Apa itu Suntikan Alergi?

Suntikan alergi adalah penyuntikan alergen ke dalam tubuh untuk melakukan desensitisasi, sehingga dapat mengurangi gejala dari reaksi alergi. Tindakan ini juga dikenal sebagai imunoterapi alergen. Suntikan alergi merupakan program imunoterapi jangka panjang di mana penyuntikan dilakukan dalam jangka waktu tertentu selama beberapa tahun.

Suntikan alergi memiliki dua konsep utama: imunoterapi dan desensitisasi.

Imunoterapi adalah proses meningkatkan sistem kekebalan tubuh sehingga dapat beradaptasi secara efektif dan memberikan respon yang lebih akurat terhadap patogen, termasuk berbagai sumber alergen.

Sistem kekebalan tubuh sebagian besar terdiri dari sel darah putih. Salah satu jenisnya adalah antibodi yang dapat melindungi tubuh dari patogen asing yang dapat membahayakan tubuh, seperti penyakit.

Ketika tubuh terkena sumber dari alergi (misal: serbuk sari bunga, kulit binatang, dan jamur), sel darah putih akan menghasilkan antibodi untuk melawan alergen. Namun, dalam proses ini sel darah putih juga akan menghasilkan zat kimia bernama histamin, yang dapat menyebabkan pertanda umum dari alergi seperti ruam dan kesulitan bernapas.

Teori yang umum digunakan dalam melawan atau mengendalikan reaksi alergi adalah desensitisasi. Desensitisasi adalah suatu proses di mana antibodi akan dikenai alergen dengan dosis yang terus bertambah. Dengan begitu, sistem kekebalan tubuh akan terlatih untuk terus mengenali alergen tanpa harus menghasilkan terlalu banyak histamin, yang dapat menyebabkan reaksi alergi.

Walaupun suntikan alergi tidak dapat menjamin berhentinya gejala alergi, namun suntikan ini dapat menghentikan gejala alergi untuk waktu yang lama. Hal ini berarti bahwa seseorang juga dapat kembali mengalami reaksi alergi setelah berhenti mendapatkan suntikan alergi.

Siapa yang Harus Mendapatkan Suntikan Alergi dan Hasil yang Diharapkan

Suntikan alergi disarankan bagi pasien anak dan dewasa. Namun, suntikan alergi sangatlah bermanfaat bagi anak dan lansia karena kondisi sistem kekebalan tubuh mereka.

Namun, suntikan alergi seringkali tidak diberikan pada anak yang berusia lima tahun ke bawah, karena mereka kemungkinan belum memiliki kemampuan untuk mengendalikan gejala alergi dan efek samping dari suntikan alergi dengan baik.

Wanita hamil atau wanita yang ingin hamil harus membicarakan suntikan alergi dengan dokter mereka. Sementara itu, suntikan alergi tidak boleh diberikan pada pasien yang telah didiagnosis menderita penyakit kardiovaskular atau sedang mengonsumsi obat-obatan yang memiliki kontraindikasi dengan obat yang digunakan.

Suntikan alergi dapat disarankan bagi mereka yang sering berada di sekitar penyebab alergi mereka, misalnya pasien yang alergi pada kulit hewan tapi masih ingin memelihara hewan peliharaan mereka. Selain itu, suntikan alergi merupakan pilihan yang sesuai apabila pasien tidak mau terlalu bergantung pada obat-obatan atau apabila obat-obatan tersebut hanya mengurangi sedikit gejala alergi.

Suntikan alergi dapat bermanfaat bagi alergi yang disebabkan oleh musim atau gigitan serangga seperti tawon atau lebah.

Sayangnya, suntikan alergi tidak dapat diberikan pada pasien yang memiliki alergi makanan atau mudah terkena biduran.

Penyuntikan hanya membutuhkan waktu beberapa menit. Namun, dokter dapat meminta pasien untuk tidak meninggalkan ruangan selama sekitar 30 menit untuk mengawasi adanya reaksi negatif akibat suntikan alergi.

Suntikan alergi tidak menyebabkan kekebalan pada patogen. Suntikan ini juga tidak dapat menyembuhkan alergi. Namun, suntikan alergi dapat mencegah agar gejala alergi tertentu tidak memburuk. Pasien juga dapat menyadari bahwa gejala alergi mereka menjadi lebih jarang terjadi, atau berhenti selama bertahun-tahun.

Cara Kerja Suntikan Alergi

Sebelum suntikan alergi dapat diberikan, pasien harus menjalani serangkaian tes, seperti tes alergi, yang bertujuan untuk mengetahui penyebab dari reaksi alergi. Dokter juga harus memeriksa reaksi tubuh pada alergi, obat-obatan yang telah dikonsumsi dan mengapa obat tersebut tidak dapat menyembuhkan alergi, serta komitmen pasien pada program suntikan alergi, terutama karena program ini terdiri dari beberapa suntikan yang harus diberikan pada waktu yang berbeda selama beberapa tahun.

Program ini terdiri dari dua tahap. Pada tahap build-up, suntikan lebih sering dilakukan, misalnya satu atau dua kali setiap minggunya. Tahap ini dapat berlangsung setidaknya selama setengah tahun. Setelah dosis yang efektif telah didapatkan, maka tahap maintenance akan dimulai. Dalam tahap ini, suntikan diberikan dalam jangka waktu yang lebih lama. Namun, periode penyuntikan alergi bergantung pada reaksi tubuh pada efek dari suntikan alergi pada tahap pertama.

Terlepas dari semua kemungkinan masalah dan reaksi, program ini dapat berlangsung selama sekitar lima tahun. Namun, ahli imunologi atau ahli alergi dapat memutuskan untuk menghentikan penyuntikan alergi karena situasi tertentu.

Suntikan alergi memiliki kemiripan dengan vaksinasi, yang berarti tindakan ini tidak membutuhkan persiapan terlebih dahulu. Tindakan ini juga berlangsung dengan sangat cepat.

Beberapa dokter dapat memberikan imunoterapi dengan sangat cepat (rush immunotherapy), namun tindakan ini membutuhkan keahlian yang sangat tinggi karena risikonya juga besar. Dalam kasus ini, suntikan alergi diberikan dalam jangka waktu yang jauh lebih singkat, bukan dalam hitungan hari melainkan dalam hitungan jam. Pasien berisiko tinggi akan mengalami reaksi yang parah.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi Suntikan Alergi

Pasien dapat mengalami reaksi alergi akibat suntikan alergi itu sendiri. Reaksi ini dapat bersifat lokal, yang berarti reaksi ini hanya akan terjadi pada bagian tubuh yang disuntik, atau sistemik, yang lebih parah dan dapat membahayakan nyawa karena dapat terjadi pada beberapa organ tubuh. Reaksi sistemik yang berbahaya dinamakan anafilaksis. Anafilaksis merupakan kondisi yang darurat dan salah satu penyebab mengapa pasien disarankan untuk tetap tinggal di rumah sakit selama 30 menit setelah penyuntikan.

Sementara itu, penyuntikan dapat menyebabkan serangan kepanikan bagi beberapa pasien. Untungnya, sudah ada beberapa tablet yang dapat digunakan untuk menggantikan suntikan, namun tablet ini kemungkinan tidak seefektif suntikan alergi.

Ada juga saat di mana suntikan alergi tidak berhasil sama sekali karena berbagai hal. Salah satu penyebabnya adalah kadar alergen. Apabila pasien terus menerus terkena alergen, maka kemungkinan suntikan alergi tidak dapat memberikan pertolongan yang cukup. Ada juga kemungkinan dosis yang diberikan terlalu sedikit.

Rujukan:

  • American Academy of Allergy, Asthma and Immunology
  • American College of Allergy, Asthma and Immunology
  • The John Hopkins Sinus Center: "Sublingual Immunotherapy." UpToDate: "Oral and sublingual immunotherapy for allergic rhinitis."
Bagikan informasi ini: