tangan dan jemari. Kondisi ini juga memengaruhi otot paha utama dan otot di bawah lutut. Ini ditandai dengan otot yang makin terasa letih selama beberapa tahun. Tanda-tandanya berupa pasien yang lebih sering terjatuh dan tersandung, serta masalah menelan. Pasien juga akan kesulitan menggenggam suatu benda.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Mendiagnosis miositis dimulai dengan pemeriksaan fisik dan tes darah. Tujuannya untuk mengukur kekuatan otot dan kadar antibodi serta enzim dalam darah. Tes lain yang juga digunakan adalah pencitraan resonansi magnetik (MRI) dan elektromiografi (EMG). MRI adalah alat pemindai modern yang dapat memperlihatkan keparahan dan perluasan penyakit. Sedangkan EMG untuk memeriksa cara sinyal listrik melintas dari ujung saraf menuju otot. Biopsi otot dapat dilaksanakan untuk mempertegas diagnosis. Prosedur ini memanfaatkan jaringan otot untuk menemukan tanda-tanda peradangan atau kerusakan otot.

Penyakit ini diobati dengan obat-obatan yang menghentikan serangan sistem kekebalan kepada otot dan jaringan ikat. Ini menyerupai efek sejumlah hormon yang diproduksi oleh tubuh. Saat dikonsumsi dalam dosis tinggi, obat-obatan ini mampu menekan peradangan.

Terapi medis dipadukan dengan terpau fisik. Tujuannya untuk mempertahankan kekuatan otot dan menjaga rentang gerak tubuh. Program olahraga ringan sangatlah tepat jika otot terasa lemah dan nyeri yang hebat. Intensitas olahraga dapat ditingkatkan seiring dengan kondisi kesehatan yang makin membaik. Terapi medis dapat dipadukan dengan imunoglobulin atau terapi biologis. Ini dapat dilakukan jika miosis menyebabkan gejala yang membahayakan nyawa pasien, seperti masalah menelan yang parah.

Sebagian besar kasus merespon terapi dengan cukup baik. Namun, faktor lain dapat memengaruhi prognosis. Kondisi pasien cenderung memburuk saat terdapat penyakit lain yang menyertai. Kondisi yang sama terjadi pada pasien berotot lemah yang mengalami masalah menelan.

Tidak seperti penyakit jenis lain, IBM tidak selalu merespons seluruh terapi. Pengobatan yang tersedia hanya sedikit bekerja agar kondisi ini tidak memburuk.

Rujukan:

  • National Institute of Neurological Disorders and Stroke. https://www.ninds.nih.gov/Disorders/Patient-Caregiver-Education/Fact-Sheets/Inflammatory-Myopathies-Fact-Sheet#1

  • Belman AL, Preston T, Milazzo M. Human immunodeficiency virus and acquired immunodeficiency syndrome. In: Goetz, Pappert, eds. Textbook of Clinical Neurology. 1999:898-900.

  • Patel SR, Olenginski TP, Perruquet JL, Harrington TM. Pyomyositis: clinical features and predisposing conditions. J Rheumatol. 1997 Sep. 24(9):1734-8

Bagikan informasi ini: