Apa itu Bronkiolitis Obliterans?

Bronkiolitis obliterans (BO) adalah masalah paru-paru serius. Kondisi tersebut mulai terjadi ketika saluran udara terkecil pada paru-paru tersumbat. Penyebabnya adalah bahan kimia tertentu yang terhirup sehingga memicu peradangan serta pembengkakkan saluran udara. BO juga merupakan komplikasi umum dari transplantasi paru-paru. Komplikasi bisa terjadi apabila tubuh pasien menolak jaringan donor,. Akibatnya, sistem kekebalan tubuh merespon dengan mengirimkan sejumlah besar sel darah putih untuk menyerang jaringan donor. Kemudian, peradangan parah dan jaringan parut dapat berkembang.

BO menyebabkan kerusakan paru-paru permanen. Oleh karena itu, tindakan pengobatan yang diberikan berfokus untuk mencegah kondisi bertambah parah, bukan mengobati.

BO biasanya terjadi dalam kurun waktu empat sampai delapan minggu setelah seseorang terpapar bahan kimia tertentu. Sedangkan, pada kasus transplantasi paru-paru, penyakit ini bisa timbul beberapa bulan atau beberapa tahun pasca operasi. Kondisi paling berbahaya adalah apabila penyakit ini berkembang dalam tiga bulan pertama setelah operasi, karena dapat menyebabkan infeksi paru-paru kronis dan menurunkan fungsi paru-paru dengan cepat.

BO menjadi lebih dikenal pada tahun 2000. Karena sejumlah besar pekerja pabrik menderita penyakit tersebut. Selanjutnya ditemukan bahwa ternyata penyakit ini berkembang karena paparan bahan kimia yang digunakan dalam popcorn, produk susu, dan karamel. Banyak pekerja pabrik yang akhirnya meninggal. Karena kasus ini, BO juga dikenal dengan nama “popcorn lung.”

Penyebab Bronkiolitis Obliterans

Penyebab utama BO adalah paparan bahan kimia tertentu dan komplikasi dari transplantasi paru-paru. Selain itu, penyakit ini juga dapat terjadi karena gangguan autoimun tertentu dan infeksi virus, serta juga bisa terjadi karena akibat dari reaksi alergi yang parah terhadap obat tertentu.

Gejala Utama Bronkiolitis Obliterans

Gejala pertama dari BO adalah batuk kering yang tidak hilang bahkan setelah pengobatan. Gejala lainnya ialah mengi dan sesak napas. Namun kedua gejala tersebut juga bisa disebabkan oleh gangguan pernafasan lainnya, karena itu BO sering salah didiagnosis pada tahap awal

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

BO didiagnosis dengan cara, berikut:

  • Kaji ulang riwayat medis - Sering kali, pasien diminta mengisi formulir saat mereka tiba di klinik. Mereka juga diminta untuk memberitahukan apakah mereka memiliki riwayat penyakit paru-paru, telah menjalani transplantasi paru-paru, atau memiliki faktor risiko lainnya, termasuk penggunaan kokain dan infeksi virus baru-baru ini. Pasien juga sering ditanya tentang pekerjaan mereka. Dokter ingin mengetahui apakah mereka terpapar bahan kimia tertentu. Selanjutya dokter juga akan menilai gejala dan tingkat keparahannya. Setelah meninjau riwayat kesehatan pasien, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik secara menyeluruh untuk mencari tanda-tanda masalah.

  • Tes laboratorium - Hal ini dilakukan untuk membantu mempertegas diagnosis. Pasien akan dievaluasi untuk melihat penyakit infeksi dan autoimun yang bisanya terkait dengan BO

  • Tes pencitraan - Rontgen dada merupakan tes pertama yang dilakukan untuk mendapatkan gambar paru-paru. Jika memerlukan lebih banyak rincian, dokter akan melakukan CT scan. Sebab, tes ini lebih efektif dalam menunjukkan adanya kelainan pada organ. Tes ini bisa mendeteksi apabila dinding bronkial menebal. Selain itu, CT scan juga dapat mengonfirmasi jika saluran udara membesar. Informasi semacam itu dapat membantu dokter menyingkirkan kemungkinan penyebab gejala lainnya. Hal tersebut penting dalam membuat diagnosis definitif.

  • Tes fungsi paru (PFT) - Ini adalah tes non-invasif yang menunjukkan seberapa baik paru-paru bekerja. Tes ini digunakan untuk mengukur pertukaran gas, laju aliran, dan kapasitas paru-paru. PFT juga digunakan untuk memantau keefektifan pengobatan bagi pasien BO.

  • Biopsi paru-paru - Tes ini bertujuan mendapatkan sampel berupa sepotong kecil jaringan dari paru-paru. Kemudian, sampel tersebut diperiksa di bawah mikroskop. Dokter mungkin tidak akan melakukan prosedur ini pada pasien transplantasi paru-paru.

Kerusakan paru-paru yang disebabkan oleh BO bersifat permanen. Ini berarti tidak ada obat untuk penyakit ini. Dokter menangani kondisi tersebut dengan tujuan mencegahnya semakin parah. Untuk mencapai hal ini, pasien tidak boleh terpapar bahan kimia tertentu. Bagi beberapa pasien, mungkin ini berarti mereka perlu berhenti bekerja. Pasien mungkin juga akan diberikan obat yang membatasi aktivitas sistem kekebalan tubuh mereka. Ini bertujuan untuk mencegah sIstem kekebalan tubuh menyerang sel-sel paru-paru yang sehat.

Bagi pasien yang sudah menjalani pengobatan, penting bagi pasien untuk melakukan tes fungsi paru. Hal ini memungkinkan dokter untuk menentukan apakah pengobatan yang berikan bekerja dengan baik atau tidak. Jika penyakit pada pasien berkembang, dokter perlu melakukan penyesuaian lagi untuk mencapai hasil pengobatan yang lebih baik.

Bila tidak diobati, BO sering berakibat fatal. Oleh karena itu, sangat penting bagi pasien untuk mengenali gejalanya dan mencari pengobatan sedini mungkin apabila memang terkena BO.

Rujukan:

  • Centers for Disease Control & Prevention and the National Institute for Occupational Safety and Health. Flavorings-Related Lung Disease fact sheet.

  • Ditschkowski M et al. Bronchiolitis obliterans after allogeneic hematopoietic SCT: further insight—new perspectives? Bone Marrow Transplantation. (2013) 48, 1224–1229.

Bagikan informasi ini: