Apa itu Herniasi Diskus?

Herniasi diskus, yang juga dikenal sebagai diskus tergelincir, adalah kondisi medis yang melibatkan sobekan pada cincin luar diskus tulang belakang. Pada beberapa kasus, cincin luar ini mungkin tidak sobek, namun mengalami kerusakan yang sama yang menyebabkan gejala yang sama. Diskus tulang belakang berfungsi sebagai antal penyokong tulang belakang, yang dapat membentuk struktur tulang belakang ketika ditumpuk bersamaaan.

Meskipun sering disebut sebagai diskus tergelincir, istilah ini tidaklah akurat karena diskus tidak benar-benar tergelincir.

Diskus tulang belakang memiliki bagian luar yang tebal dan kokoh yang melindungi bagian tengah yang lembut dan seperti agar-agar. Ketika bagian luar dari diskus rusak, bagian tengah ini akan menonjol keluar, dan kondisi ini lah yang dikenal sebagai herniasi diskus. Kondisi ini dapat sangat menyakitkan karena memengaruhi saraf di dekatnya.

Kondisi ini umumnya terjadi pada lansia karena diskus tulang belakang mengalami degenerasi dari waktu ke waktu, yang menyebabkan cincin luarnya lebih rentan terhadap kerusakan. Trauma, keseleo, dan cedera adalah beberapa penyebab yang paling umum. Kondisi ini juga dapat disebabkan oleh munculnya tonjolan diskus, yaitu kondisi yang melibatkan keluarnya bagian tengah diskus yang lembut, meskipun bagian luar cincin tetap utuh.

Dengan perawatan dan pengobatan yang tepat, kasus ringan dapat disembuhkan dalam beberapa minggu. Namun, kasus yang lebih serius biasanya membutuhkan pengobatan yang lebih berat, seperti operasi dan terapi fisik, sebelum pasien terbebas dari gejala kondisi ini.

Penyebab Herniasi Diskus

  • Degenerasi cincin luar fibrosa di antara tulang belakang – Seiring waktu, jaringan pada bagian luar yang kokoh akan melemah, dengan bagian tengahnya yang semakin kaku. Perubahan pada keutuhan struktur diskus tulang belakang menyebabkan retakan dan pecahan, sehingga menyebabkan herniasi
  • Kerusakan atau sobekan umum
  • Pekerjaan yang membutuhkan kekuatan fisik seperti mengemudi, jongkok, mengangkat beban, atau duduk
  • Melakukan olahraga profesional yang memerlukan kekuatan fisik
  • Kegiatan atau gerakan sederhana seperti membungkuk atau mengangkat sesuatu, yang dapat memberikan tekanan berlebihan pada tulang belakang
  • Persistiwa yang bersifat traumatik, seperti tergelincir, jatuh, atau hantaman pada tulang belakang

Gejala Umum Herniasi Diskus

Pada kasus herniasis diskus ringan, gejalanya dapat diabaikan. Terdapat kasus ketika pasien tidak menyadari gejalanya, dan menemukan kondisinya ketika menjalani tindakan pencitraan. Hal ini terjadi karena diskus yang terpengaruh tidak mengganggu atau menyentuh saraf di sekitarnya. Namun, herniasi diskus tulang belakang yang mempengaruhi leher (servikal) atau punggung bawah (lumbar tulang belakang) dapat sangat menyakitkan.

Nyeri kaki atau lengan merupakan salah satu gejala herniasi diskus yang paling umum. Sementara itu, herniasi pada tulang belakang lumbal dapat menyebabkan rasa sakit pada bokong, betis, dan paha, serta beberapa bagian kaki. Ketika nyeri muncul pada bahu dan lengan, herniasi diskus biasanya terletak pada daerah tulang belakang leher. Nyeri menjadi lebih jelas atau sering ketika pasien bergerak dengan cara tertentu yang membahayakan tulang belakang, atau ketika pasien batuk atau bersin.

Bagian tubuh tertentu juga dapat mengalami mati rasa karena kondisi ini. Hal ini disebabkan oleh saraf disekeliling herniasi diskus. Beberapa pasien juga melaporkan kesemutan pada bagian tubuh tertentu, yang disebabkan oleh bagian tengah diskus tulang belakang yang menonjol yang mengganggu saraf di sekitarnya.

Pada kasus yang lebih serius, pasien dapat mengalami melemahnya kaki dan tangan. Pasien dapat tersandung saat berjalan atau berdiri atau merasa lemah saat menggenggam atau memegang benda. Refleks dan kekuatan otot juga dapat terpengaruh.

Jika diskus yang terpengaruh terletak pada tulang belakang lumbal, pasien dapat menderita linu panggul karena jaringan lunak yang menggembung menyerang saraf skiatik. Skiatika melibatkan linu yang dimulai dari bagian belakang sampai tungkai dan kaki.

Biasanya, rasa sakit yang disebabkan oleh herniasi diskus terus dirasakan oleh pasien, dan tidak lah seperti nyeri yang berselang seperti kejang otot. Nyeri ini, yang sering terisolasi pada salah satu bagian tubuh, juga mungkin berlangsung terus-menerus jika pasien dalam posisi tubuh tertentu yang memperburuk saraf yang mengelilingi herniasi diskus.

Dalam kasus herniasi yang lebih berat, pasien dapat mengalami nyeri pada kedua sisi tubuhnya. Hal ini merupakan bentuk herniasi diskus tulang belakang yang lebih serius dan harus segera diobati untuk mencegah berkembangnya gejala. Herniasi diskus serius dapat menyebabkan kerusakan saraf, dan kehilangan kontrol pada fungsi usus dan kandung kemih. Disfungsi seksual juga dapat menjadi gejala kondisi ini yang tidak menyenangkan.

Ketika pasien mengalami gejala yang digambarkan di atas, sebaiknya pasien berkonsultasi dengan dokter keluarga atau umum untuk menentukan apakah herniasi diskus adalah penyebab gejala yang ada. Kemudian, dokter dapat merujuk pasien ke dokter spesialis pengobatan atau rehabilitasi fisik, atau jika operasi diperlukan, pasien dapat dirujuk ke ahli bedah ortopedi atau saraf.

Pada banyak kasus herniasi diskus tulang belakang, pasien tidak akan memerlukan operasi untuk mengatasi kondisinya. Kebanyakan dokter ahli akan meresepkan obat sebagai pengobatan awal. Nyeri ringan hingga sedang dapat diatasi dengan obat yang dijual bebas, seperti naproksen atau ibuprofen.

Jika nyeri tidak berkurang oleh obat nyeri yang dijual bebas, dokter dapat meresepkan obat narkotika untuk mengatasi nyeri. Obat nyeri saraf juga merupakan alternatif untuk pasien yang tidak dapat mengonsumsi narkotika dengan alasan apapun. Obat lainnya termasuk suntikan kortison dan relaksan otot.

Terapi fisik juga merupakan pilihan yang paling bagus untuk pasien yang tidak ingin mengonsumsi obat apa pun dan ingin hasil pengobatan yang berjangka panjang. Operasi adalah jawaban terakhir untuk kasus herniasi diskus yang lebih serius.

Rujukan:

  • Chou R, Atlas SJ, Stanos SP, Rosenquist RW. Nonsurgical interventional therapies for low back pain: a review of the evidence for an American Pain Society clinical practice guideline. Spine. 2009;34(10):1078-93. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19363456

  • Jegede KA, Ndu A, Grauer JN. Contemporary management of symptomatic lumbar disc herniation. Orthop Clin North Am. 2010;41:217-224.http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/20399360

Bagikan informasi ini: