Apa Itu Pungsi Lumbar?

Pungsi lumbar (lumbar puncture) adalah tindakan medis yang dilakukan dengan “menusuk” daerah lumbar tulang belakang, biasanya untuk mengumpulkan sampel cairan serebrospinal. Proses ini sering disebut dengan spinal tap.

Tulang belakang, yang juga disebut tulang punggung, terdiri dari vertebra, yang digolongkan menjadi tiga bagian. Tulang belakang leher terdiri dari 7 vertebra, yang ditemukan di sekitar daerah leher. Ini adalah bagian tulang belakang yang paling dekat dengan otak. Di tengah adalah area toraks, yang berada di area dada. Tulang belakang dada terdiri dari lebih sepuluh vertebra. Di bagian terendah adalah tulang lumbar, yang sering disebut sebagai punggung bawah dan memiliki lima vertebra. Empat vertebra dari tulang belakang saling menyatu dan membentuk tulang ekor.

Di tulang belakang juga terdapat kolom berongga yang dikenal sebagai kanal tulang belakang. Di dalamnya ada sumsum tulang belakang, yang terdiri dari sekumpulan saraf. Saraf ini bertindak sebagai pintu gerbang untuk sinyal yang datang dari dan menuju ke otak. Tanpa saraf ini, organ tubuh tidak akan berfungsi dengan baik.

Otak dan tulang belakang sangatlah penting bagi kehidupan, sehingga keduanya harus sangat dilindungi dari cedera atau penyakit. Perlindungan ini diberikan oleh cairan serebrospinal (cerebrospinal fluid/CSF), yang strukturnya sama seperti air dalam tubuh. Cairan ini juga bertanggung jawab untuk menjaga tekanan di otak.

Namun demikian, CSF harus mempertahankan beberapa bentuk keseimbangan supaya dapat berfungsi dengan baik. Misalnya, gula harus 50-75mg/dl. Protein juga harus berada di kisaran 15-45mg/dl. CSF juga memiliki sel-sel darah putih yang tekanan awal harus 70-180mm. Perhatikan, bagaimanapun, jumlah rentangan ini bisa sedikit berbeda tergantung pada laboratoriumnya. Setiap penyimpangan dari angka-angka ini, serta manifestasi lain atau gejala dalam tubuh, bisa mengindikasikan masalah yang memengaruhi otak, tulang belakang, dan sistem saraf.

Siapa Yang Perlu Menjalani Pungsi Lumbar dan Hasil Yang diharapkan

Pungsi lumbar atau spinal tap dapat dilakukan untuk:

  • Mendiagnosa kanker - Spinal tap adalah bentuk biopsi di mana sampel jaringan akan diambil untuk memeriksa adanya sel-sel ganas. Jika ada sel-sel kanker, kemungkinan kanker primer ada di otak, atau ini adalah kanker sekunder, di mana kanker telah menyebar ke tulang belakang dan otak.

  • Menentukan infeksi - Contohnya adalah meningitis, jenis infeksi yang biasanya disebabkan oleh patogen seperti bakteri dan virus. Seseorang yang memiliki meningitis dapat mengalami pembengkakan di otak, yang dapat menyebabkan kerusakan dan kematian jaringan. Meningitis dapat berakibat fatal, karena itu diagnosis awal melalui pungsi lumbal sangat penting.

  • Menghitung nilai komponennya - kondisi tertentu dapat dikonfirmasi, dikesampingkan, atau dievaluasi menggunakan pungsi lumbar. Misalnya, peningkatan tekanan CSF bisa berarti penumpukan tekanan intrakranial, yang berarti ada tekanan tinggi di tengkorak. Hal ini dapat disebabkan oleh tumor otak (jinak atau ganas), aneurisma otak, pendarahan, atau cedera otak traumatis. Angka protein CSF yang lebih tinggi dari normal dapat menunjukkan diabetes, infeksi, atau cedera. Di sisi lain, nilai yang lebih rendah juga dapat dikaitkan dengan masalah kesehatan tertentu. Tekanan CSF rendah dapat disebabkan oleh koma diabetes atau tumor yang tumbuh di tulang belakang.

  • Pemberian anestesi - Biasanya, operasi membutuhkan anestesi, baik total atau lokal. Pada pembiusan lokal, pasien tetap terjaga atau sadar tapi ada bagian tubuh tertentu yang mati rasa. Anestesi dapat dimasukkan di daerah pinggang, yang dapat membuat bagian bawah tubuh mati rasa saat operasi.

  • Memberikan obat - Obat-obatan, terutama yang dimaksudkan untuk tulang belakang lumbar, sebaiknya langsung diberikan ke bagian tubuh yang membutuhkan. Pada kasus tertentu, kemoterapi didistribusikan melalui pungsi lumbar.

Hasil yang diharapkan akan bergantung pada alasan prosedur. Setiap penyimpangan dari nilai-nilai yang ideal bisa menunjukkan adanya atau resiko dari suatu penyakit. Jika pungsi lumbal dilakukan untuk memberikan anestesi, pasien perlu menunggu beberapa jam sebelum dapat kembali menggerakkan tubuh.

Sedang untuk tes, mungkin memakan waktu kurang dari 30 menit untuk menyelesaikan, tetapi hasilnya mungkin tidak bisa langsung didapatkan. Biasanya, jika dimaksudkan untuk mendiagnosa infeksi seperti meningitis, hasilnya bisa didapat dalam waktu 2 hari. Kadang-kadang, jika masalahnya lebih kompleks, pasien bisa menunggu hingga beberapa minggu.

Cara Kerja Pungsi Lumbar

Sebelum prosedur dimulai, dokter akan menilai apakah pasien kandidat yang tepat untuk menjalani prosedur ini. Pasien tidak boleh memiliki gangguan kesehatan yang menyebabkan darah sulit membeku. Pasien juga tidak boleh alergi terhadap anestesi.

Prosedur ini dapat bersifat rawat inap atau rawat jalan. Pasien harus mengenakan baju rumah sakit untuk memudahkan akses dari punggung bawah.

Pertama, area lumbar di mana jarum akan ditusukkan dibersihkan dan dibuat mati rasa dengan anestesi topikal. Pasien akan diminta duduk sambil merunduk ke depan atau berbaring di meja dengan lutut ditarik ke arah dada. Dengan cara ini, tulang belakang akan meluas dan memasukkan jarum menjadi lebih cepat dan lebih nyaman. Tergantung pada tujuannya, obat dapat dimasukkan secara normal melalui kateter atau anestesi digunakan untuk mematikan rasa tungkai tubuh bawah.

Jika dokter kesulitan memasukkan jarum, alat pencitraan seperti scan dapat digunakan untuk memandu jarum. Jika pasien gelisah atau cemas, obat penenang atau bius total dapat diberikan. Setelah prosedur selesai, pasien dapat pulang ke rumah, asalkan tidak melakukan aktivitas fisik yang berat. Obat juga dapat diberikan untuk mengatasi efek samping ringan.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Pungsi Lumbar

Pungsi lumbar umumnya merupakan prosedur yang sangat aman karena hanya boleh dilakukan oleh dokter terlatih. Namun demikian, ada beberapa efek samping yang dapat muncul, termasuk sakit kepala, yang dialami oleh lebih dari 20% dari pasien. Hal ini terjadi ketika beberapa CSF mengalami kontak dengan jaringan. Mungkin pasien juga merasa tidak nyaman selama dan setelah tes, terutama di punggung. Rasa sakit bisa menjalar ke kaki. Meskipun jarang, pendarahan dan cedera pada saraf juga dapat terjadi.

Rujukan:

  • Fischbach FT, Dunning MB III, eds. (2009). Manual of Laboratory and Diagnostic Tests, edisi ke-8. Philadelphia: Lippincott Williams and Wilkins.
Bagikan informasi ini: