Apa itu Penyakit Graves?

Penyakit Graves adalah penyakit yang ditemukan dan dijelaskan pertama kali pada awal abad 19, dan diberi nama sesuai dengan nama penemunya, yaitu Sir Robert Graves. Seiring berjalannya waktu, Penyakit Graves terbukti sebagai salah satu penyakit tiroid yang paling sering terjadi dan juga sebagai penyebab hipertiroidisme (gejala yang berhubungan dengan produksi hormon tiroid yang berlebihan). Meskipun Penyakit Graves tergolong mudah untuk ditangani, akan tetapi penyakit ini cukup sulit untuk dideteksi dan sangat berisiko untuk kambuh. Penyakit ini juga mendorong pada komplikasi serius, bahkan, jika tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan kematian. Selain itu, terkadang penyakit ini dapat berefek buruk pada kesehatan seseorang untuk jangka waktu yang lama.

Penyebab Penyakit Graves

Untuk mengetahui penyebab Penyakit Graves, ada beberapa hal yang sangat penting untuk diketahui terlebih dahulu, yaitu cara kerja kelenjar tiroid dan peran pentingnya dalam tubuh. Kelenjar tiroid ini mengendalikan metabolisme tubuh, atau kecepatan tubuh menghasilkan energi dari asupan makanan, dan untuk mensekresi hormon untuk membantu proses pengendalian metabolisme. Jika kelenjar tiroid tidak berfungsi dengan baik, hal itu dapat membuat kelenjar tiroid memproduksi hormon tiroid menjadi sangat sedikit atau berlebih, sehingga tubuh menjadi tidak seimbang. Jika kelenjar tiroid menghasilkan hormon berlebih, detak jantung penderita akan terasa lebih cepat, gemetar (tremor), berkeringat, dan penurunan berat badan. Proses produksi hormon ini dipicu dan diatur oleh zat kimia yang disebut TSH atau thyroid-stimulating hormone, yang dikeluarkan oleh kelenjar hipofisis, salah satu kelenjar pada otak.

Penyakit Graves terjadi ketika sistem kekebalan tubuh tidak berfungsi dan menyebabkan pelepasan antibodi secara abnormal yang menyerupai fungsi zat kimia TSH. Setelah itu, antibodi akan menghasilkan rangsangan palsu yang menyebabkan kelenjar tiroid memproduksi jumlah hormon secara berlebih. Belum diketahui hal apa yang memicu produksi antibodi tersebut, namun studi menunjukkan bahwa faktor keturunan, faktor lingkungan, dan stres diyakini sebagai penyebabnya. Dua penyebab lain yang memungkinkan sebagai penyebab ialah kehamilan dan infeksi, meskipun kasus tersebut sangat jarang terjadi.

Perempuan dan perokok diyakini lebih rentan terjangkit Penyakit Graves. Meskipun penyakit ini dapat terjadi pada segala usia, dan usia yang paling rentan terjangkit penyakit ini ialah pada usia 20 hingga 30 tahun. Adanya masalah autoimun juga dapat meningkatkan risiko seseorang terkena penyakit ini. Gangguan autoimun yang umum termasuk vitiligo, rheumatoid arthritis, Penyakit Addison, diabetes tipe 1, anemia pernisiosa, dan lupus.

Gejala utama

Gejala yang paling umum pada Penyakit Graves, antara lain:

  • Tiroid membesar, juga dikenal sebagai gondok
  • Kesulitan tidur
  • Gugup
  • Gemetar tangan atau tremor
  • Lekas marah (Emosional)
  • berkeringat secara berlebih
  • Peningkatan sensitivitas terhadap panas
  • Denyut jantung yang cepat
  • Rambut rapuh
  • Gerakan usus yang lebih sering dari biasanya
  • Kesulitan hamil
  • Kelelahan
  • Otot lemas
  • periode menstruasi tidak teratur

Ketika terjadi pada perokok, penyakit ini cenderung menyebabkan gejala yang lebih parah, termasuk masalah pada mata. Masalah pada mata terkait dengan Penyakit Graves dapat menyebabkan otot mata meradang dan jaringan, menyebabkan bola mata untuk menonjol dari soket mata dalam kondisi yang dikenal sebagai exophthalmos. Hal ini belum diketahui secara pasti bagaimana penyakit dan komplikasi ini menyerang bagian mata, dan diyakini tidak ada keterkaitan antara tingkat keparahan penyakit dan seberapa parah penonjolan mata. Semakin parah tonjolan, semakin besar risiko suatu wajah orang mendapatkan infeksi pada mata yang terkena, karena semakin menonjol bola mata, semakin sedikit perlindungan yang mereka dapatkan dari kelopak mata. Dalam kasus yang paling parah, kondisi ini dapat menyebabkan tekanan yang besar pada saraf optik dan dapat menyebabkan kebutaan parsial. Beruntungnya, exophthalmos hanya mempengaruhi sebagian kecil dari semua pasien yang menderita Penyakit Graves.

Beberapa pasien yang menderita Penyakit Graves juga mungkin mengalami myxedema pretibial, yaitu suatu kondisi yang menyebabkan benjolan kemerahan pada kulit, biasanya pada tulang kering atau di atas kaki. Kondisi kulit ini tidak terlalu berdampak serius dan tidak diketahui pula dapat menyebabkan rasa sakit.

Penyakit Graves biasanya didiagnosis dengan menggunakan:

  • Tes Fungsi Tiroid - Ini adalah tes sampel darah yang memeriksa kadar hormon tiroid dan TSH dalam darah. Jika T4 yang tinggi tetapi TSH rendah, ini menunjukan tiroid yang terlalu aktif.

  • Serapan Yodium Radioaktif - Sejak tiroid menggunakan yodium untuk memproduksi hormon tiroid, daya serap yodium yang tinggi merupakan indicator Penyakit Graves.

  • Tes Antibodi - Antibodi tertentu menunjukkan adanya Penyakit Graves, sehingga sampel darah pasien dapat diuji dari antibodi ini.

Tes laboratorium ini mungkin tidak konklusif, itulah sebabnya mengapa dokter biasanya menggabungkan beberapa tes tersebut untuk membuat diagnosis yang akurat. Tantangan lain untuk mendiagnosa secara tepat kondisi ini pada kesamaan antara gejala Penyakit Graves dan gejala kehamilan, yang dapat membuat sulit bagi dokter untuk mendiagnosa penyakit pada wanita hamil.

Siapa yang harus Ditemui & Jenis Pengobatan apa yang Tersedia

Pasien mengalami gejala di atas dapat berkonsultasi dengan {dokter umum](https://www.docdoc.com/id/id/info/specialty/dokter-umum), dokter keluarga, atau dokter penyakit dalam. Jika pasien divonis terjangkit Penyakit Graves, pasien dapat dirujuk kepada dokter spesialis yang menangani penyakit tiroid atau endokrinologi.

Pengobatan untuk Penyakit Graves tersedia dalam tiga jenis:

  • Pembedahan - Perawatan yang paling efektif untuk penyakit Graves adalah operasi pengangkatan tiroid. Ini adalah prosedur aman yang sering direkomendasikan untuk pengobatan tiroid yang terlalu aktif. Namun, karena hormon tiroid memainkan peran kunci dalam tubuh, pasien harus mengkonsumsi suplemen hormon tiroid untuk menggantikan hormon tiroid yang tidak lagi diproduksi oleh tubuh.

  • Obat Antitiroid - Ada obat yang menghambat produksi hormon tiroid secara berlebih. Saat ini ada dua obat yang digunakan untuk menangani hal ini, yaitu methimazole (MMI) atau propylthiouracil (PTU). MMI adalah salah satu pilihan obat yang lebih aman untuk pasien yang sedang hamil. Obat ini hanya dapat digunakan sampai 2 tahun. Dalam beberapa kasus, fungsi tiroid menjadi normal bahkan ketika asupan obat dihentikan. Namun, ada kasus di mana kemunculan produksi hormon yang tepat terjadi setelah pemakaian obat tersebut dihentikan.

  • Yodium Radioaktif - RAI adalah bentuk yodium yang memberikan dosis radiasi yang menyebabkan beberapa kerusakan sedikit untuk tiroid. Ketika ini terjadi, tiroid akan menghasilkan lebih sedikit hormon. RAI adalah pengobatan yang biasa digunakan untuk menangani Penyakit Graves dan tidak diketahui memiliki efek berbahaya pada tubuh.

  • Beta-blocker - Beberapa dokter juga merekomendasikan Beta-blocker, yaitu metode pengobatan dengan menghambat kerja hormon, tetapi tidak untuk menghambat jumlah produksi hormon. Hal ini berarti bahwa jika tiroid terus memproduksi hormon secara berlebih, hormon tidak akan menyebabkan kerusakan dalam tubuh. Hal ini efektif dalam mengobati gejala yang dialami oleh pasien Penyakit Graves. Akan tetapi, hal ini hanya digunakan sebagai pengobatan sekunder dan membantu dalam menjaga pasien tetap merasa nyaman dan merasa baik ketika menunggu pengobatan utama bekerja.
    Rujukan:

  • Bahn RS, Burch HB, Cooper DS, et al. Hyperthyroidism and other causes of thyrotoxicosis: Management Guidelines of the American Thyroid Association and American Association of Clinical Endocrinologists. Endocr Pract. 2011;17:457-520.

  • Cockerman KP, Chan SS. Thyroid eye disease. Neurol Clin. 2010;28:729-755.

  • Mandel SJ, Larsen PR, Davies TF. Thyrotoxicosis. In: Melmed S, Polonsky KS, Larsen PR, Kronenberg HM. Williams Textbook of Endocrinology. 12th ed. Philadelphia, PA: Elsevier Saunders; 2011:chap 12

Bagikan informasi ini: