Apa itu Ulkus Peptik?

Ulkus peptik adalah lubang atau peradangan terbuka yang muncul saat lapisan dalam perut (ulkus gastrik) atau bagian atas usus kecil (ulkus duodenal) rusak akibat cairan asam pencernaan.

Dalam keadaan normal, tubuh menggunakan beberapa zat untuk melindungi sistem pencernaan terhadap beberapa penyakit dan gangguan, termasuk ulkus. Lapisan pertahaan utama sistem pencernaan adalah lapisan mukus, yang melapisi lambung dan usus dua belas jari serta menetralisir cairan asam pencernaan dengan menyekresikan bikarbonat. Tubuh juga menghasilkan prostagladin, zat seperti hormon yang membantu memastikan aliran darah lancar, menstimulasi produksi bikarbonat, dan mencegah cedera. Namun, sistem pertahanan tersebut bisa terganggu saat produksi cairan asam berlebihan. Jika terjadi, cairan asam pencernaan dapat merembes masuk ke lapisan dalam lambung dan usus dua belas jari, yang menimbulkan ulkus peptik.

Ulkus peptik sangat umum ditemui. Ada jutaan orang di seluruh dunia dan sekitar 10% dari populasi Amerika Serikat yang menderita penyakit ini. Akan tetapi, penyakit ini jarang menjadi hal yang serius dan dapat ditangani dengan mengonsumsi obat. Jika dibiarkan begitu saja, penyakit ini dapat menyebabkan masalah kesehatan parah seperti perforasi gastrik atau usus dua belas jari, obstruksi gastrik, hemoragik saluran pencernaan bagian atas, dan striktur pada lokasi ulkus.

Penyebab Ulkus Peptik

Dulu, banyak yang mengira bahwa ulkus peptik disebabkan oleh faktor gaya hidup seperti merokok, kebiasaan makan tidak sehat, dan stres tingkat tinggi. Namun, di tahun 1982, dua peneliti Australia yang bernama Barry J. Marshall dan J. Robbin Warren mengidentifikasi bahwa infeksi bakteri Helicobacter pylori (H. Pylori) sebagai penyebab utama ulkus peptik. Kedua peneliti tersebut mendapatkan Nobel Prize di bidang kedokteran di tahun 2005 atas penemuannya.

H. Pylori adalah jenis bakteri yang dapat masuk ke tubuh akibat mengonsumsi makan dan minuman serta peralatan makan yang terkontaminasi. Bakteri ini dapat bertahan pada lingkungan yang sangat asam dan menghindari deteksi sistem kekebalan tubuh dengan mengganggu faktor imun tertentu.

Saat dipicu oleh faktor tertentu, bakteri ini dapat menghasilkan beberapa racun yang dapat memicu peradangan dan merusak lapisan dalam lambung dan usus.

Peradangan pada lapisan dalam lambung dan usus juga dapat disebabkan oleh konsumsi obat jangka panjang, terutama obat pereda nyeri seperti ibuprofen dan sodium naproxen. Risiko muncul ulkus peptik juga meningkat, jika obat-obat tersebut dikonsumsi bersamaan dengan:

  • Alendronate dan risedronate - Obat yang digunakan untuk mencegah atau mengobati osteoporosis yang disebabkan oleh menopause dan steroid.

  • Antikoagulan - Obat yang membantu mencegah penggumpalan darah. Obat ini diresepkan pada pasien yang didiagnosa atau sedang menjalani pengobatan untuk masalah jantung dan katup, seperti stroke dan trombosis vena dalam.

  • Aspirin dosis rendah

  • Selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) - Obat yang digunakan untuk meredakan kecemasan dan gangguan depresif parah lainnya.

  • Berbagai jenis steroid

Penting untuk diingat bahwa tidak semua orang dengan H. pylori dalam tubuhnya akan menderita ulkus peptik. Ini karena, mereka tidak memiliki faktor pemicu tertentu. Faktor yang dimaksud, antara lain:

  • Faktor genetik - Beberapa orang tidak memiliki gen tertentu yang membuat bakteri H. pylori semakin ganas dan meningkatkan risiko ulkus peptik

  • Abnormalitas respon imun intestinal

  • Faktor gaya hidup, yang termasuk stres kronis dan merokok

  • Tidur yang terganggu - Penelitian menemukan bahwa bekerja pada sif malam dapat melemahkan kemampuan sistem kekebalan tubuh melawan patogen

Ada juga faktor lain yang menjadi pemicu, namun jarang ditemui, seperti:

  • Konsumsi alkohol berlebihan

  • Cedera fisik

  • Luka bakar

  • Terapi radiasi

  • Infeksi virus atau bakteri

Gejala Utama Ulkus Peptik

Gejala ulkus peptik, antara lain:

  • Rasa lapar yang intens antara satu hingga tiga jam setelah makan

  • Bersendawa

  • Kembung

  • Gejala yang sama seperti Gastroesophageal Reflux Disease (GERD)

  • Sulit mencerna

  • Muntah

  • Nyeri seperti terbakar pada perut bagian atas atau nyeri tajam pada perut tengah

  • Nyeri ulkus dapat menyebar ke dada atau punggung

  • Anemia

  • Turunnya berat badan

  • Kelelahan

Siapa yang Perlu Ditemui dan Jenis Pengobatan yang Tersedia

Pasien yang mengalami nyeri perut yang tidak kunjung hilang, sendawa, dan kembung perlu berkonsultasi dengan dokter umum atau penyakit dalam untuk memperoleh diagnosis dan pengobatan.

Untuk mendiagnosis ulkus peptik dan mengeluarkan kemungkinan pasien menderita kondisi medis lain dengan gejala yang sama, dokter akan melaksanakan pemeriksaan fisik serta mengulas riwayat kesehatan pasien. Beberapa tes diagnosis juga dapat dilakukan, seperti:

  • Tes nafas urea - Ini adalah tes diagnostik non-invasif yang sangat bermanfaat dan menjadi pilihan bagi pasien yang dicurigai menderita ulkus peptik. Tes ini diciptakan berdasarkan kemampuan H. pylori untuk mengubah urea menjadi karbon dioksida dan amonia. Untuk prosedur ini, pasien akan menelan kapsul atau minuman berperisa yang mengandung karbon radioaktif. Kemudian, pasien diminta membuang napas pada kantung plastik. Napas yang dibuang akan di tes. Jika urea terpecah dan berubah menjadi karbon dioksida, ini menunjukkan keberadaan H. pylori dalam lambung dan usus.

  • Pemeriksaan rektum, tes darah pada tinja, dan tes hitung darah lengkap - Tes ini dilakukan untuk mendeteksi perdarahan. Jika tes ini dikombinasikan dengan tes napas urea, maka biasanya cukup untuk membantu dokter menghasilkan diagnosa yang akurat.

  • Endoskopi - Dalam beberapa kasus, endoskopi dilakukan untuk mengevaluasi lambung dan usus dua belas jari menggunakan tabung tipis dengan video camera yang melekat di ujungnya. Namun, karena endoskopi lebih invasif dan mahal dibandingkan tes napas urea serta tidak cocok untuk dilakukan pada pasien dengan dispepsia, tes ini jarang dianjurkan untuk mendiagnosa ulkus peptik. Namun, tes ini dapat dilakukan jika ada perdarahan dan saat menilai efektivitas pengobatan.

Pengobatan ulkus peptik termasuk:

  • Antibiotik - H. pylori sangat sensitif terhadap amoxicilin dan antibiotik lainnya termasuk tetracycline, ciprofloxacin, dan metronidazole.

  • Proton pump inhibitor - Pengobatan ini bekerja dengan meredakan asam lambung yang dapat menghilangkan gejala secara langsung.

  • Antasida - Menetralisir asam dan melindungi lambung dengan meningkatkan produksi mukosa dan sekresi bikarbonat.

  • Agen sitoprotektif - Melindungi jaringan yang melapisi lambung dan usus halus bagian dalam.

Pasien yang berisiko tinggi mengalami perdarahan ulkus biasanya perlu diobati di rumah sakit dimana fungsi vitalnya didukung dengan transfusi darah dan penggantian cairan. Bergantung pada tingkat keparahan kondisi, pasien mungkin perlu menjalani bedah lambung besar, seperti:

  • Antrektomi - Melibatkan pengangkatan lambung bagian barah yang merangsang cairan pencernaan.

  • Pyloroplasty - Bertujuan untuk memperbesar pembukaan usus halus agar isi lambung dapat melewatinya dengan lebih mudah.

  • Vagotomi - Prosedur yang memotong saraf vagus untuk menghentikan sekresi asam di perut.

Rujukan:

  • Taha AS, McCloakwy C, Prasad R, Bezlyak V. Famotidine for the prevention of peptic ulcers and oesophagitis in patients taking low-dose aspirin (FAMOUS): A phase III, randomized, double-blind, placebo-controlled trial. Lancet. 2009:doi: 10.1016/S0140-6736(09)61246-0.

  • Take S, Mizuno M, Ishiki K, et al. Baseline gastric mucosal atrophy is a risk factor associated with the development of gastric cancer after Helicobacter pylori eradication therapy in patients with peptic ulcer disease. J Gastroenterol. 2007;42(suppl 17):21-27.

  • Peptic ulcer disease and H. pylori. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. http://www.niddk.nih.gov/health-information/health-topics/digestive-diseases/peptic-ulcer/Pages/overview.aspx.

  • Peptic ulcer disease and NSAIDs. National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases. http://www.niddk.nih.gov/health-information/health-topics/digestive-diseases/peptic-ulcer/Pages/overview.aspx.

Bagikan informasi ini: