Apa itu Sakit?

Sakit adalah istilah untuk keadaan buruk pada pikiran, tubuh, dan hal lain seperti jiwa. Sakit adalah perasaan umum saat seseorang merasa sakit atau tidak enak badan (keadaan seseorang selain dari sehat).

Banyak orang cenderung mengartikan sama antara sakit dan penyakit, padahal keduanya sangatlah berbeda. Penyakit adalah kondisi buruk pada organ atau bagian tubuh tertentu yang disebabkan oleh mikro organisme berbahaya seperti bakteri, virus, luka, ketidakseimbangan kimiawi dalam tubuh, terkena racun, dan munculnya sel tidak sempurna. Contoh dari penyakit antara lain, kanker, patah tulang, diabetes, sirosis, psoriasis, dan sebagainya. Istilah yang sama juga digunakan untuk gangguan jiwa seperti berkepribadian ganda, pemurung, dan schizophrenia.

Di sisi lain, sakit adalah reaksi dari tubuh terhadap penyakit. Hal tersebut dapat ditunjukan dengan lelah, demam, pegal-pegal, atau pengelihatan yang buram, serta tekanan darah tidak normal dan jantung berdebar kencang. Hal tersebut menandakan pasien merasa, atau akan mengalami sakit, bahkan dapat terjadi tanpa adanya penyakit.

Perbedaan yang lain antara penyakit dan sakit adalah pada spesifikasinya. Sebuah penyakit didasari oleh gejala yang spesifik atau kriteria yang dicari oleh seorang dokter ketika seorang pasien dirujuk ke klinik atau rumah sakit untuk di uji. Sementara itu, sakit bisa mengacu untuk berkembang menjadi penyakit. Akan tetapi, dikarenakan sebagian besar adalah rasa atau sensasi, sakit bisa dirasakan berbeda-beda oleh pasien.

Penyebab-penyebab Sakit

Sakit bisa disebabkan oleh sejumlah faktor sebagai berikut;

  • Kemunculan penyakit – Biasanya, sakit terjadi karena menjadi awal mula penyakit. Tubuh dirancang untuk menghasilkan respon alami terhadap kejanggalan atau ancaman, baik itu bakteri, virus, atau produksi pada sel yang tidak sempurna secara berlebihan. Akan tetapi dalam prosesnya, sel mempunyai reaksi yang dapat membuat seseorang merasa sakit. Sebuah contoh yang tepat ialah alergi. Alergi berkembang ketika proses sistem pertahanan tubuh sedang membunuh atau melepaskan histamin, Akan tetapi, seseorang bisa juga terkena penyakit tanpa ada merasakan sakit terlebih dahulu. Penyakit tersebut seperti HIV, AIDS, dan kanker membutuhkan waktu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun untuk membuat seseorang merasa sakit.

  • Hipokondriasis – Hipokondriasis adalah penyebab seseorang mendapatkan ‘rasa sakit’ walaupun bukan penyakit. Hal ini adalah kondisi yang mengacu pada ketidaknormalan atau kekhawatiran tingkat lanjut ketika tekena penyakit. Sebuah perubahan sederhana pada suhu tubuh bisa disebabkan oleh hipokondria sebagai demam atau gejala penyakit serius seperti kanker. Sekarang, hipokondriasis lebih didukung oleh Internet. Seseorang dapat mengetahui dengan mudah dan cepat mencari informasi mengenai gejala secara mandiri atau self-diagnose.

  • Stress – Stress adalah respon alami tubuh sebagai pemicu. Tubuh dirancang untuk mengambil tindakan hadapi atau hindari (fight-or-flight) ketika situasi stress terjadi. Selain itu dapat memicu detak jantung, tekanan darah, dan juga dapat menghasilkan hormon disebut kortisol, yang dapat membuat seseorang sakit ketika stress memburuk.

  • Kurang Gizi – Tubuh sebagai struktur yang kompleks, membutuhkan berbagai jenis enzim, vitamin, mineral, dan nutrisi mikro dan makro yang lainnya sehingga tubuh berfungsi dengan baik. Dalam jangka panjang, jika tubuh kekurangan salah satu dari hal tersebut, maka tubuh akan merasa sakit.

Dalam pengobatan alternative, seperti Pengobatan Tradisional Cina (CTM), sakit daoat disebabkan dari terhambatnya aliran energi (chi).

Gejala Utama

Gejala utama dari sakit adalah:

  • Pusing
  • Diare
  • Nyeri Dada
  • Cemas
  • Lemas/Lelah
  • Detak Jantung dan Tekanan Darah tidak normal
  • Pandangan Kabur
  • Gemetar

Gejala-gejala tersebut dapat mengacu pada beberapa jenis penyakit, atau hal tersebut dapat menjadi lebih parah tergantung seseorang mengartikan sakitnya.

Siapakah yang Harus Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Dokter Umum adalah orang pertama yang dapat memeriksa dan menangani sakit. Untuk anak-anak, dokter akan merujuknya kepada Dokter Anak. Sedangkan untuk orang dewasa, dapat dirujuk ke Dokter Penyakit Dalam.

Selama konsultasi awal, dokter akan memperhatikan catatan medis pasien dan bahkan riwayat penyakit keluarga, dan seluruh perasaan. Setelah itu, tes standar akan dilakukan untuk hasil pemeriksaan (diagnosis) yang lebih akurat. Hal tersebut termasuk CBC atau tes darah lainnya, tes urine, analisis feses, dan sinar X. Jika hasil tidak dapat disimpulkan atau tidak cukup untuk membuat hasil pemeriksaan, pemeriksaan yang lebih lengkap seperti CT scan atau MRI, USG, dan probe (misalnya, kolonoskopi, endoskopi, dll) pun dapat dilakukan.

Berdasarkan gejala, riwayat penyakit keluarga, dan hasil dari beberapa pengujian, kemudian dokter umum akan membuat hasil pemeriksaan. Tergantung pada kondisinya, dokter umum akan menganjurkan rencana pengobatan atau merujuk pasien ke dokter spesialis seperti dokter spesialis ortopedi, ahli terapi fisik, ahli jantung, ahli saraf, ahli onkologi, dan ahli nephrology.

Untuk pasien yang menderita hipokondriasis, akan sangat bermanfaat jika pasien tersebut mendapatkan dukungan mental yang tepat atau bimbingan dari ahli psikologi berdasarkan tingginya kecemasan yang mendesak mereka untuk menjalani uji medis dan pengobatan yang tidak diperlukan atau bahkan yang berisiko.

Akan tetapi, masing-masing sakit, memiliki risiko tersendiri. Karena perasaan pada umum dan sesuatu yang lebih pribadi, seseorang mungkin merasa baik bahkan jika penyakit ini masih ada. Hal tersebut menjelaskan bahwa keadaan mental seseorang berperan lebih penting daripada keadaan tubuh, serta bagaimana placebo efek (juga disebut dummy atau pil yang tidak berbahaya) dapat mengubah keadaan sebuah penyakit.

Pasien yang merasa sehat, padahal dalam keadaan sebaliknya dapat menyebabkan resistensi obat di masa depan. Pasien akan berhenti mengkonsumsi obat segera setelah merasa baikan.Pada saat itu, bagaimanapun, bakteri atau virus tidak sepenuhnya mati. Bahkan bisa lebih buruk lagi, jika virus atau bakteri tersebut dapat bermutasi dan beradaptasi dengan obat. Hal tersebut dapat mencegah mereka dari mencari intervensi medis.

Oleh karena itu, penting bagi penyedia layanan kesehatan melakukan pelayanan menyeluruh, dibandingkan hanya sekedar pemeriksaan saja. Mereka juga harus mendorong pasiennya untuk mencari penanggulangan secara rutin, meskipun tidak memiliki penyakit. Dengan cara ini, penyakit dapat diketahui lebih awal. Dokter juga harus mendidik pasiennya untuk dapat menyadari bahwa tubuhnya ada dalam keadaan normal. Hal tersebut dilakukan untuk mencegah mereka dari meminta pengobatan yang tidak diperlukan.

Rujukan:

  • Center for Disease Control and Prevention. http://www.cdc.gov/
Bagikan informasi ini: