Apa itu Pendarahan Otak?

Pendarahan otak adalah pendarahan yang terjadi di otak dan area di sekitarnya.

Otak merupakan bagian dari sistem saraf pusat, yang tersusun dari sumsum tulang belakang. Otak adalah salah satu bagian tubuh yang paling penting karena berfungsi sebagai pusat komando. Otak bekerja dengan berbagai saraf untuk menerima dan mengirim pesan ke berbagai bagian tubuh dan memberitahu apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya.

Otak sendiri merupakan organ tubuh yang sangat lunak dan lembut serta terdiri dari berbagai bagian. Bagian yang terbesar didominasi oleh serebrum, yang mengendalikan kemampuan berbicara, ingatan, dan emosi. Ada juga batang otak, yang memiliki peran penting dalam situasi yang penuh tekanan. Saat seorang berada dalam tekanan, otak akan memasuki mode melawan-atau-kabur, yang diatur oleh batang otak. Otak juga mengendalikan tekanan darah dan pernapasan. Otak kecil (serebelum) merupakan bagian otak yang mengatur pergerakan, keseimbangan, dan interpretasi dari informasi yang dikirimkan oleh indera manusia.

Otak sangat rawan mengalami kerusakan dan pendarahan. Namun otak memiliki perlindungan yang baik. Otak dilindungi oleh berbagai lapisan, seperti duramater dan cairan serebrospinal, yang juga dapat ditemukan di sumsum tulang belakang. Dari luar, otak juga dilindungi oleh tengkorak, yang terdiri dari berbagai jenis tulang yang saling berhubungan.

Walaupun begitu, ada banyak faktor yang masih dapat menyebabkan pendarahan pada otak dan area di sekitarnya. Apabila pendarahan menjadi tidak dapat dikendalikan, maka pendarahan dapat menyebabkan matinya sel otak dan terhentinya banyak fungsi tubuh. Terkadang pendarahan otak juga dapat menyebabkan kelumpuhan sementara atau permanen, serta hilangnya kemampuan tertentu, seperti kemampuan motorik.

Penyebab Pendarahan Otak

Salah satu penyebab utama dari pendarahan otak adalah hipertensi, yang juga dikenal sebagai tekanan darah tinggi. Jantung memompa darah melalui berbagai pembuluh darah, seperti arteri untuk mengalirkan oksigen dan nutrisi lainnya ke sel dan jaringan tubuh. Namun agar darah dapat mengalir, darah akan membutuhkan tekanan saat mengalir melalui pembuluh arteri. Namun, terkadang tekanan ini dapat menjadi sangat tinggi. Hal ini akan menyebabkan pembuluh darah menjadi tertarik dan akhirnya pecah, sehingga darah mengalir keluar. Di Amerika Serikat, setidaknya ada 30% dari warga yang berusia 20 tahun ke atas yang terkena hipertensi.

Hipertensi juga dapat menyebabkan aneurisma, yaitu suatu kondisi di mana dinding arteri membengkak dan menjadi lemah sampai akhirnya pecah, sehingga terjadi pendarahan yang parah. Kondisi ini juga dapat terjadi pada dinding jantung. Namun selain tekanan darah tinggi, aneurisma otak dapat bersifat bawaan atau disebabkan oleh arteriosklerosis, yang merupakan penimbunan plak di dinding arteri akibat kadar kolesterol yang tinggi.

Kemungkinan penyebab pendarahan otak yang lain adalah cedera kepala, terutama cedera otak traumatis. Tengkorak merupakan bagian kepala yang bersifat keras, namun tengkorak tidak memiliki kemampuan untuk menahan benturan yang terlalu keras. Tergantung pada kekuatan benturan pada kepala, tengkorak dapat mengalami keretakan, dan cedera dapat mencapai otak. Ada kemungkinan tengkorak tidak mengalami keretakan, namun otak dapat mengalami hematoma subdural, atau memar dan pendarahan pada beberapa pembuluh darah yang terletak di antara lapisan otak. Cedera otak sangat berbahaya, terutama bagi pasien yang lanjut usia. Luka ringan akibat terjatuh atau benturan pada kepala sudah dapat menyebabkan pendarahan.

Kondisi lain yang dapat menyebabkan pendarahan otak namun jarang terjadi dan hanya terjadi pada kurang dari 1% warga Amerika Serikat adalah arteriovenous malformation (AVM). Kondisi ini ditandai dengan terikatnya pembuluh darah dan arteri di otak. Arteri mengalirkan darah kaya oksigen ke otak, sedangkan pembuluh darah membawa darah tanpa oksigen ke jantung, kemudian ke paru-paru untuk melepaskan karbon dioksida. Karena terikatnya pembuluh darah dan arteri, fungsi keduanya akan terganggu, sehingga pembuluh darah akan mulai membengkak dan akhirnya pecah. AVM dapat terjadi sejak lahir atau saat pasien sudah dewasa.

Gejala Utama Pendarahan Otak

  • Sakit kepala yang terjadi secara mendadak dan menyakitkan
  • Melemahnya otot atau otot berhenti bekerja
  • Tidak mampu melakukan aktivitas sederhana seperti berbicara dengan benar
  • Perubahan suasana hati
  • Kehilangan ingatan
  • Kepekaan terhadap cahaya
  • Pusing
  • Lumpuh atau mati rasa
  • Hilangnya penglihatan
  • Disorientasi atau kebingungan
  • Leher kaku
  • Merasa tidak enak badan
  • Hilang kesadaran
  • Kejang
  • Penglihatan yang buram
  • Muntah

Berbeda dengan biasanya, pendarahan otak tidak selalu menyebabkan sakit kepala. Bahkan, otak sendiri tidak dapat menyebabkan sakit kepala saat mengalami pendarahan karena otak tidak dapat memahami rasa sakit atau gangguan apapun. Sakit kepala hanya terjadi saat pendarahan terjadi pada daerah di sekitar otak, seperti di meninges.

Selain itu, ada kemungkinan pendarahan sudah terjadi sebelum gejalanya timbul. Hal ini biasanya terjadi pada pasien yang memiliki tekanan darah tinggi. Karena hal ini, hipertensi seringkali disebut sebagai penyakit yang membunuh.

Siapa yang Harus Ditemui dan Pengobatan yang Tersedia

Dokter spesialis otak seperti dokter spesialis saraf dapat mendiagnosis pendarahan otak. Apabila otak harus dioperasi, maka dokter akan bekerjasama dengan dokter bedah.

Ada beberapa cara untuk mendiagnosis pendarahan otak, tergantung pada kondisi pasien. Sebagai contoh, apabila pasien mulai muntah, penglihatannya buram, atau hilang kesadaran setelah terjatuh atau terlibat dalam kecelakaan bermotor, unit gawat darurat akan menyatakan cedera otak sebagai diagnosis awal. Apabila pasien tidak dapat berbicara dengan jelas, kehilangan kekuatan pada lengan, atau menjadi lumpuh, maka dapat dipastikan pasien mengalami pendarahan otak akibat stroke.

Salah satu cara terbaik untuk mendiagnosis pendarahan otak adalah dengan menggunakan pemindaian CT, yang dapat mengambil gambar dari berbagai bagian otak.

Pengobatan untuk pendarahan otak dapat beragam, tergantung pada seberapa parah pendarahan, letak pendarahan, kondisi pasien secara umum, dan lain-lain. Mengobati pendarahan secepat mungkin – yaitu dalam tiga jam setelah timbulnya gejala – akan meningkatkan kemungkinan hasil yang lebih baik.

Biasanya, pengobatan yang pertama dilakukan adalah operasi. Operasi bertujuan untuk mengurangi tekanan pada otak dan mencegah agar arteri tidak menjadi lebih lemah. Operasi juga dapat dilakukan pada pembuluh darah yang rusak.

Apabila pasien bukanlah kandidat yang baik untuk menjalani operasi, langkah selanjutnya adalah memperlambat pendarahan atau menangani gejalanya, seperti sakit kepala.

Langkah pencegahan juga disarankan, terutama bagi pasien yang berisiko terkena hipertensi dan aneurisma. Langkah pencegahan ini meliputi tidak merokok, mengikuti pola makan dengan kadar lemak dan kolesterol yang rendah, berolahraga, dan menjaga agar tekanan darah tidak tinggi.

Rujukan:

  • American Stroke Association: "Let’s Talk About Hemorrhagic Strokes."
Bagikan informasi ini: