Apa itu Oklusi Ureter?

Saluran ureter adalah sebuah saluran panjang yang terbentuk dari otot dengan fungsi sebagai jalan keluar untuk urin. Saluran ini memungkinkan urin mengalir dari ginjal ke kandung kemih.

Oklusi ureter berarti tersumbat saluran ureter. Sehingga, urin tidak dapat mengalir keluar dari tubuh. Akibatnya, urin malah menumpuk dan dapat menyebabkan ginjal membengkak. Jika dibiarkan kondisi ini berbahaya, sebab meningkatkan risiko kerusakan ginjal permanen.

Saluran ureter memiliki dinding tebal. Diameternya kurang lebih sama dari atas ke bawah. Namun, beberapa bagian dari saluran tersebut lebih rentan terhadap penyumbatan. Di antaranya, bagian yang melintasi lubang masuk panggul dan bagian dekat kandung kemih.

Oklusi ureter sering terjadi dan bisa diobati dengan menghilangkan sumbatan ureter untuk mengembalikan aliran normal urin. Karena kondisinya yang mudah diobati, komplikasi parah sangat jarang terjadi pada penyakit ini.

Penyebab Oklusi Ureter

Saluran ureter bisa tersumbat karena sejumlah alasan. Permasalahannya bisa dimulai di dalam ureter atau saluran ureter juga bisa menyempit saat terekan oleh organ di sekitarnya.

Beberapa alasan tersumbatnya saluran ureter adalah:

  • Batu ginjal dan bekuan darah - Tergantung pada ukurannya, kedua hal ini dapat menyumbat sebagian atau seluruh saluran ureter.

  • Prosedur medis tertentu - Di antaranya prosedur transplantasi ginjal dan pengobatan kanker di daerah sekitar saluran ureter.

  • Gangguan bawaan - Seseorang dapat dilahirkan dengan dua ureter di ginjal yang sama. Umumnya, ureter pertama bekerja dengan baik. Sementara, ureter kedua mungkin berkembang sebagian. Jika hal demikian terjadi, ureter kedua cenderung menjadi masalah.

Penyebab lainnya meliputi:

  • Tumor - Pertumbuhan abnormal di sekitar saluran dapat menekan ureter. Efek yang sama bisa disebabkan oleh kehamilan dan ketika organ perut mengalami peradangan.

  • Endometriosis Kondisi di mana jaringan yang sering ditemukan di rahim juga tumbuh di kandung kemih. Hal ini dapat menyebabkan jaringan parut terbentuk di sekitar ureter.

  • Sembelit parah - Dalam kasus yang sangat jarang, sembelit yang parah dan kronis bisa menyebabkan tersumbatnya ureter.

  • Pembengkakan dinding ureter - Hal ini sering disebabkan oleh penyakit kronis dan infeksi.

Gejala Utama Oklusi Ureter

Tanda pertama dari penyakit ini adalah rasa sakit dan ketidakmampuan pasien untuk benar-benar mengosongkan kandung kemihnya. Hal tersebut sering menyebabkan infeksi saluran kemih kronis (ISK). Selain itu, penyakit ini mungkin membuat darah dalam muncul dalam urin. Tingkat keparahan gejala penyakti ini tergantung pada tingkat penyumbatan yang terjadi dan juga tergantung pada apakah hanya satu atau kedua ureter yang terpengaruh. Apabila pasien dengan penyakit ini tidak segera mencari pengobatan, maka kondisinya bisa berlanjut dan menyebabkan kerusakan pada ginjal.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Diagnosis oklusi ureter dimulai dengan melakukan tes urin dan darah. Tes ini bisa mendeteksi adanya infeksi dan mencari tahu apakah ginjal tidak bekerja dengan baik.

Selain itu, aliran urin dari ginjal ke kandung kemih juga akan diperiksa. Jika hasil tes menunjukkan abnormalitas maka akan dikonfirmasi lagi dengan tes pencitraan. Seperti, Computed Tomography (CT), Magnetic Resonance Imaging (MRI), dan scan nuklir ginjal dapat digunakan untuk mendapatkan gambaran yang jelas dari organ dalam. Gambar-gambar ini bisa menunjukkan apakah ureter tersumbat dan lokasi penyumbatan juga dapat diketahui dengan tepat

Ahli bedah memiliki dua tujuan saat merawat kondisi ini. Pertama adalah menghilangkan penyumbatan untuk mengembalikan aliran urin yang normal. Yang kedua adalah memperbaiki kerusakan pada ginjal, jika memang memungkinkan. Prosedur pengobatan dimulai dengan mengalirkan kembali cairan yang telah tertahan di belakang bagian yang tersumbat. Untuk melakuka hal tersebut bisa dilakukan dengan cara memasukkan sebuah tabung melalui punggung pasien. Dokter juga bisa menghubungkan kandung kemih ke kantong drainase eksternal dengan memasukkan tabung melalui uretra.

Langkah selanjutnya adalah mengobati penyumbatan dengan pembedahan. Prosedur bedah bisa dilakukan dengan cara membuat sayatan di perut. Sehingga, dokter bedah dapat mengakses ureter dan melakukan perbaikan yang diperlukan. Namun, belakangan ini banyak dokter bedah lebih memilih metode minimal invasif dengan menggunakan sayatan kecil. Pada metode ini tindakan perbaikan bisa dilakukan dengan menggunakan lengan robot. Dengan ini, prosedur dapat dilakukan dengan lebih presisi, terkontrol, dan fleksibel. Metode ini mengurangi lebih banyak risiko daripada operasi terbuka. Karena itu, pasien bisa memiliki waktu pemulihan yang lebih cepat.

Selama pembedahan, dokter bedah akan fokus untuk menghilangkan apapun yang menghalangi atau menyumbat ureter. Ini termasuk penggumpalan darah dan batu ginjal. Kemudian, dokter bedah akan meninggalkan stent di area sumbatan agar saluran ureter tetap terbuka dan mencegahnya pecah.

Prognosis untuk pasien penyakit ini tergantung pada penyebab, lokasi, dan tingkat obstruksi yang terjadi. Setiap keterlambatan dalam perawatan dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal permanen. Pengobatan untuk kondisi seperti itu adalah dialisis harian atau ‘transplantasi ginjal’.

Rujukan:

  • Gulmi FA, Felsen D, Vaughan ED. The pathophysiology of urinary tract obstruction. Walsh PC, Retik AB, eds. Campbell’s Urology. 7th ed. Philadephia, Pa: WB Saunders and Co; 1998. 342-385.

  • Thomas AW, Cannon A, Bartlett E, et al. The natural history of lower urinary tract dysfunction in men: minimum 10-year urodynamic follow-up of untreated bladder outlet obstruction. BJU Int. 2005 Dec. 96(9):1301-6.

  • Kidney failure: Choosing a treatment that’s right for you. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. http://www.niddk.nih.gov/health-information/health-topics/kidney-disease/kidney-failure-choosing-a-treatment-thats-right-for-you/Pages/facts.aspx

Bagikan informasi ini: