Definisi dan Gambaran Umum

Nyeri saraf adalah nyeri akibat serabut saraf yang rusak, cedera, atau mengalami gangguan fungsi. Neuropati bersifat rumit dan kronis dengan gejala yang beragam mulai ringan hingga berat. Nyeri neuropati bukan sekadar sebuah kondisi, ini merupakan akibat dari penyakit yang mempengaruhi sistem somatosensori Sebanyak 7 hingga 100 orang mengalami nyeri neuropati, yang mana kebanyakan penderita merupakan kelompok lanjut usia.

Gejala Nyeri Saraf

Nyeri Saraf tidak selalu disertai nyeri yang hebat. Namun hampir selalu disertai tingkat kepekaan nyeri yang tidak normal berupa ketidaknyamanan yang terus menerus hingga nyeri yang tidak tertahankan. Rasa tidak nyaman tersebut dapat berupa mati rasa, rasa panas, geli, nyeri seperti tertusuk, atau berupa sengatan listrik. Berikut sebutan yang digunakan untuk menjelaskan ketidaknyamanan pada saraf:

  • Alllodynia: rangsangan tak berbahaya berupa sentuhan ringan yang mampu mencetus rasa tidak nyaman atau nyeri
  • Hyperpathia: periode ketidaknyamanan yang singkat hingga menyebabkan rasa nyeri yang hebat
  • Hyperalgesia: rasa tidak nyaman yang ringan dimana saraf menerjemahkannya sebagai nyeri hebat yang tidak tertahankan
  • Paraesthesia: ketidaknyamanan atau nyeri yang dirasakan bahkan ketika tidak ada rangsangan fisik pencetus secara langusng

Penyebab Nyeri Saraf

Tampaknya tidak ada penyebab tunggal untuk kondisi ini. Namun nyeri neuropati kerap ditemukan berhubungan dengan kerusakan saraf perifer. Kerusakan dan cedera pada otak atau sumsum tulang belakang juga menyebabkan nyeri saraf. Penyebab neuropati lainnya antara lain:

  • Neuralgia trigerminal atau infeksi saraf kranial (tengkorak)
  • Sirap (infeksi cacar ular atau herpes zoster) atau infeksi virus pada saraf
  • Neuropati diabetik, sebuah kelainan saraf yang didapati pada penderita diabetes (lebih dari 25% neuropati disebabkan oleh diabetes)
  • Penyakit sel saraf motorik seperti multiple sclerosis
  • Neuropati akibat HIV
  • Kanker dan pengobatannya
  • Konsumsi alkohol atau efek samping obat
  • Penumpukan zat beracun
  • Luka fisik pada saraf
  • Penyakit jaringan ikat
  • Komplikasi stroke

Jenis-Jenis Nyeri Saraf

Terdapat tujuh kategori nyeri saraf berdasarkan faktor pencetusnya, antara lain:

  • Toksik: nyeri akibat cedera pada saraf yang disebabkan oleh paparan bahan kimia beracun seperti pada kemoradiasi dalam pengobatan kanker.

  • Metabolik: neuropati yang berhubungan dengan gangguan fungsi metabolik disebabkan oleh kekurangan gizi seperi pada kasus diabetes dan kekurangan vitamin B1.

  • Luka (Trauma): nyeri saraf akibat luka fisik seperti yang terjadi pada phantom limb syndrome.

  • Penekanan (Kompresif): tekanan dari luar yang berlebihan pada ujung saraf sehingga menyebabkan cedera berkepanjangan dan penurunan fungsi saraf yang berkembang menjadi nyeri neuropati.

  • Autoimun: antibodi alami dapat menyebabkan cedera pada saraf sehingga menimbulkan nyeri dan ketidaknyamanan.

  • Infeksi: virus yang menyebabkan cedera pada saraf mencakup virus Varisela Zoster (neuralgia trigerminal), HIV, Huillain-Barre, dan penyakit Chagas.

  • Bawaan (Kongenital): penyakit neuropati dapat dihubungkan dengan kelainan bawaan dan turunan.

Kapan Harus Berobat

Kebanyakan pasien yang mengalami nyeri saraf selalu disertai nyeri dan rasa tidak nyaman yang luar biasa sehingga mendorong mereka untuk menemui dokter. Dokter akan mendiagnosis nyeri pada pertemuan pertama dengan menggali sejarah dan gejala pasien. Setelah itu ia akan merujuk pasien ke ahli saraf jika ada kemungkinan kerusakan saraf atau dibutuhkan solusi yang lebih mutakhir.

Pemeriksaan fisik dan berbagai pengujian akan dilakukan guna mencari tahu penyebab nyeri saraf tersebut. Kemampuan pasien dalam merasakan rangsangan seperti sentuhan ringan, posisi tubuh, suhu dan nyeri akan ditentukan untuk mengetahui jika serabut saraf telah terpengaruh cukup banyak. Uji darah dapat dilakukan untuk menyingkirkan diabetes, gangguan fungsi hati dan ginjal, kekurangan vitamin dan kelainan metabolisme lainnya dalam menentukan diagnosis. Pemeriksaan mutakhir lainnya juga dianjurkan guna menentukan penyebab nyeri: electromyelogram (EMG), nerve conduction velocity (NCV), magnetic resonance imaging (MRI) atau pengambilan contoh (biopsi) jaringan saraf.

Tatalaksana Nyeri Saraf

Tatalaksana untuk nyeri saraf terpusat pada dua tujuan: mengobati kondisi penyebab nyeri serta perawatan untuk meredakan gejala nyeri. Guna menentukan metode tatalaksana neuropati yang tepat bagi pasien tertentu diperlukan diagnosis penyebab nyeri pada pasien. Sebagai contoh,, neuropati akibat tekanan mekanik pada serabut saraf tentu membutuhkan pembedahan atau tindakan intervensi. Lain halnya bila penyebabnya adalah kekurangan vitamin maka tablet suplemen akan dianjurkan. Membenahi kondisi penyebab juga dapat meredakan nyeri neuropati dengan sendirinya sejalan dengan pemulihan dan penumbuhan kembali saraf yang rusak.

Untuk mengobati ketidaknyamanan dan gejala yang menggelisahkan pada neuropati, terdapat berbagai jenis obat yang diranjurkan, antara lain:

  • Obat nyeri: obat yang bukan diresepkan dokter kurang mujarab untuk neruopati; dibutuhkan pereda nyeri berbahan dasar opiate (candu) seperti morfin dan kodein. Namun hanya dapat digunakan dalam jangka pendek untuk menghindari efek samping.

  • Obat antidepresi: antidepresi seperti duloxetin telah terbukti dapat meringankan neuropati dengan mengganggu penghantaran sinyal (tranmisi impuls) saraf. Hasilnya baru akan terasa setelah beberapa minggu mengonsumsi secara rutin.

  • Obat antikonvulsan atau antiepilepsi: Obat antiepilepsi dianggap sebagai alternatif bagi obat antidepresi yang bekerja lebih cepat. Layaknya obat antidepresi, obat ini mampu meringankan nyeri saraf secara efektif dengan menghentikan sinyal saraf bersama efek samping yang lebih ringan.

  • Pembiusan (Anestesi) lokal: Penggunaan biusan oles seperti lidokain dapat meringankan nyeri tertentu secara sementara seperti neuralgia trigerminal atau neuralgia akibat herpes.

  • Suntikan penghambat saraf (Nerve block): Dilakukan dengan menyuntikkan zat pembius secara langsug pada saraf yang terpengaruh guna mencegah sinyal nyeri agar lebih nyaman.

Karena sifatnya yang rumit, dalam pengobatan gejala nyeri diperlukan rangkaian kegiatan yang membutuhkan kedisiplinan, antara lain mengonsumsi obat nyeri serta program rehabilitasi. Selain obat-obatan, pengobatan fisik melalui fisioterapi, rangsangan elektrik saraf melalui kulit dan terapi fisik juga dianjurkan bagi kasus neuropati yang berat. Selain itu pengobatan non kedokteran untuk menangani stres, kegelisahan dan depresi seperti konsultasi dengan psikolog, penanganan stres, bersantai atau terapi pijat serta terapi perilaku dipercaya dapat membantu pasien dengan nyeri neuropati yang terus menerus.

Tinjauan Pustaka:

  • American Chronic Pain Association: "Neuropathic Pain.” Available: http://www.theacpa.org/condition/neuropathic-pain
  • Loeser, J. D. (Ed), Bonica’s Management of Pain, 3rd Edition, Lippincott, Williams & Wilkins, Philadelphia, 2001.
  • National Institute of Neurological Disorders and Stroke. “Neurological Diagnostic Tests and Procedures” Available: http://www.ninds.nih.gov/disorders/misc/diagnostic_tests.htm#diagnostic
  • The Neuropathy Association Website “About Peripheral Neuropathy” Available: http://www.neuropathy.org/site/PageServer?pagename=About_Facts1
Bagikan informasi ini: