Apa itu Penyempitan Arteri Usus?

Semua organ tubuh, termasuk usus, membutuhkan darah agar dapat berfungsi dengan normal dan tetap sehat. Usus menerima darah dari tiga pembuluh darah utama yang dikenal sebagai arteri mesenterika, yang terdiri dari arteri mesenterika superior dan inferior serta arteri seliaka.

Seperti arteri lain, arteri mesenterika juga rentan mengalami penyempitan akibat penyakit, sehingga darah tidak dapat mengalir ke usus. Saat terjadi penyempitan, jaringan arteri lama-kelamaan akan mati dan mengancam nyawa pasien.

Penyakit ini dikenal sebagai sindrom iskemia usus atau sindrom mesenterika iskemia. Kebanyakan kasus penyakit ini terjadi karena penggumpalan darah atau penimbunan plak di dinding pembuluh darah. Akibatnya, arteri mulai menyempit dan jumlah darah yang mengalir akan berkurang banyak atau darah malah tidak dapat mengalir sama sekali.

Sindrom iskemia usus dapat terjadi secara mendadak (akut) atau berkembang secara perlahan (kronis). Karena dapat menyerang kolon dan usus kecil, maka penyakit ini dikategorikan menjadi tiga jenis: iskemia kolon, iskemia akut, dan iskemia kronis. Iskemia usus akut biasanya menyerang usus kecil dan harus segera ditangani. Iskemia kronis yang masih berada dalam stadium awal dan dapat disembuhkan dengan mengubah gaya hidup dan tanpa pengobatan. Namun, iskemia kronis yang menyebabkan kerusakan yang parah pada jaringan usus harus ditangani. Pengobatan dapat meliputi operasi pengangkatan bagian usus yang sakit.

Ada jenis lain dari iskemia usus, yaitu trombosis vena mesenterika. Walaupun jarang terjadi, penyakit ini akan menyebabkan penyempitan atau penyumbatan pada vena mesenterika. Pembuluh darah ini berfungsi untuk mengalirkan darah yang tidak mengandung oksigen ke jantung. Apabila terjadi penyumbatan, maka darah akan mengalir kembali ke usus dan menyebabkan peradangan atau pendarahan. Penyakit ini juga dapat mengakibatkan pankreatitis, kanker saluran pencernaan, gangguan darah, atau trauma pada perut.

Sindrom iskemia usus dapat terjadi pada pasien dari segala usia, namun lebih banyak ditemukan pada pasien yang berusia 60 tahun ke atas.

Penyebab Penyempitan Arteri Usus

Penyebab utama dari sindrom iskemia usus adalah lemak dan plak di dinding arteri atau gumpalan darah dari yang jantung yang menyumbat lebih dari satu arteri mesenterika. Apabila terjadi penyempitan atau penyumbatan pada arteri, maka sel tubuh tidak dapat menerima oksigen. Akibatnya, sel tubuh akan melemah dan mati.

Apabila jumlah sel yang mati terus bertambah, maka usus akan mengalami kerusakan. Kerusakan usus yang sangat parah dapat menyebabkan infeksi atau lubang pada dinding usus. Kondisi ini dapat menjadi fatal apabila tidak segera ditangani.

Iskemia kolon biasanya terjadi karena beberapa faktor, misalnya penimbunan kolesterol di arteri, penyakit yang menyerang darah, obat yang menyebabkan pembuluh darah menyempit, mengonsumsi obat yang ilegal, atau terlalu sering berolahraga.

Gejala Utama Penyempitan Arteri Usus

Pasien iskemia usus biasanya akan mengalami gejala tertentu, tergantung pada jenis penyakit yang diderita. Pasien iskemia kronis biasanya mengalami diare dan nyeri perut, terutama sehabis makan. Sedangkan pasien iskemia akut kemungkinan akan mengalami nyeri perut yang sangat menyakitkan dan terjadi secara mendadak, diare, dan muntah. Beberapa pasien juga mengalami pendarahan di saluran gastrointestinal. Gejala lain adalah demam, mual, perut kembung, perut terasa lunak, dan penurunan berat badan yang tidak diketahui penyebabnya.

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Iskemia usus adalah penyakit yang serius. Pasien sebaiknya mencari pertolongan medis apabila mulai merasakan gejala yang telah disebutkan di atas. Saat konsultasi awal, dokter akan memeriksa riwayat kesehatan pasien, membahas gejala yang dialami, dan melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa tes pencitraan juga akan dilakukan, misalnya CT-scan, MRI, rontgen, atau ultrasound. Apabila dokter mencurigai adanya iskemia usus, maka magnetic resonance angiography (MRA) juga akan dilakukan untuk memeriksa pembuluh darah. Dalam beberapa kasus, dokter dapat melakukan arteriogram untuk memeriksa dinding bagian dalam dari pembuluh darah.

Hasil tes dapat digunakan oleh dokter untuk mendiagnosis penyakit serta menilai tingkat keparahannya, yang merupakan faktor utama yang dipertimbangkan dalam menentukan metode pengobatan. Iskemia usus yang masih dalam stadium awal dapat tidak harus diobati. Penyakit dapat disembuhkan dengan mengubah gaya hidup, misalnya mengubah pola makan, berhenti merokok, dan mengurangi konsumsi alkohol.

Sedangkan operasi dapat dilakukan apabila penyakit telah memburuk dan menyebabkan kerusakan yang parah pada dinding usus. Tujuan dari operasi adalah menghilangkan gumpalan darah, memperlebar arteri, atau mengangkat bagian usus yang sakit.

Tindakan yang biasanya dilakukan untuk menangani penyakit ini adalah angioplasti. Dokter akan memasukkan kateter dengan balon ke bagian arteri yang menyempit. Kemudian, balon akan terus dipompa dan dikempiskan sampai arteri tidak tersumbat. Untuk menjaga arteri tetap terbuka dan terhindar dari kerusakan, belat akan dipasangkan oleh dokter.

Apabila arteri telah mengeras dan terlalu sempit, maka usaha untuk memperlebar arteri dan memasang belat akan sia-sia. Dalam kasus seperti ini, dokter akan melakukan bypass, yaitu mengambil pembuluh darah dari bagian tubuh lain untuk membuat saluran baru melalui bagian arteri mesenterika yang tersumbat.

Pengobatan iskemia usus kronis memiliki tingkat keberhasilan yang tinggi. Sebagian besar pasien yang menjalani pengobatan dapat disembuhkan dan tetap hidup sehat, asalkan mereka mengubah gaya hidupnya. Sayangnya, iskemia usus akut justru memiliki tingkat kematian yang tinggi. Statistik menunjukkan bahwa ada lebih dari 60% pasien iskemia usus akut yang akhirnya meninggal. Namun, penyebab utama dari tingginya tingkat kematian adalah banyak pasien yang terlambat ditangani. Dalam kebanyakan kasus, pasien mendapatkan pengobatan setelah sebagian besar jaringan ususnya telah mati dan ada komplikasi lain.

Rujukan:

  • Hauser SC. Vascular diseases of the gastrointestinal tract. In: Goldman L, Schafer AI, eds. Cecil Medicine. 24th ed. Philadelphia, Pa: Saunders Elsevier; 2011:chap 145.
Bagikan informasi ini: