Apa itu Narkolepsi?

Narkolepsi adalah kondisi medis yang membuat seseorang tertidur secara mendadak di siang hari. Ini terjadi saat kadar neurotransmitter (hipokretin), yang membantu mengatur keadaan sadar, sangat rendah. Ini menyebabkan seseorang kehilangan kendali atas siklus tidur dan terjaga. Oleh sebab itu, bahkan jika di malam sebelumnya tidur mereka menyegarkan, mereka tetap merasakan kantuk yang luar biasa selama siang hari. Mereka juga merasa kesulitan untuk tetap terjaga selama beberapa jam, terlepas dari tempat mereka berada dan aktivitas yang sedang dilakukan. D luar keinginan mereka, mereka dapat tertidur secara tiba-tiba saat makan malam dengan keluarga atau memasak makan siang. Mereka bahkan dapat tertidur saat berkendara atau di tengah rapat kerja.

Gangguan ini menyerang satu dari 2.000 orang di Amerika Serikat. Narkolepsi dapat bersifat sedang atau berat. Kasus yang paling berat adalah narkolepsi yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan penderita. Banyak dari mereka yang tidak dapat pergi bekerja atau melakukan hal-hal yang mereka anggap menyenangkan. Namun mereka dapat menjalani hidup yang normal dan aktif jika mereka mengonsumsi obat-obatan untuk menangani gangguan tersebut.

Penyebab Narkolepsi

Para peneliti tidak yakin atas penyebab yang membuat beberapa orang memiliki kadar hipokretin yang rendah. Namun sejumlah penelitian menyatakan, ada beberapa yang mungkin berperan dalam hal ini.

  • Gangguan autoimun - Respons autoimun dapat menyebabkan kerusakan neuron yang memproduksi hipokretin

  • Flu babi - Banyak pasien flu babi yang ternyata memiliki kadar hipokretin rendah.

  • Vaksin flu babi

  • Faktor genetik

  • Perubahan hormon, yang dapat terjadi selama menopause dan pubertas

  • Stres berat, baik mental maupun fisik

Gejala Utama Narkolepsi

Orang yang menderita narkolepsi biasanya:

  • Hampir sepanjang hari merasa mengantuk

  • Kurang waspada dan tidak dapat fokus pada aktivitas mereka

  • Kehilangan tonus otot dalam waktu yang singkat - Ini biasanya terjadi saat seseorang merasa terlalu senang atau gembira. Wajar bila mereka terjatuh saat tertawa secara spontan. Dalam satu hari, gejala ini dapat sering terjadi. Namun ini biasanya hanya berlangsung selama beberapa menit.

  • Tidak dapat bergerak atau berbicara saat tertidur atau terbangun

Gangguan ini tidak menyebabkan masalah kesehatan atau fisik jangka panjang atau serius. Namun ini dapat menghambat penderita dalam melakukan aktivitas biasa. Ini termasuk mengemudi atau bahkan memasak, karena mereka terancam menyakiti diri mereka atau orang lain. Hal ini membuat mereka kehilangan motivasi dan menderita depresi berat.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Orang yang menunjukkan gejala tersebut dapat berkonsultasi pada dokter yang berspesialisasi dalam gangguan tidur. Ahli gangguan tidur akan mendiagnosis narkolepsi dengan prosedur berikut:

  • Meninjau riwayat kesehatan dan tidur pasien

  • Polisomnografi - Umumnya, ini adalah tes yang pertama digunakan untuk mendiagnosis beberapa gangguan tidur. Tes ini mengharuskan pasien untuk mendatangi pusat penelitian tidur, tempat dia akan diawasi sepanjang malam. Saat pasien tidur, dokter akan merekam gelombang otak, denyut jantung, dan kadar oksigen, serta gerak mata dan kaki pasien.

  • Uji latensi tidur multipel - Tes ini seringkali disebut studi tidur siang. Untuk menjalani prosedur ini, pasien diharuskan mengikuti tidur siang yang telah dijadwalkan dengan jarak dua jam antara keduanya. Tes ini mengukur seberapa cepat pasien dapat tertidur. Pasien yang memiliki gangguan otak biasanya tertidur dan memasuki tidur fase gerak mata cepat (REM) dalam waktu 15 menit. Oleh sebab itu, jika pasien belum tertidur dalam waktu 20 menit, dokter tidak akan mendiagnosis narkolepsi sebagai penyebab dari gejala yang dialami pasien.

Obat-obatan untuk narkolepsi bekerja dengan cara:

  • Memperbaiki waktu tidur malam

  • Merangsang sistem saraf pusat

  • Membantu pasien agar tetap terjaga selama siang hari

  • Mengobati semua gejala

Banyak obat untuk narkolepsi yang memiliki efek samping. Ini termasuk somnabulisme (tidur sambil berjalan), mengompol, mulut kering, dan mual. Dokter akan menjelaskan efek samping ini dengan hati-hati kepada pasien, sebelum mereka menjalani terapi obat-obatan. Jika pasien menderita efek samping yang parah dan tidak tertahankan, mereka dianjurkan untuk berkonsultasi kembali kepada dokter untuk mendapatkan obat pengganti.

Selain obat-obatan, pasien juga dianjurkan untuk:

  • Menghindari konsumsi obat yang memicu rasa kantuk

  • Menaati jadwal tidur

  • Tidur siang dalam waktu yang telah dijadwalkan

  • Tidak merokok atau meminum alkohol

  • Makan dengan pola yang seimbang

  • Olahraga sesering mungkin

Narkolepsi tidak dapat disembuhkan. Sebagian besar gejalanya dapat diobati dengan obat-obatan dan perubahan gaya hidup, namun narkolepsi tidak akan sepenuhnya pulih. Pada beberapa kasus, gejala dapat memburuk sebelum sempat membaik.

Rujukan:

  • Ropper AH, et al. Sleep and its abnormalities: Introduction. In: Adams & Victor’s Principles of Neurology. 10th ed. New York, N.Y.: The McGraw-Hill Companies; 2014.

  • Narcolepsy fact sheet. National Institute of Neurological Disorders and Stroke. http://www.ninds.nih.gov/disorders/narcolepsy/detail_narcolepsy.htm.

Bagikan informasi ini: