Apa itu Uji Darah?

Uji darah adalah proses pengambilan sampel darah yang biasanya dilakukan melalui pembuluh darah untuk diperiksa di laboratorium. Tindakan ini juga dikenal sebagai tes darah. Uji darah merupakan salah satu metode yang paling umum digunakan untuk mengidentifikasi atau menangani gangguan kesehatan.

Darah bertanggung jawab untuk:

  • Mengantarkan oksigen ke berbagai sel dan jaringan tubuh

  • Membawa nutrisi dan gula ke sel tubuh, yang berfungsi sebagai sumber energi, sehingga sel tubuh dapat terus melakukan proses metabolisme

  • Berperan sebagai saluran untuk sisa zat atau produk sampingan yang dihasilkan oleh proses selular, yang nantinya akan dibuang oleh tubuh dengan berbagai cara

  • Mengeluarkan karbon dioksida dari tubuh dengan memindahkannya ke paru-paru

Secara umum, darah tersusun dari dua bagian: plasma darah, yang berbentuk cairan, dan sel darah, yang dapat berupa trombosit, sel darah merah, dan sel darah putih

Plasma darah berjumlah 50% dari komposisi keseluruhan darah. Plasma darah merupakan bagian darah yang mengandung hormon, protein, glukosa, dan lain-lain.

Sementara itu, sel darah juga memiliki peran tersendiri. Sel darah merah dibutuhkan untuk membawa oksigen, sedangkan sel darah putih berperan sebagai sistem pertahanan tubuh untuk melawan ancaman seperti patogen. Sementara itu, trombosit adalah bagian darah yang berfungsi untuk pembekuan darah. Apabila tubuh tidak dapat membekukan darah, maka seseorang dapat meninggal akibat kehilangan banyak darah.

Karena susunan darah yang rumit dan berbagai proses yang membutuhkan darah, perubahan dalam “kadar normal”, tergantung pada apa yang dicari oleh dokter, dapat mengindikasikan adanya gangguan kesehatan atau penyakit.

Siapa yang Harus Menjalani Uji Darah dan Hasil yang Diharapkan

Uji darah dapat disarankan bagi siapa saja, termasuk bayi dan lansia. Uji darah dapat dilakukan untuk:

  • Memeriksa apakah pasien sehat – Uji darah dapat dilakukan sebagai bagian dari pemeriksaan rutin, walaupun pasien tidak menunjukkan gejala apapun.

  • Mendiagnosis suatu penyakit – Salah satu alasan utama mengapa dokter akan meminta uji darah adalah untuk memastikan atau mendiagnosis keberadaan suatu penyakit. Uji darah dapat menemukan kelainan hormon, diabetes, kanker, dan penyakit yang berkaitan dengan darah seperti gangguan pembekuan darah dan pendarahan.

  • Memeriksa apakah suatu penyakit sudah ditangani dengan benar – Pasien yang sedang menjalani pengobatan dapat menjalani uji darah standar untuk mengetahui apakah pengobatannya berhasil. Apabila hasilnya menunjukkan bahwa pengobatan tidak bekerja, maka dokter dapat memutuskan untuk mengubah atau menghentikan pengobatan.

  • Mengeliminasi kemungkinan penyakit lain – Seringkali, dokter sudah memiliki dugaan tersendiri berdasarkan gejala yang ditunjukkan oleh pasien, namun untuk memastikan, uji darah dapat dilakukan untuk mengeliminasi kemungkinan adanya penyakit lain.

Uji darah biasanya berlangsung sangat cepat, tidak lebih dari 10 menit. Namun hasilnya biasanya diberikan dalam bentuk nilai. Laporan tes darah akan meliputi jumlah nilai yang normal dan apakah hasilnya berada dalam batas normal atau tidak.

Berada di atas atau di bawah batas normal dapat menyebabkan pasien cemas dan khawatir, namun hasil yang tidak normal seringkali bukan merupakan pertanda adanya penyakit. Banyak faktor yang dapat memengaruhi hasil uji darah, termasuk tingkat stres pasien sebelum menjalani uji darah. Selain itu, walaupun sudah ada panduan untuk nilai hasil tes darah, namun nilai ini dapat berubah seiring berjalannya waktu. Oleh karena itu, pasien yang menjalani tes glukosa darah dapat dianggap “normal” sekarang namun dapat dianggap pra-diabetes di kemudian hari, karena perubahan dari nilai glukosa yang dianggap normal. Maka dari itu, uji darah akan dilakukan bersamaan dengan uji kesehatan tertentu.

Cara Kerja Uji Darah

Ada banyak cara untuk mengambil sampel darah dari pasien. Salah satunya adalah dengan ditusuk (pricking). Pada metode ini, jari pasien akan ditusuk dengan jarum, sehingga darah akan mengalir keluar. Kemudian, sampel darah akan diambil dengan sebuah gelas.

Metode lain – dan metode yang paling umum – adalah pengambilan darah melalui pembuluh darah. Pasien dapat duduk dengan nyaman di atas kursi atau berbaring di atas meja rumah sakit. Sebuah turniket akan diikat di lengan agar pembuluh darah lebih terlihat. Setelah staf rumah sakit, misalnya perawat, sudah menemukan pembuluh darah yang terbaik, ia akan memasukkan jarum ke pembuluh darah secara perlahan. Setelah jumlah darah yang cukup sudah didapatkan, jarum akan ditarik dengan hati-hati dan perlahan.

Ada juga tindakan analisa gas darah arteri, di mana sampel darah digunakan untuk memeriksa fungsi metabolisme dan paru-paru tubuh (mis. kadar karbon dioksida dan oksigen). Dalam tindakan ini, darah diambil langsung dari arteri. Dua lokasi yang ideal adalah arteri femoral (di selangkangan) dan arteri radial (di pergelangan tangan). Apabila arteri ada di bagian tubuh yang lain, maka kateter dapat digunakan sebagai panduan. Kateter dapat diambil setelah tindakan selesai.

Setelah pengambilan darah selesai, kapas yang sudah dibasahi dengan alkohol akan diberikan pada pasien untuk mengurangi pendarahan.

Setelah itu, sampel darah dikirim ke laboratorium, di mana sampel tersebut akan dimasukkan ke alat sentrifugasi. Alat ini dapat memisahkan berbagai komponen darah, sehingga setiap komponen tersebut dapat dianalisa dengan lebih akurat. Dengan adanya proses ini, satu sampel darah dapat digunakan untuk berbagai uji darah yang berbeda.

Tergantung pada jumlah uji darah atau jenis uji darah, hasil dari uji darah bisa didapatkan dalam beberapa jam sampai beberapa minggu. Seorang ahli hematologi atau ahli patologi dapat menganalisa hasil laboratorium, sedangkan dokter dapat membahas hasilnya dengan pasien.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Uji Darah

Secara umum, pengambilan darah merupakan tindakan yang aman. Namun, terkadang beberapa pasien mengalami hematoma atau memar, yaitu suatu kondisi di mana darah menggenang di luar pembuluh darah. Kondisi ini biasanya terjadi saat pembuluh darah mengalami kerusakan, sehingga darah mengalir keluar. Untungnya, hematoma biasanya tidak bertahan lama dan dapat diobati dengan kompres. Hematoma juga biasanya bersifat lokal, yang berarti kondisi ini hanya terjadi pada bagian tubuh yang disuntik.

Rujukan:

  • American Association for Clinical Chemistry
Bagikan informasi ini: