Apa itu Obesitas?

Obesitas adalah istilah medis yang merujuk kepada kondisi tubuh yang memiliki terlalu banyak lemak. Lemak tubuh diukur melalui Body Mass Index (BMI). Ini mengukur kadar lemak berdasarkan berat dan tinggi badan seseorang. Kalkulasi BMI yang sehat bagi orang dewasa adalah antara 18,50 sampai 24,90. Sedangakan hasil pengukuran BMI sebesar 25 sampai 29,90 dianggap sebagai kelebihan berat badan. Seseorang dinyatakan obesitas jika BMI-nya mencapai sedikitnya 30.

Lemak tubuh yang terlalu banyak dapat meningkatkan risiko penyakit. Ini kerap dikaitkan dengan tekanan darah tinggi, penyakit jantung, dan diabetes.

Obesitas merupakan permasalahan dunia. Menurut World Health Organisation (WHO), pada tahun 2014, di seluruh dunia ada sekitar 600 juta orang dewasa dan sekitar 41 juta anak-anak yang masuk ke kategori obesitas. Angka ini diperkirakan meningkat karena miliaran orang di seluruh dunia kelebihan berat badan.

Satu-satunya pengobatan untuk obesitas adalah menurunkan berat badan. Pada banyak kasus, makan makanan bergizi, pola makan seimbang, dan gaya hidup yang lebih aktif sudah cukup untuk mewujudkan hal ini. Namun untuk kasus yang parah, penderita sering kali memerukan obat penurun berat badan atau operasi.

Penyebab Obesitas

Orang-orang dapat mengalami obesitas karena:

  • Makan terlalu banyak - Dewasa ini, orang cenderung makan lebih banyak daripada porsi mereka seharusnya. Ini dapat disebabkan oleh kemudahan dalam menemukan makanan. Dahulu, orang-orang harus berbelanja ke pasar dan memasak agar dapat makan atau memberi makan keluarga mereka. Kini, restoran cepat saji ada di mana-mana. Situasi ini membuat orang-orang dapat makan kapan saja mereka inginkan, bahkan saat mereka tidak merasa lapar.

  • Pasif - Orang yang makan terlalu banyak, namun tidak bergerak, cenderung akan bertambah berat badan. Tubuh akan menyimpan kalori yang tidak terbakar sebagai lemak.

  • Usia - Orang-orang akan kesulitan menghilangkan kelebihan berat badan saat mereka bertambah tua. Ini karena perubahan hormon dan metabolisme yang menurun.

  • Gangguan tidur - Penelitian telah membuktikan bahwa kurang tidur dapat meningkatkan nafsu makan seseorang. Hal ini pun berlaku bagi orang yang tidur terlalu lama.

  • Kehamilan - Sebagian besar wanita akan mengalami kenaikan berat badan saat mereka hamil. Namun, beberapa di antara mereka kesulitan untuk menurunkan berat badan pasca melahirkan.

  • Berhenti merokok - Rokok dan tembakau dapat mengurangi nafsu makan. Seorang perokok yang berhenti merokok akan kerap merasa lapar.

Gejala Utama Obesitas

Selain BMI yang sedikitnya mencapai 30, tanda-tanda obesitas lainnya adalah:

  • Lemak viseral. Orang yang obesitas memiliki lebih banyak lemak di bagian tubuh tengah daripada bagian lainnya.

  • Gangguan seksual - Banyak orang yang obesitas mengaku tidak menikmati hubungan seksual. Obesitas juga membuat seorang wanita sulit untuk hamil.

  • Depresi - Studi mengungkapkan bahwa banyak orang dewasa dan anak-anak yang obesitas kerap diejek dan diolok karena berat badan dan penampilan mereka. Hal ini dapat memicu depresi.

Orang-orang yang obesitas juga rentan terhadap penyakit. Mereka berisiko lebih tinggi untuk terserang stroke, penyakit jantung, dan gangguan pernapasan.

Berita baiknya adalah risiko tersebut dapat berkurang melalui penurunan berat badan.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Orang yang obesitas dapat mengunjungi dokter untuk menjalani pemeriksaan. Dokter akan memulai dengan membicarakan riwayat kesehatan dan gaya hidup pasien. Mereka juga akan melakukan pemeriksaan fisik untuk menghitung BMI dan lingkar pinggang pasien. Tes darah pun dilakukan jika pasien mengidap kelainan, sindrom, atau gangguan metabolisme.

Pengobatan untuk obesitas tergantung pada penyebab dan keparahannya. Di antara pengobatan yang mungkin dilakukan adalah:

  • Pola makan sehat dan olahraga - Pasien dapat bekerja sama dengan ahli gizi untuk membantu mengurangi asupan kalori dengan cara yang sehat. Ahli pola makan dapat membuat program makan yang menguatkan tubuh dengan nutrien, namun secara bersamaan juga membantu menurunkan berat badan. Hasil yang lebih baik akan didapatkan bila diimbangi dengan olahraga rutin. Sebaiknya pasien memulai dengan olahraga berintensitas rendah. Berjalan cepat selama 30-60 menit sehari merupakan awal yang baik. Berenang, aerobik air, dan yoga juga merupakan pilihan yang baik. Pasien juga perlu melakukan olahraga angkat beban yang ringan, jika mereka bisa.

  • Mengobati penyakit yang menyertai.

  • Konseling - Ini berpengaruh pada pasien yang terlalu banyak makan akibat gangguan emosional. Seorang konselor atau penasihat dapat membantu mengenali pemicu makan bagi pasien dan mengajari cara menanggulangi keinginan untuk makan makanan yang tidak sehat.

  • Obat-obatan penurun berat badan - Pasien dapat mengonsumsi obat yang telah disetujui oleh Food and Drugs Administration (FDA) Amerika Serikat untuk menurunkan napsu makan mereka.

  • Program pengobatan penurunan perat badan - Manajemen penurunan berat badan jangka panjang sudah banyak tersedia di berbagai belahan dunia. Ini didesain untuk mendorong orang yang kelebihan berat badan dan obesitas untuk menurunkan berat badan mereka.

  • Operasi penurunan berat badan - Pada kasus yang parah, operasi penurunan berat badan akan diperlukan. Ini dapat dilakukan bila pasien:

1.) Gagal menurunkan berat badan, padahal dia sudah mematuhi pola makan sehat dan berolahraga rutin.

2.) Memiliki BMI setidaknya mencapai 40.

3.) Memiliki penyakit serius yang terkait dengan berat badan.

Operasi akan membatasi asupan makanan penderita obesitas. Pengangkatan sebagian lambung diperlukan pada metode operasi tertentu. Operasi untuk menurunkan berat badan sangatlah efektif. Pada banyak kasus, ini bahkan dapat menyelamatkan nyawa pasien.

Rujukan:

  • Papadakis MA, et al. Nutritional disorders. In: Current Medical Diagnosis & Treatment 2014. 53rd ed. New York, N.Y.: The McGraw-Hill Companies; 2014. http://www.accessmedicine.com.

  • Moyer VA, et al. Screening for and management of obesity in adults: U.S. Preventive Services Task Force recommendation statement. Annals of Internal Medicine. 2012;157:373.

  • Nelson DW, et al. Analysis of obesity-related outcomes and bariatric failure rates with the duodenal switch vs. gastric bypass for morbid obesity. Archives of Surgery. 2012;147:847.

Bagikan informasi ini: