Apa itu Pembiusan untuk Gigi?

Pembiusan untuk gigi (sedation dentistry) adalah pemberian obat penenang seperti obat bius total agar pasien merasa tenang dan santai selama menjalani tindakan pada gigi. Tindakan ini terkadang dikenal sebagai sleep dentistry, walaupun pasien tidak selalu sepenuhnya “tidur” selama tindakan berlangsung. Namun, obat penenang yang diberikan dapat menyebabkan pasien merasa sangat tenang tanpa mengurangi kemampuan pasien untuk mendengar dan mengikuti perintah.

Saat ini, ada banyak cara untuk membius pasien. Salah satunya adalah sedasi sadar, di mana pasien sadar sepenuhnya namun kemungkinan besar tidak akan dapat mengingat tindakan yang ia jalani. Sementara itu, sedasi ringan adalah tindakan yang sesuai bagi pasien yang hanya ingin merasa tenang selama tindakan.

Untuk operasi mulut yang rumit, bius total dapat diberikan karena operasi yang rumit akan membutuhkan waktu yang lama.

Obat penenang tersedia dalam banyak jenis. Semakin banyak dokter gigi yang memilih untuk tidak membius pasien dengan menggunakan infus (atau jarum suntik) karena cara ini dapat memperparah kecemasan pasien. Mereka lebih memilih untuk menggunakan gas (misalnya diberi nitrogen oksida atau gas tertawa), dan sedasi oral, yang belum lama ini mulai banyak digunakan.

Siapa yang Membutuhkan Pembiusan untuk Gigi dan Hasil yang Diharapkan

Salah satu alasan yang paling umum dari pemberian obat penenang adalah kecemasan atau fobia pada tindakan gigi. Diperkirakan ada setidaknya 30% warga Amerika Serikat, terutama anak-anak, yang tidak mau mengunjungi dokter gigi karena merasa cemas atau takut. Hal ini dapat menyebabkan mereka tidak mendapatkan perawatan mulut yang mereka butuhkan, sehingga nantinya dapat memengaruhi kesehatan mereka secara keseluruhan.

Beberapa orang juga kesulitan mengendalikan pergerakan mereka. Hal ini terutama dialami oleh pasien yang menderita kerusakan pada saraf wajah dan penyakit Parkinson. Obat penenang dapat membantu mengurangi tremor yang dapat mengganggu berjalannya tindakan.

Obat penenang dapat diberikan dengan cepat dan efisien. Prosesnya hanya membutuhkan waktu kurang dari semenit, walaupun dokter gigi mungkin harus menunggu sebelum obat penenang sepenuhnya bekerja. Biasanya, tindakan ini dilakukan sebagai tindakan rawat jalan, namun pasien dapat diminta untuk menunggu di klinik sampai efek dari obat penenang sudah benar-benar hilang. Pasien juga mungkin harus meminta bantuan dari teman atau saudara untuk mengantarkannya pulang setelah tindakan pada gigi selesai.

Cara Kerja Pembiusan untuk Gigi

Pertama, dokter gigi akan membicarakan dengan pasien jenis obat penenang yang paling baik bagi pasien. Ada banyak faktor yang dipertimbangkan, termasuk tingkat kecemasan pasien dan tindakan yang akan dilakukan. Setelah jenis obat penenang ditentukan, proses lain dari tindakan akan direncanakan.

Biasanya, tidak ada persiapan khusus yang harus dilakukan selain memberikan informasi pada dokter gigi apabila Anda alergi pada obat penenang yang akan digunakan atau Anda sedang mengonsumsi obat-obatan yang nantinya dapat menyebabkan efek samping. Pasien yang memiliki kelainan jantung harus memberitahu dokter gigi tentang kondisinya sebelum tindakan dimulai.

Kemudian, pasien akan diarahkan ke kursi gigi, di mana ia akan duduk dengan senyaman mungkin. Setelah itu, obat penenang akan diberikan, dan dokter gigi akan menunggu sampai obat tersebut bereaksi. Setelah pasien siap, tindakan pada gigi akan dimulai.

Seorang ahli bius harus selalu berada di ruangan untuk mengawasi pasien.

Kemungkinan Resiko dan Komplikasi

Asalkan obat penenang diberikan oleh ahli gigi yang sangat terlatih, berpengalaman, dan bersertifikat, tindakan ini sangatlah aman.

Rujukan:

  • Sherwood ER, Williams CG, Prough DS. Anesthesiology principles, pain management, and conscious sedation. In: Townsend CM, Beauchamp RD, Evers BM, Mattox KL, eds. Sabiston Textbook of Surgery. 19th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2012:chap 16.

  • Vuyk J, Sitsen E, Reekers M. Intravenous anesthetics. In: Miller RD, ed. Miller's Anesthesia. 8th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2015:chap 30.

Bagikan informasi ini: