Apa itu Terapi Radio Frekuensi?

Terapi radio frekuensi, juga disebut sebagai saraf radio frekuensi, lesi radio frekuensi, atau ablasi radio frekuensi, adalah prosedur untuk mengurangi nyeri pada leher dan nyeri punggung menggunakan gelombang radio. Tindakan ini dapat mengurangi rasa sakit secara efektif untuk jangka waktu 6-9 bulan. Setelah itu, pasien perlu kembali ke rumah sakit atau klinik untuk menjalani terapi lagi.

Nyeri leher dan punggung biasanya disebabkan oleh peradangan sendi facet yang terletak antara tulang belakang, biasanya karena cedera atau penyakit. Saraf yang terletak di sendi facet membawa sinyal rasa sakit ke otak ketika sendi yang mengalami iritasi. Terapi radio frekuensi mencegah sinyal rasa sakit mencapai otak, tetapi prosedur ini hanya dilakukan ketika perawatan untuk menghilangkan nyeri lainnya telah gagal.

Siapa yang Perlu Menjalani Terapi Radio Frekuensi & Hasil yang Diharapkan

Nyeri punggung dan leher bisa terasa sangat sakit, sehingga dapat membatasi pergerakan seseorang, bahkan sampai ke titik tidak bisa bergerak sama sekali. Memberikan obat penghilang rasa sakit biasanya menjadi perawatan pertama yang dilakukan. Namun di saat bentuk perawatan lain terbukti tidak efektif, dokter biasanya menganjurkan pasien menjalani terapi radio frekuensi. Prosedur ini sangatlah tepat bagi mereka yang menderita rasa sakit kronis yang disebabkan oleh cedera, cedera tulang belakang sebelumnya, artritis tulang belakang atau kondisi nyeri neuropatik. Prosedur ini biasanya dianjurkan untuk pasien yang mengalami: * Nyeri pada satu atau kedua sisi punggung mereka * Nyeri yang berasal dari paha tapi tidak melewati lutut * Nyeri yang memburuk ketika memutar tubuh atau mengangkat benda
Meskipun terapi radio frekuensi umumnya efektif dalam meredakan nyeri, efeknya berbeda-beda pada setiap orang. Prosedur ini mungkin lebih efektif untuk beberapa pasien, tapi kurang bagi orang lain. Perlu digarisbawahi, tidak ada dokter yang dapat memprediksi secara akurat tingkat penurunan nyeri bisa dicapai lewat prosedur ini.

Cara Kerja Terapi Radio Frekuensi

Seluruh prosedur dapat diselesaikan dalam beberapa jam dan biasanya dilakukan pada pasien rawat jalan. Sebelum prosedur, beberapa tes akan dilakukan untuk menentukan apakah pasien memenuhi syarat untuk pengobatan. Keberhasilan prosedur sangat bergantung pada kemampuan dokter untuk mencari saraf yang bertanggung jawab untuk rasa sakit, secara tepat. Tes ini melibatkan penyuntikan obat mati rasa ke dalam saraf yang dipercaya oleh dokter untuk memberikan sinyal rasa sakit ke otak. Pasien dianggap cocok menjalani prosedur ini jika rasa sakit berkurang secara signifikan setelah menjalani injeksi.

Meskipun terapi radio frekuensi dianggap prosedur rawat jalan, hal ini tetap memerlukan persiapan. Pasien akan diminta untuk: * Menghindari produk tembakau atau permen karet di hari saat menjalani prosedur * Tidak menggunakan parfum atau lotion sebelum prosedur * Setiap obat harus diambil setidaknya dua jam sebelum prosedur * Pasien harus dijemput usai menjalani prosedur


Saat menjalani prosedur, pasien akan diminta untuk memakai baju rumah sakit dan berbaring telungkup di meja x-ray. Perangkat x-ray yang disebut [fluoroskopi] (https://www.docdoc.com/info/procedure/fluoroskopi) akan digunakan oleh dokter untuk mengidentifikasi lokasi saraf yang tepat dan untuk memandu jarum ke lokasi tersebut. Kebanyakan pasien yang menjalani prosedur ini akan merasa sedikit cemas. Jika diminta, dokter dapat memberikan obat penenang melalui intravena untuk menjaga pasien nyaman dan tenang. Dokter juga akan menyuntikkan bius lokal pada daerah kulit di mana jarum akan ditempatkan, membuat prosedur ini tidak menyakitkan. Setelah jarum masuk, gelombang radio akan dikirimkan melalui jarum ini untuk mencegah sinyal rasa sakit melewati saraf dan mencapai otak. Ketika dokter menyatakan prosedur ini berhasil, pasien akan dipindahkan ke daerah pemulihan untuk beristirahat sebentar, sebelum diizinkan pulang. Daerah di mana jarum dimasukkan akan terasa sakit untuk beberapa waktu, tetapi penggunaan kompres es akan mampu meredakan hal ini. Pasien kemudian akan dilarang mandi selama minimal 24 jam usai prosedur. Pereda nyeri yang ditimbulkan terapi radio frekuensi hanya bersifat sementara, dan hanya bertahan antara 6 sampai 9 bulan. Setelah efeknya mereda, pasien dapat memilih untuk menjalani prosedur yang sama lagi.

Kemungkinan Komplikasi dan Resiko Terapi Radio Frekuensi

Setiap jenis prosedur medis memiliki risiko yang terkait atau kemungkinan komplikasi, apalagi jika dilakukan pada tulang belakang. Efek samping langsung dari terapi radio frekuensi adalah mati rasa sementara atau nyeri pada daerah yang disuntikkan. Ada juga kemungkinan efek samping yang lebih serius atau komplikasi. Ada laporan beberapa kasus kelumpuhan, pendarahan, cedera saraf, infeksi, atau mati rasa yang berlangsung lebih lama dari yang diharapkan.



Rujukan: * Society of Interventional Radiology

Bagikan informasi ini: